Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 26. Pulang


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Sakti sudah dinyatakan sembuh total, hari ini dia sudah dibolehkan pulang. Pak Kusuma dan ibu Tina merasa bersyukur sekali.


Apalagi Sakti sembuh lebih cepat dari pada perkiraan dokter. "Mama senang sekali sepertinya." Komentar Sakti saat melihat mamanya antusias sekali membereskan barang-barang miliknya.


Tina menghadap pada anak tunggalnya itu, tak lupa senyum selalu Tina suguhkan pada sang anak, melihat mamanya selalu tersenyum membuat Sakti merasa bahagia.


"Jelas mama senang sekali, kamu sudah boleh pulang. Kamu itu baru saja pulang dari luar negeri, sampai di sini malah dapat musibah."


"Tapi papa kamu bener, mungkin musibah yang menimpah kamu, bukan hanya cobaan untuk kamu saja, tapi juga untuk mama dan papa." ucap Tina panjang lebar.


Sakti yang sudah beres berjalan mendekati mamanya, dia peluk sang mama dengan sangat erat, rindunya pada kedua orang tua baru bisa tersalurkan sekarang, setelah 4 tahun berpisah dari keluarga. Selama 4 tahun juga Sakti tak pernah pulang. Baru setelah dia menyelesaikan studinya di luar negeri baru Sakti pulang.


"Terima kasih mama kalian selalu menyayangi Sakti, maaf jika selama ini Sakti selalu merepotkan mama dan papa."

__ADS_1


Sakti melonggarkan pelukan pada sang ibu, Tina masih tersenyum. "Kamu ini ngomong apa toh, tidak boleh begitu, sudah seharusnya mama dan papa selalu menyayangi kamu."


Walaupun Sakti berada di luar negeri selama 4 tahun tidak pernah sekalipun dia berani melakukan hal yang sangat dilarang agamanya. Contohnya saja seperti minuman keras. Sakit sangat menghindari hal-hal yang berbau tidak baik, ujung-ujungnya menyusahkan dirinya sendiri.


Tina sedang menunggu suaminya. Karena pak Kusuma mengatakan jika dia akan menjemput mereka nanti di rumah sakit.


Saat tengah asyik mengobrol dengan sang akan terdengar langkah kaki seorang yang akan masuk ke dalam kamar rawat inap Sakti. Tapi kamar itu sudah tidak lagi digukan oleh Sakti, karena Sakti sudah dinyatakan sembuh total.


Seorang laki-laki paruh baya berjalan mendekati ibu dan anak itu. "Apakah papa terlambat?" Tina dan Sakti sama-sama menggeleng.


"Sudah tak apa. Bukan salah kamu juga Sakti, semua sudah ada yang mengatur, ini ujian untuk kita agar lebih dekat pada sang Maha Kuasa." ujar Kusuma menepuk pelan pundak sang anak.


"Ayo kita pulang. Oh iya mama, papa lupa bilang sama mama, kalau orang kepercayaan papa di perusahaan masuk rumah sakit dari kemarin. Makanya hari ini papa telat, karena banyak pekerjaan yang harus papa selesaikan." Jujur Kusuam.


Bukan dia tak mau mengatakan pada istrinya tentang Zila, hanya saja pak Kusuma benar-benar lupa.

__ADS_1


"Ada di ruang mana sekarang dia, pa? mama ingin sekali bertemu dengan gadis itu." Sahut Tina dengan sangat antusias.


"Kalau tidak salah ruang rawat inap 30 tempat dia berada ma."


Mereka bertiga terus berjalan seiringan, Sakti tidak tahu siapa yang dibicarakan oleh mama dan papanya. Dia hanya menjadi pendengar setia saja.


"Biar mama kesana dulu pa, kalian duluan ke mobil, mama tidak akan lama." Ucap Tina yang hendak pergi.


"Tapi ma, Sakti mau i-"


"Kamu ke mobil dulu sama papa Sakti tidak boleh kemana-mana dulu, mama tidak akan lama. Bawa Sakti ke mobil, Pa."


Setelah itu Tina berlalu pergi begitu saja, meninggalkan suami dan anaknya, pak Kusuma juga melakaun pesan istrinya.


Pak Kusuma segera membawa Sakti ke dalam mobil, dia membiarkan sang istri untuk menjenguk Zila terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2