Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 30. Bertemu


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Zila sudah bersiap dengan rapi menggunakan setelan kantornya seperti biasa, kali ini dia mengenakan rok sebawah lutut dan baju berlengan tidak terlalu panjang, lalu sepatu hak tak terlalu tinggi.


Baju yang berwarna tidak cerah, tapi kalem itu membuat Zila semakin terlihat seperti gadis dewas, lebih dewasa dari umurnya yang sekarang. Sekarang umur Zila sudah menginjak 22 tahun, tapi dia terlihat lebih elegan dan dewasa saja begitu.


Setelah memastikan penampilanya sudah rapi Zila segera keluar dari rumahnya menuju kantor. "Pagi mbok Ijah," sapa Zila kala berpapasan dengan tetangganya.


Tak lupa Zila menyalami mbok Ijah pula dan berpamitan setelah itu barulah dia melanjutkan perjalanannya..


Sekitar 40 menit akhrinya Zila sampai di depan sebuah gedung pencakar langit, apa lagi kalau bukan perusahaan Kusuma group.


Zila menghela nafas, biasanya dia akan disambut oleh suara cempereng Aya, sekarang tidak lagi, jujur Zila sangat merindukan temannya, tapi yasudah lah, Aya juga sudah mengkhianati dirinya.


Zila segera masuk ke dalam gedung tersebut. "Pagi Zila," Sapa Bima.


Zila tersenyum pada Bima. "Pagi Bim."


Beberapa orang karyawan juga menyapa Zila dan Bima, keduanya berjalan bersama menuju lantai dua, entah apa yang Kan Bima lakukan di lantai dua.


"Apakah acara penyambutan CEO baru kita sudah dimuli Bim?"


"Belum Zil, mungkin sebentar lagi." Sahut Bima.


Zila mengangguk mengerti, setelah Zila sampai di ruangnya dia dan Bima berpisah, Bima ternyata mempersiapkan untuk menyambut CEO baru.


Zila juga mempersiapkan diri untuk menyambut CEO baru mereka. Zila menuju tempat penyambutan CEO baru.


Sampai di sana sudah ada beberapa karyawan yang hadir, mereka menyapa Zila dengan ramah.

__ADS_1


Sambil menunggu CEO barunya datang mereka berbincang satu sama lain. "Aku penasaran anak pak Kusuma, ganteng nggak ya?" komentar salah satu karyawan.


"Aku juga." Sahut temannya..


"Pak Kusuma aja cakep masa anaknya nggak sih."


"Kamu bener Arni." sahut Zila akhirnya, dari pada dia diam saja sedari tadi.


Tak lama saat mereka tengah berbincang-bincang bersama CEO baru itu masuk ke dalam bersama Bima yang setia mengawalnya dibelakang.


Sakti masuk dengan gagah, Zila belum menyadari jika Sakti adalah anak pak Kusuma, dia belum melihat Sakti datang.


"Zil." panggil Arni pelan, sambil menyikut lengan Zila.


"Apa sih, Ri?" sahut Zila masih fokus pada kegiatannya.


Zila sontak langsung menoleh pada CEO baru mereka.


Deg!


Seketika jantung Zila terasa berhenti, dengan perasaan yang tidak karuan Zila bangkit dari duduknya langsung menghampiri Sakti.


"Sakti, kenapa kamu di sini?" ucap Zila berkaca-kaca.


Sakti menatap heran pada Zila. "Kenapa kamu pergi tidak bilang apa-apa Sakti! Aku benci kamu! Aku benci kamu." Ucap Zila sudah bercucuran air mata.


Semua karyawan hanya diam, tidak ada satupun yang berani bersuara. "Au," ringis Sakti merasakan sakit di kepalanya.


Tiba-tiba Sakti mengingat kebersamaannya bersama Zila, Kala dia masih menjadi seorang Arwah. Sakti mengingat saat pertama kali mereka bertemu, Zila yang menyuapinya makan, sampai dia yang membantu Zila mengerjakan semua pekerjaan kantornya yang sangat sulit.

__ADS_1


Sakti dan Zila selalu ada bersama-sama, kedunya juga sering sekali berdebat. Selama 2 bulan lebih mereka menghabiskan waktu bersama.


Rasa sakit di kepala Sakti setelah dia mengingat semunya reda. "Zila." Ucap Sakti pelan.


"Maafkan aku jangan membenciku." Ucap Sakti sambil mendekap Zila ke dalam pelukanya.


"Aku kangen sama kamu Sakti." Ucap Zila ditengah-tengah tangisnya.


Zila menangis di dalam pelukan Zila. Mereka bahkan tidak peduli dengan para karyawan yang menetap mereka heran..


"Aku juga merindukanmu." Sahutnya sambil mencium lembut pucuk kepala Zila.


"Aku sungguh membencimu, aku tersiksa atas kepergian dirimu." Adu Zila, dia ingin menumpakah semua rasa sesak di dadanya pada sakit.


"Jangan membenciku oke, maaf aku pergi tanpa pamit. Sekarang aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi." Ucap sakit sungguh-sungguh.


Zila melonggarkan pelukan mereka. "Janji?" Ucapnya masih dengan tangis yang belum reda.


"Janji, sayang. Sudah jangan menangis lagi." Ucap Sakit menghapus air mata Zila lembut menggunakan kedua tangannya.


Sakit baru sadar jika mereka saat ini menjadi pusat perhatian seluruh karyawan.


"Kalian tidak perlu melakukan sambutan, mulai hari ini aku akan menjadi Ceo baru di perusahaan Kusuma group dan satu lagi, Zila calon tuanganku." Ucap Sakit pada seluruh karyawan papanya.


Zila yang mendengar perkatan Sakit menunduk malu, dia tidak tahu kenapa Sakit bisa mengklim dirinya sebagai tuangan. Setelah mengatakan hal itu pada seluruh karyawan Kusuma Group, Sakit membawa Zila ke ruang kerjanya.


Nyatanya bukan Zila saja yang merindukan Sakit, tapi Sakit juga sangat merindukan Zila.


"Aku merindukanmu dan juga masakanmu." Ucap Sakit sambil mencium kening Zila mesra.

__ADS_1


__ADS_2