Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 37


__ADS_3

Bryan telah sampai di depan pos ronda yang dijanjikan oleh Lilis. Namun, Bryan tak mendapati Lilis disana. Dia terkejut ketika melihat makanan, dua botol susu kedelai, dan sayuran yang akan dijual Lilis berhamburan di depan pos ronda tersebut.


"Lho kemana Lilis?"


Bryan merasa khawatir, Lilis pasti berada dalam bahaya.


Bryan bertanya kepada sistem, "Sistem, tolong cari tahu keberadaan Lilis!"


Sistem pun menjawab.


[Baik, Tuan.]


[Sistem sedang memproses informasi keberadaan Lilis.]


[Loading...]


[Loading...]


[Loading...]


[Lilis dibawa ke markas milik Deden, Tuan.]


"Shiiittt..." Bryan sangat kesal mendengarnya, preman kampung itu selalu saja berbuat ulah lagi.


Bryan segera memacu motornya, dia harus pergi menolong Lilis, bagaimanapun caranya.


Sementara itu di markas, Deden sedang mencoba merobek pakaian Lilis dengan pisau tajam. Dia mengusap dengan lembut perutnya Lilis, dan tangannya akan bergerak turun ke bawah.


"Jangan! Aku mohon!" Lilis menangis, dia ingin melawan tapi tangan dan kakinya telah diikat oleh Deden. Demi apapun dia tidak rela jika tubuhnya dijamah oleh Deden.

__ADS_1


Akan tetapi, Deden tak melanjutkan aksinya ketika dia mendengar kegaduhan di luar markasnya.


Di markasnya itu memang begitu ramai, Deden menyuruh Udin dan anak buah yang lainnya untuk membawa paksa hasil panen para masyarakat, sehingga sekarang ini anak buahnya Deden berhasil membawa paksa hasil panen hampir satu truk. Lalu mereka angkut puluhan karung beras tersebut ke dalam markas, untuk jatah makan para anak buahnya Deden.


Deden memiliki banyak uang dari hasil merampok, bukan karena dia kaya raya.


Dan ternyata para petani sedang melakukan pemberontakan ke markasnya Deden. Mereka meminta Deden untuk mengembalikan beras yang telah anak buahnya Deden curi.


"Kembalikan beras kami!"


"Kembalikan beras kami!"


"Kembalikan beras kami!"


Hasrat Deden untuk menjamah tubuh Lilis menjadi hilang seketika, karena terganggu dengan para petani yang terus saja berteriak-teriak.


"Abah?" ucap Lilis dengan pelan, begitu mendengar ada suara ayahnya di salah satu para petani yang ada di luar sana.


Deden melihat ada sekitar 20 orang petani sedang melakukan pemberontakan terhadapnya, mungkin karena mereka sudah jengah harus terus pasrah ketika hasil panen mereka dicuri oleh mereka, termasuk sayuran dan buah-buahan yang mereka punya.


Kemudian Pak Diman, ayahnya Lilis, dia berjalan ke arah Deden, dia memohon kepada Deden agar putrinya segera dilepaskan, mungkin karena dia tahu Lilis di culik oleh anak buahnya Deden berdasarkan saksi yang melihatnya, saksi tersebut langsung berlari memberitahu ayahnya Lilis.


"Tolong lepaskan putri saya, saya janji akan membayar hutang saya padamu." Pak Diman memohon dengan sangat. Dia tidak rela jika putrinya di lukai oleh Deden.


"Dan cepat kembalikan hasil panen kami yang sudah kamu rampok!" ucap salah satu petani yang ada disana dengan penuh amarah. Para petani sudah sangat geram sekali kepada Deden dan para anak buahnya, yang selalu berbuat ulah di kampung ini.


Deden malah tertawa, dia sama sekali tidak merasa takut pada mereka, apalagi jumlah anak buahnya lebih banyak dari mereka. Yang ada dia akan menjadikan mereka sebagai santapan buaya-buaya peliharaannya.


"Hahaha... sepertinya kalian sudah bosan hidup!" ucap Deden sambil tertawa renyah.

__ADS_1


Kemudian Dede menatap Pak Diman, "Mulai sekarang aku anggap hutangmu Lunas, tapi putrimu tidak akan pernah ku kembalikan." Deden sama sekali tidak peduli dengan hutangnya Pak Diman, karena yang dia inginkan adalah Lilis.


"Kurang ajar!" Pak Diman sangat marah sekali, dia mencoba untuk menyerang Deden, dia sangat menyesal mengapa harus meminjam uang kepada Deden waktu itu, mungkin karena dulu sangat kalut untuk biaya operasi mendiang ibunya Lilis.


"Cepat lepaskan Lilis!" Pak Diman berlari untuk menyerang Deden.


Tapi Deden menendang perut pria yang sudah tua renta tersebut, membuat tubuh Pak Diman terjatuh ke tanah.


"Abah!" Lilis tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka, sayangnya dia tak bisa berlari kesana untuk menolong ayahnya, karena tangan dan kakinya terikat sangat kuat.


Lilis hanya bisa menangis tak bisa berbuat apa-apa, dia sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya.


Hal tersebut membuat para petani murka, melihat Deden tak tahu sopan santun, berani mencelakai seorang pria tua renta. "Berani sekali kamu berbuat kurang ajar pada orang tua!"


Suasana menjadi ricuh, para petani ingin menyerang Deden, tapi ditahan oleh para anak buahnya Deden.


Deden memberikan sebuah kode kepada Udin , sehingga anak buahnya Deden berlarian mengepung para petani. Para petani kalah jumlah, karena anak buahnya Deden lebih banyak jumlahnya, tiga puluh lima orang.


Ada sepuluh orang anak buahnya Deden yang membawa pistol, mereka mengikuti instruksi dari Deden untuk menembak mereka.


"Tembak mati mereka! Mayatnya kalian lempar ke penangkaran buaya!" teriak Deden.


Zdor...


Zdor...


Zdor...


Sehingga terdengar suara tembakan begitu keras, ketika peluru telah melesat bebas keluar dari pistol.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba waktu berhenti, semua manusia yang ada di sana nampak mematung, sehingga peluru yang ditembakkan pun ikut berhenti, hampir saja ada sebuah peluru yang mengenai kepala Pak Diman, hanya terpaut jarak lima centimeter.


Hanya satu orang yang bergerak, siapa lagi kalau bukan Bryan yang baru tiba disana. Bryan berjalan mendekati mereka, dia membawa sepuluh buah peluru yang mematung di udara hampir saja membunuh Pak Diman dan para petani yang lainnya.


__ADS_2