
Tasya yang baru masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas air minuman untuk Jordan, dia terkejut ketika melihat Jordan tak sadarkan diri, dia pun menyimpan gelas tersebut diatas meja, lalu berlari menghampirinya Jordan.
"Jordan, kamu kenapa? Bangun Jordan!" Tasya mengguncang-guncang tubuh Jordan yang tengah tak sadarkan diri itu m
Akan tetapi dia dibuat kaget ketika melihat Jordan terbangun, sorot matanya begitu tajam, sangat menyeramkan sekali.
"Jo-Jordan..."
Jordan belum bisa mengendalikan dirinya, 70 persen tubuhnya dikuasai oleh iblis yang ada di dalam cicin tersebut, sehingga dia pun mencekik leher Tasya.
Tasya berusaha untuk berontak, sampai dia nekad meraih vas bunga yang ada di atas meja.
Prang...
Tasya memukulkan vas bunga tersebut ke kepala Jordan.
Namun, apa yang terjadi?
Tasya nampak tercengang ketika melihat kepala Jordan tak terluka sedikitpun, bahkan Jordan sama sekali tidak merasa kesakitan, seakan tubuhnya begitu kebal dan tak bisa terluka sama sekali.
"Arrrgghh!" Jordan menggeram seperti binatang buas, dia semakin beringas mencekik leher Tasya.
Kemudian dia segera berdiri, mengangkat tubuh Tasya ke atas. Mata pria itu melotot tajam, menggertakan giginya, otot-otot di lengannya sangat terlihat jelas.
Hhkkk...
Hhkkk...
Tasya masih berusaha untuk berontak, dia menghentak-hentakan kakinya untuk menendang lengan Jordan yang sedang mencekik dirinya.
__ADS_1
Akan tetapi Jordan malah membantingkan tubuh Tasya ke jendela dengan keras.
Prang...
Membuat tubuh Tasya terjun bebas dari lantai tiga di Mansion tersebut, dan jatuh ke tanah yang ada di halaman belakang, lehernya telah patah, dan juga kepalanya telah terbentur mengenai batu yang lumayan besar. Sehingga darah segar keluar bercucuran dari kepala wanita tersebut.
Tasya menitikkan air matanya, tubuhnya mengejang, ternyata dia harus mati di tangan seorang pria yang dulu begitu dia puja, sampai dia rela mempermainkan Bryan dan menyakiti pria tersebut yang begitu tulus mencintainya dengan sepenuh hati, bahkan dia ikut merencanakan pembunuhan terhadap Bryan. Dia merasa bahwa dia sungguh wanita yang bodoh di dunia ini.
Sehingga dia harus merenggang nyawa di dalam penyesalannya yang teramat dalam, dia pun akhirnya telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Jordan masih sibuk untuk bisa mengendalikan tubuhnya kembali, dia mencengkeram kepalanya sendiri sambil berlutut di kamarnya.
"Arrghh!!"
"Aaargghh!"
Tubuhnya seakan merasakan hawa panas yang sungguh luar biasa.
Jordan merenggangkan otot-otot di lehernya, kemudian dia pun segera berdiri, berjalan ke balkon untuk melihat keadaan Tasya, ketika dia mengingat telah mencekik Tasya dan melemparkannya ke jendela.
Jordan melihat ada tiga anak buahnya yang sedang mengurus mayat Tasya di halaman belakang.
Pria itu tersenyum kecut, dia rasa Tasya memang sudah tidak berguna lagi untuknya, apalagi dia sangat berambisi untuk memiliki Angel, dia yakin Angel masih hidup, dan anak buahnya masih mencari keberadaan wanita tersebut.
"Kasihkan dia untuk menjadi santapan ke anjing pelacak kita!" titah Jordan. Dia sama sekali tidak merasa sedikit pun kasihan kepada kekasihnya yang sudah dia manfaatkan itu.
"Baik, Tuan!" para anak buahnya Jordan begitu patuh kepada Tuannya.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu, Angel perlahan-lahan telah membuka matanya, dia merasakan kepalanya pusing, sehingga dia sedikit meringis, "Ahhh..."
Angel nampak celingukan ketika menyadari dirinya berada di sebuah kamar yang nampak asing.
"Dimana aku?" Padahal seingatnya waktu itu dia terjatuh ke sungai yang ada di hutan.
Apakah mungkin ada seseorang yang menolongnya? Atau mungkin sebenarnya dia telah tertangkap oleh anak buahnya Jordan?
Ceklek!
Terdengar suara seseorang membuka pintu kamar, sehingga muncullah Bryan, ternyata dia adalah orang yang menolong Angel semalam, ketika pria tersebut dan semua anak buahnya sedang melakukan latihan menembak di sekitar sungai. Bryan sengaja datang ke kota D karena sistem bilang bahwa target terakhirnya berada di kota D, letak kota A dan D sangat dekat, hanya memerlukan waktu satu jam perjalanan saja.
"Kamu sudah sadar?" Bryan sangat bernafas lega karena akhirnya wanita yang telah dia tolong sudah sadarkan diri.
Mungkin karena Angel masih trauma dengan peristiwa semalam, sehingga dia harus berhati-hati, dia pun meraih pistol yang ada atas nakas. Angel memang telah berganti pakaian, sehingga Bryan menyimpan pistol milik wanita tersebut diatas nakas.
Angel menodongkan pistol ke arah Bryan, dia menatap tajam kepada pria tersebut, "Siapa kamu?" katanya dengan sorot mata yang tajam.
Bryan mengangkat kedua tangannya, untuk pertama kalinya ada seorang wanita memperlakukannya seperti ini, seakan wanita tersebut tak tertarik padanya.
'Wah wanita ini barbar sekali. Semoga target terakhirku bukan dia.' harap hati Bryan. Dia harap tak akan terlibat lagi dengan wanita semacam Angel. Sangat tak tahu terimakasih, sudah ditolong, malah mengarahkan senjata padanya.
Bryan menolong Angel karena memang kebetulan saja sedang melakukan latihan menembak di sekitar sungai bersama semua anak buahnya, sehingga tak sengaja melihat Angel yang tubuhnya mengambang terseret arus sungai, beruntung wanita tersebut masih bernafas.
Flashback On...
"Apa itu? Sepertinya ada manusia yang terseret arus?" seru Rozak ketika melihat tubuh Angel terseret arus sungai yang begitu besar.
Bryan yang sedang latihan menembak, dia segera melemparkan pistolnya ke bawah, lalu berlari untuk menyelamatkan Angel, dan dia juga dibantu oleh anak buahnya Bryan yang lainnya.
__ADS_1
Setelah berhasil menyelamatkan Angel, tanpa sepengetahuan Angel, Bryan telah memberikan nafas buatan kepada Angel yang tak sadarkan diri tersebut.
Flashback off...