Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 10. mengcopy?


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


kedua orang tua Sakti sedang berdoa untuk anaknya dengan sepenuh hati penuh kasih sayang, tapi berbeda dengan orang yang sedang mereka doakan saat ini Sakti dan Zila tengah mengribahi sekretaris Arman.


"Kita lihat Sakti sebentar lagi drama apa yang akan dibuat oleh sekretaris angkuh itu."


Memang Arman selalu berlaku baik pada siapapun, dia juga akan berlaku baik pada Zila dihadapan banyak orang tapi tidak jika dia hanya berdua saja dengan Zila maka dia akan menunjukkan sikap angkuhnya.


Apalagi dia semakin membenci Zila ketika mengingat jika Pak Kusuma lebih percaya pada Zila ketimbang dirinya yang menjabat sebagai sekretaris Pak Kusuma.


"Aku heran deh Zil, kenapa sekretaris bosmu itu bisa sangat membencimu?" saking herannya bahkan Sakti sampai mengusap-usap hidungnya yang terasa gatal.


"Semua ini gara-gara pemilik perusahaan ini bosku itu, coba saja kalau dia tidak menyerahkan semua pekerjaan padaku dan mempercayainya semua padaku padahal dia memiliki sekretaris semuanya tidak akan seperti ini."


"Tapi bukannya jika begitu, artinya pasti ada sesuatu yang dirahasiakan oleh bosmu Zil."


Zila memberhentikan langkah kakinya saat mendengar apa yang keluar dari mulut Sakti, Zila membenarkan apa yang Sakti ucapkan.


Dia langsung menoleh pada arwah tampan yang sudah 1 bulan ini menemani dirinya, waktu Zila dan Sakti habis sih bercerita dan terlalu pun juga mereka sering bertengkar bersama.


"Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana." Zilat termenung sendiri. "Tapi apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh bosku kenapa dia tetap mempertahankan sekretaris angkuh itu jika sekretaris aku itu sudah melakukan sesuatu di perusahaan Kusuma group ini." Bingung Zila.

__ADS_1


"Mungkin saja hal ini sangat rahasia sehingga bos kamu tidak ingin memberitahu siapapun terlebih dahulu, atau mungkin dia akan menyelesaikan semuanya sendiri secara diam-diam dan menjebak sekretaris yang kamu bilang angkuh itu."


Zila kembali termenung, tapi pikirannya saat ini bukan tertuju pada sekretaris Arman maupun Pak Kusuma ataupun tentang perusahaan tempat yang bekerja.


Kali ini pikiran Zila menerobos tentang Sakti, selama satu bulan bersama dengan arwah tampan ini Zila tidak tahu siapa Sakti sebenarnya? dari mana Sakti berasal? Dan setiap hari melewati waktu bersama Sakti, Zila merasa seakan Sakti adalah orang yang sangat pintar dan juga seperti orang yang tahu banyak hal.


Banyak pertanyaan yang ingin Zila tanyakan pada Sakti tentang siapa diri Sakti sebenarnya, tapi dia tahu pasti Sakti pun tidak tahu siapa dia sebenarnya maka dari itu pertanyaan itu hanya bisa Zila pendam sendiri saat ini, Zila yakin waktu akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang berada di dalam kepalanya.


Tapi apakah Zila sudah mengenal arwah yang sudah membuatnya nyaman selama satu bulan ini, Apakah benar Zila memiliki perasaan dengan arwah itu? bagaimana mungkin itu terjadi, karena hal seperti ini sangatlah mustahil untuk Zila dan Sakti. Keduanya tidak mungkin akan bisa bersatu karena mereka berdua berada di alam yang berbeda walaupun Zila bisa melihat Sakti dengan tampak jelas.


Pertanyaan kembali harus terlontar Apakah Sakti pun memiliki perasaan yang sama pada Zila? benar semua itu pasti waktu yang akan menjawabnya.


Zila buru-buru membuyarkan lamunannya sendiri. "Sudahlah Aku masuk dulu ke ruang sekretaris Arman ini." kata Zila pada Sakti.


