
Bismillahirohmanirohim.
Pak Kusuma saat ini tengah berada di rumah sakit masih menemani istrinya untuk menjenguk sang anak. Pak Kusuma merasa heran ketika Zila mengirimkan pesan pada dirinya. Biasanya jarang sekali gadis itu menghubungi kontak pak Kusuma langsung untuk menanyakan sesuatu, tanpa basa-basi Pak Kusuma semua langsung membuka pesan itu.
Terlihat lah di kontak itu pesan yang Zila kirimkan. 'Selamat siang menjelang sore Pak Kusuma, hari ini pekerjaan saya sudah selesai sebelum jam istirahat. Saya ingin meminta izin pulang lebih dulu pada bapak.'
Pak Kusuma menatap pesan yang baru saja selesai beliau baca dengan tatapan heran, setelah selesai membaca pesan dari Zila, pak Kusuma meras ada yang aneh karena pada Zila tidak biasanya dia pamit pulang lebih cepat.
"Apakah sudah terjadi sesuatu di kantor?" mungkin firasat Pak Kusuma begitu besar tentang perusahaannya karena saat ini tidak ada orang yang dia percaya selain Zila di kantornya.
Walaupun Zila bukan dari keluarganya ataupun dari saudara dekatnya, tapi Pak Kusuma sangat-sangat mempercayai Zila, karena kejujuran yang Zila miliki. Pak Kusuma tidak menemukan jawaban atas apa yang dia pikirkan dengan cepat ke Kusuma membalas lebih dulu pesan yang Zila kirim karena saya dari tadi sudah dia buka tapi pesan itu belum juga kunjung pak Kusuma balas.
'Siang menjelang sore juga Zila. Baiklah hari ini saya mengizinkan kamu pulang lebih cepat dari biasanya, tapi apakah semua pekerjaan kamu sudah benar-benar selesai?'
Setelah mengirim pesan itu pada Zila, Pak Kusuma tidak menunggu jawaban karena beliau tahu pasti Zila sudah pulang lebih dulu tanpa menunggu jawaban dari dirinya. Mungkin saja saat ini Zila sedang berada di perjalanan pulang begitulah pikir Pak Kusuma, tapi hati pemilik Kusuma group itu benar-benar merasa resah akan perusahaannya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi di sana? tapi aku tidak bisa meninggalkan Sakti begitu saja. Apalagi aku mendapat kabar dari dokter tadi pagi jika keadaan komanya semakin baik."
"Apa jangan-jangan orang itu sudah bergerak untuk merebut Kusuma Group?" saat ini banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala papa dari Sakti itu.
Asik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja dia mendengar knop pintu ruang rawat Sakti diputar masuklah seorang wanita paruh baya berparas Ayu siapa lagi kalau bukan mama Sakti, mama Tina.
__ADS_1
Tina berjalan mendekati suaminya seakan Seorang Istri mengetahui apa yang sedang suaminya rasakan, Tina menangkap raut wajah cemas dari wajah suaminya.
"Assalamualaikum, Mas." Sapa Tina.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Pak Kusuma dengan senyum yang mengembang di wajahnya, pikiran yang sudah dari tadi mengganjal tentang perusahaannya entah sudah pergi ke mana.
Pikiran Pak Kusuma kembali tentram saat dia melihat istrinya datang. Pak Kusuma merasa senang karena saat ini istrinya sudah tidak seperti minggu-minggu yang lalu, saat ini istrinya itu sudah lebih terlihat sehat dan lebih terlihat bahagia walaupun Sakti belum juga sadar dari komanya.
"Apakah saat ini ada yang sedang mengganggu pikiran kamu, Mas?" tanya sang istri hati-hatk.
Kini Tina duduk di sebelah suaminya sambil membawakan makanan untuk sang suami. "Tidak usah dijawab dulu Mas, lebih baik Mas Kusuma makan terlebih dahulu agar perutnya terisi dan bisa berpikir dengan jernih kembali."
"Mama sudah makan?"
