
"Oh Juan" Lilis mendes-ah ketika merasakan ada sensasi dingin di area intinya dan juga di area dadanya.
Bryan menyedot bagian puncaknya, menghisap cairan es batu yang ada di sana, sensasinya seakan dia sedang disusui oleh Lilis, rasanya begitu nikmat dan menggemaskan.
Bahkan Bryan mulai menggerakkan es batu di area intinya Lilis, bergerak maju mundur dengan teratur. Hal tersebut membuat tubuh Lilis menggelinjang, dia telah kehilangan kewarasannya, mendes-ah semakin hebat. Rasa dingin menerpa kelembutan kulitnya membuat Lilis menggila.
Es batu sudah mulai mengecil, Bryan memasukannya ke dalam milik Lilis yang masih sempit itu, sehingga tubuh Lilis menggeliat, dia mendes-ah begitu keras merasakan ada yang banjir di bawah sana. Bahkan badannya menggelinjang hebat.
"Ahhh.... ahhh..." Des-ahan Lilis menggema memenuhi dapur tersebut, sehingga milik Lilis kini telah banjir, dia memeluk erat kepala Bryan yang mulutnya masih menikmati buah melon favoritnya.
Bryan menggendong tubuh Lilis, membawa wanita yang sudah dalam keadaan tela-njang tersebut masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuh Lilis diatas kasur.
__ADS_1
Kemudian Bryan memberikan banyak kecupan pada tubuh Lilis, memuja keindahan tubuhnya yang begitu indah. Kulit Lilis yang putih dan mulus, dan wajah yang cantik, walaupun hidungnya tidak mancung, tapi wanita tersebut telah memperlihatkan sebuah kecantikan yang alami sebagai kembang desa, tanpa ada bekas permak sedikit pun.
Kecupan Bryan pada tubuh Lilis dimulai dari rambut wanita tersebut, lalu mengecup wajah cantiknya, mengecup bibirnya, kemudian turun ke lehernya membuat Lilis menggerinjal kegelian, dia kembali mengu-lum bagian pucuk bulatan indah di dada Lilis membuat Des-ahan Lilis terdengar begitu syahdu, mungkin lidah Bryan masih terasa dingin walaupun es batunya sudah mencair.
Des-ahan itu semakin menjadi-jadi saat kecupan tersebut menghujani perutnya Lilis, Bryan sungguh begitu lihai dalam membuat Lilis tak berdaya dengan semua kenikmatan yang oleh pria itu berikan kepada wanita cantik tersebut.
Kini kecupan Bryan turun ke paha dan terus menelusuri ke bawah sampai ke ujung kakinya yang bersih dan mulus, kembang desa tersebut sungguh pandai merawat dirinya, hingga seluruh tubuhnya terlihat begitu sangat indah dan mempesona. Tak ada satu noda pun di tubuh wanita cantik itu, sangat membuat Bryan semakin bergairah.
"Ahhh... Juan!"
Lilis mendesah beberapa kali. Membuatnya menggila merasakan kenikmatan yang luar biasa ini, dia mencengkeram rambut Bryan dengan kuat, punggungnya berkali-kali melengkung ke atas, tubuhnya seakan tersengat aliran listrik.
__ADS_1
Sehingga akhirnya Lilis telah mencapai pelepasan yang keduanya, dia memegang erat seprai dengan sangat kuat, sambil tersenyum mendes-ah, merasakan cairan hangat keluar dari area sensitifnya, dan langsung dibersihkan oleh Bryan yang masih mencumbuinya, bahkan lidah Bryan dinginnya masih bergerak-gerak masuk ke dalam.
Bryan mengeluar masukan lidahnya di dalam sana, disertai dengan jilatan dan hisapan, kemudian memberikan kocokan dengan tempo yang cepat.
Lilis semakin tak karuan, seprai yang awalnya rapi pun kini menjadi berantakan karena ulahnya Lilis, bagaimana bisa dia tidak gila, karena Bryan telah membuat basah untuk ketiga kalinya.
"Ahhh.... ahhhh.... ahhh..." Tubuh Lilis bergetar, ketika merasakan basah yang ketiga kalinya, nafasnya terengah-engah, tubuhnya telah bercucuran keringat. Badannya terus menggelinjang hebat.
Bryan tersenyum puas karena dia bisa menaklukkan Lilis, bukan hanya hatinya, tapi juga tubuhnya. Bryan tak akan pernah melupakan nama sang kembang desa tersebut, kemudian Bryan merangkak memposisikan dirinya berada di atas Lilis, mencium bibirnya dengan sangat ganas. Sebentar lagi tubuh mereka akan menyatu.
Rasanya sudah tidak sabar dia ingin memasukkan batangnya yang berukuran jumbo tersebut untuk masuk ke dalam lembahnya Lilis yang teramat sempit, pasti sangat sempit dan menjepit karena Lilis masih perawan.
__ADS_1