Tok!


Zila mengetuk pintu ruang kerja milik sekretaris Arman, hanya satu kali ketukan pintu seorang langsung menyuruh Zila masuk tanpa bertanya siapa yang sudah mengantuk pintunya.


Tentu saja sekretaris Arman tahu jika yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya itu adalah Zila, dia sudah tidak sabar ingin memaki-maki orang kepercayaan Pak Kusuma itu karena sudah menggeser posisinya saat ini.


"Masuk." Ucap suara dari dalam dengan nada ketus, bahkan sangat ketus.

__ADS_1


Zila segera memutar kenop pintu ruang kerja Pak Arman di saat dengan itu Zila masuk dia diberikan tatapan tajam oleh seorang Arman. Pak Arman dan Zila tidak sadar jika saat ini Sakti juga ikut masuk ke dalam ruang kerja milik Arman.


Walaupun Arman sudah menatap Zila dengan tajam tapi Gadis itu tidak peduli dengan tatapan tajam yang diberikan oleh Arman pada dirinya, Zila sudah biasa melihat tatapan itu mungkin saja Pak Arman menunjukkan tatapan tajam dan penuh kebencian hanya pada dirinya.


Apalagi Zila tahu Aya sahabatnya itu menyukai Arman, Zila selalu memikirkan bagaimana caranya dia mengatakan pada Aya jika Arman itu adalah orang yang sangat licik. Zila tidak bisa mengatakan itu karena Arman selalu memainkan perannya dengan begitu apik.


"ibu Zila, apakah proposal yang saya berikan sudah selesai dikerjakan?" tanya Arman dengan suara mengejek pada Zila.


Sakti yang melihat itu tak tahu kenapa dia ingin sekali menonjok muka Arman untuk melindungi Zira dari laki-laki licik seperti Arman.


"Tentu saja sudah Pak Arman, saya menyelesaikan proposal yang bapak minta dengan tepat waktu, silakan Pak Arman boleh mengeceknya." Saja sambil menyodorkan satu map yang berisi proposal sudah saya kerjakan bersama Sakti tadi.


Arman menarik kasar map yang berada di tangan Zila dengan tatapan tak percaya, dia menatap Zila sejenak lalu segera membaca semua isi proposal itu. betapa terkejutnya Pak Arman saat melihat proposal yang dikerjakan oleh Zila sangat sempurna. Jika boleh jujur dia saja mungkin tidak bisa mengerjakan proposal itu dalam waktu 5 jam.


'Bagaimana bisa gadis bodoh ini menyelesaikan proposal dengan waktu yang sangat cepat, aku saja mungkin tidak bisa menyelesaikan proposal ini.' Batin Arman resah.


Tentu saja dia merasa resah, jika pak Kusuma tahu kalau Zila sudah berhasil menyelesaikan proposal yang sangat sulit itu pasti CEO Kusuma group, akan memuji-muji Zila dihadapannya, dan hal itu sangat tidak Arman sukai karena Pak Kusuma selalu membanding-bandingkannya pada Zila padahal jabatannya dengan Zila lebih tinggi jabatan dirinya.


"Kamu mengcopy di mana proposal ini?"


"Jangan asal nuduh ya, pak Arman! Saya mengerjakan proposal ini sendiri dan saya bisa saya juga mencari di berbagai media di berbagai buku untuk segera menyelesaikan proposal ini." Tentu saja dia berbohong Zila menyelesaikan proposal itu karena dibantu oleh Sakti.

__ADS_1


"Saya sudah susah payah mengerjakan semua proposal ini! dan sekarang saat proposal sudah selesai bapak menuduh saya mengcopy! sungguh Anda bukanlah panutan bukalah atasan yang patut dicontoh!" sakral Zila.


Tanpa permisi Zila pergi dari ruang kerja Arman diikuti oleh Sakti di belakangnya di saat itu juga dia membanting pintu ruang kerja Arman keras


__ADS_2