"Baiklah kalau begitu mari kita makan bersama." Ajak pak Kusuma sambil membuka bungkus nasi yang dibawakan istrinya, tak lupa buah-buahan yang juga dibawakan oleh Mama Tina.
keduanya makan dengan bersama, di sela-sela makan mereka Tina kembali membuka suara. "Mas Kusuma sudah hampir dua bulan tidak masuk kerja, Apakah tidak apa-apa?"
Pak Kusuma menghentikan makannya sejenak saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari istrinya, Jujur saja saat ini aku semua juga merasa ada yang tidak beres di perusahaannya
"Tidak apa-apa, lagipula aku bosnya dan aku juga sudah mengecek setiap email yang dikirimkan oleh Zila padaku tentang perusahaan."
__ADS_1
"Dan mungkin dua hari lagi aku akan kembali ke perusahaan dan melakukan pekerjaan seperti biasanya, Maafkan aku Ma, karena tidak bisa menjaga kalian lagi, saat aku sudah kembali ke perusahaan seperti biasanya." Ucap Kusuma sambil melanjutkan makannya Yang tadi tertunda sebentar.
Tina tentu saja mengerti kenapa suaminya seperti sekarang ini, bukan Tina tidak percaya pada Zila tentang perusahaan yang saat ini sedang ditangani oleh Gadis itu. Tapi Tina begitu kasihan dengan Zila karena selalu mengerjakan semuanya sendiri. Padahal tidak ada yang tahu jika Zila dibantu Sakti dalam setiap pekerjaannya di perusahaan Kusuma group maka dari itu Zila dapat menangani semua pekerjaan yang lupa aku semua berikan pada dirinya.
Hampir dua bulan ini pula Pak Kusuma selalu mengadakan pertemuan dengan kliennya secara daring untung saja klien Pak Kusuma mengerti dengan keadaan CEO Kusuma group itu, walaupun mereka tidak tahu yang sebenarnya kenapa Pak Kusuma melakukan pertemuan secara daring. Pak Kusuma selalu saja bisa menjawab pertanyaan setiap kliennya jika mereka tatap muka melalui zoom meeting.
Tina menyengeritkan dahinya heran, kenapa pula suaminya itu harus minta maaf karena tidak bisa menjaga dirinya dan Sakti. Tina tahu betul perusahaannya sangat membutuhkan suaminya karena saat ini sang anak sedang terbaring lemah brankar di rumah sakit.
"Kenapa Papa harus minta maaf pada mama? perusahaan juga sangat membutuhkan Papah sedangkan Sakti masih ada mama yang bisa menjaganyam"
"Sudah ayo lanjut makan dulu, Pa." Ajak Tina pada sang suami.
Keduanya pun melanjutkan makanan mereka, walaupun Tina dan Kusuma merupakan orang kaya tapi mereka tidak sungkan-sungkan untuk memakan nasi padang yang dijual di pinggiran jalan, nasi padang yang Tina beli ini merupakan salah satu makanan yang sering mereka beli di tempat itu karena rasanya yang berbeda dari yang lain. Menurut Tina dan pak Kusuma rasa nasi padang ini benar-benar terasa dan khas padangnya benar-benar mendominasi.
Setelah selesai makan Tina segera membereskan sisa makanan dirinya dan suaminya Tina meletakkan di tempat sampah bekas makanan itu. Setelah semuanya kembali beres Tina pun duduk lagi di sebelah suaminya, Tina menatap suaminya sejenak seakan dia ingin mengatakan sesuatu.
"Mas jangan lama-lama tidak masuk ke perusahaan, bukankah kasihan Zila, aku juga sudah mengatakan ini waktu itu pada Mas Kusuma kan." Ucap Tina pelan-pelan.
"Iya Mah, papa juga merasa bersalah pada Zila karena sudah membebankan semuanya pada gadis itu."
"Bukankah papa memiliki sekretaris? Kenapa tidak pada sekretaris itu saja papa percayakan semuanya?" Pak Kusuma menggeleng.
__ADS_1
"Apa yang kita lihat belum tentu benar dan seperti itulah kata-kata yang patut diberikan pada sekretaris Arman. Walaupun dia terlihat begitu hormat dan patuh padaku tapi belum tentu di belakangku dia tidak akan seperti itu."
"Aku percaya kepada Zila karena dia adalah orang yang sangat jujur."