Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 25. Sakit


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Badan Zila menginggl, untung saja ada tetangga yang melihat Zila tidur di lantai. Tentang itu merasa heran, biasanya setiap pagi Zila sudah menyapanya, jika hari biasa maupun hari libur, tapi kemarin Zila tak sama sekali keluar dari rumah..Saking penasaran akhirnya tetangga tersebut mengetuk pintu rumah Zila, sayang tidak ada jawab sama sekali dari dalam rumah..


Rasa khawatir semakin menyelimuti wantia paruh baya yang merupakan tenang Zila, dia segera mencari bantuan. Setelah mendapatkan bantuan dia segera menyuruh untuk membuak pakas pintu rumah Zila, saat pintu itu terbuka semua orang kaget dengan keadaan Zila.


Gadis itu tidur di lantai, dengan kondisi badan yang sudah sangat menginggil. "Cepat bawa ke rumah sakit!" suruh tetangga Zila.


Zila akhirnya dilarikan ke rumah Sakit, untungnya mereka membawa Zila tepat waktu ke rumah sakit. Jika tidak tak tahu apa yang akan terjadi pada Zila. Dan di sini lah sekarang Zila berada di ruang rawat inap sederhana, pak Kusuam yang memberikan pasilitasnya, bukan Pak Kusuma tak mau memberikan ruang rawat inap yang lebih mewah pada orang kepercayaannya itu, hanya saja pak Kusuma tidak mau Zila tahu jika dia yang menanggung semua biaya rumah sakit Zila.


Pak Kusuma tahu Zila sakti, karena dia berpapasan pada para tetangga Zila yang membawa dirinya ke rumah sakit, saat itu pak Kusuma baru saja keluar dari ruang rawat Sakti.


Zila sudah siuman 10 menit yang lalu. "Ibu Ijah, kapan Zila bisa pulang?" rengek Zila.

__ADS_1


Zila memang tidak betah berada di rumah sakti. "Tunggu apa kata dokter ya neng Zila." Ibu Ijah tersenyum pada Zila.


Zila hanya bisa mengangguk, lagipula dia merasa tidak enak pada ibu Ijah, dua hari berada di rumah sakti semua yang mengurus keperluan dirinya ibu Ijah. Zila memperhatikan ibu Ijah yang sedang menyiapkan makanan untuk dirinya, Zila sungguh merasa tidak enak sekali, ibu Ijah begitu baik pada dirinya.


Ibu Ijah berjalan mendekati Zila, yang sudah duduk di atas brankarnya. "Ibu Ijah maaf, Zila udah nyusahin, ibu Ijah." Sesalnya.


"Seet, neng Zila nggak boleh ngomong kayak gitu, tidak ada yang direpotkan. Ayo makan dulu biar cepat sembuh, setelah itu neng Zila bisa kembali pulang, lalu neng Zila bisa bekerja lagi." Ucap ibu Ijah memberi semangat pada Zila.


Sebenarnya Zila sedang tidak nafsu makan, tapi melihat ibu Ijah menyiapkan makan untuknya begitu bersemangat membuat Zila tidak tega untuk menolak supa demi supa yang ibu Ijah sodorkan pada dirinya. Suap demi suap bubur sudah masuk ke dalam perut Zila, akhirnya bubur ayam itu habis juga.


Zila seperti merasa kembali memiliki orang tua. "Terima kasih sudah mau menolong Zila bi, Zila tak sadar jika tidur di atas karpet." cicitnya.


Dia benar-benar merasa sudah terlalu kehilangan sampai membuat dirinya sendiri berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Yang sudah berlalu, biarlah berlalu neng Zila. Tapi ingat jangan sampai ceroboh kayak kemarin lagi, kan kasihan neng Zila tidak masuk kerja malah sakit." Nasihat ibu Ijah dengan lembut dan hati-hati pada Zilam


"Sipa ibu Ijah, Zila akan mendengarkan semua pesan ibu Ijah untuk Zila." Jawabnya dengan perasaan semangat.


Setidaknya ada bu Ijah perasan Zila perlahan-lahan menghangat walaupun tidak sepenuhnya.


"Zila rasanya sudah sembuh ibu Ijah kalau begini."


"Walaupun neng Zila merasa sudah sembuh, tetap saja kita harus menunggu keputusan dokter kapan neng Zila bisa pulang dari rumah sakti."


Zila hanya patuh saja. Dia tidak ingin membantah apa yang ibu Ijah katakan. Bagaimanapun wanita paru baya ini sudah meluangkan waktu beliau untuk menjaga dirinya, jadi Zila tidak mau mengecewakan ibu Ijah yang sudah berbaik sekali dengan dirinya.


"Baik bi Ijah, Zila akan mengikuti saran dokter."

__ADS_1


"Gadis pintar, kamu ini buat orang khawatir saja." Zila hanya mampu terkekeh


__ADS_2