Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 11. Terus bekerja


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Semakin hari saya lihat-lihat si Zila itu semakin ngelunjak sama saya, padahal kan di sini atasannya saya bukan dia kenapa dia makin kemana-mana dengan seorang sekretaris Pak Kusuma." Kesal Arman.


Sementara yang dibicarakan tengah asyik mengobrol dengan si arwah tampan di dalam ruang kerjanya.


"Zil kamu nggak bosen tiap hari kerja terus?"


"Pertanyaan macam Apa itu Sakti, tentu saja aku sangat bosan dengan semua pekerjaan ini, aku itu ingin healing tapi waktunya Tidak ada." Zila menatap lurus ke depan dia bingung kenapa Sakti tiba-tiba bertanya hal seperti ini pada dirinya.


"Tapi tunggu, kenapa kamu menanyakan hal ini padaku memang ada yang salah?"


Sakti mengangguk sepertinya benar ada yang salah pada Zila. "Bagaimana aku tidak bertanya seperti ini pada kamu, Zila. Setiap hari kerjaanmu pulang dari bekerja langsung menyiapkan makanan untuk dirimu sendiri dan untuk aku juga setelah itu kamu beristirahat sejenak lalu malam kamu tidur saat pagi kamu kembali melakukan aktivitas pekerjaan Bukankah itu sebuah pekerjaan yang sangat membosankan."


"Dan semua itu kamu lakukan berulang-ulang kali setiap hari bahkan. Jika boleh jujur aku saja yang melihatnya merasa bosan."


"Lebih parahnya lagi di saat hari libur pun kamu tetap masih bekerja. Gadis lajang sepertinya kamu sungguh kasihan Zila. disaat Aya dan temanmu laki-laki mu yang bernama Bima itu mengajakmu pergi jalan-jalan kamu menolaknya karena masih memiliki pekerjaan."


Sakti sendiri yang melihat kebiasaan Zila setiap hari seperti itu merasa bosan, bagaimana dengan Zila yang menjalankannya sendiri.


"Apakah kamu iba denganku Sakti? atau kamu merasa bosan mengikuti aku setiap hari? Jika ia maka kamu boleh pergi sesuka hatimu saja." Zila terpaksa mengatakan hal itu walaupun sebenarnya dia tak tahu kenapa hatinya tidak terima jika Sakti pergi dari hidupnya.


"Tidak, bukan itu maksudku hanya saja aku tak tega melihatmu setiap hari terus bekerja dan berperang dengan berbekas yang selalu kamu bawa pulang itu Zila." Sakti tidak mau Zila salah padahal padanya.


Zila menghelan nafas berat sambil merebahkan kepalanya di atas meja dan dirinya tetap melihat Sakti. "Mau bagaimana lagi Sakti? ini semua sudah tugasku dan aku tidak bisa lari dari tanggung jawabku begitu saja, mungkin saja jika anak dari si bosku sudah sembuh pasti aku tidak akan selelah ini."


Jelas sekali dari raut wajah Sakti kasihan melihat Zira yang setiap hari selalu bekerja, bekerja dan bekerja tanpa menyenangkan dirinya. "Bagaimana kalau setelah ini aku mengajakmu ke suatu tempat."

__ADS_1


"Ke mana?"


"Ada deh, nanti kalau sudah di sana pasti kamu tahu, dan aku yakin pasti kamu akan senang dengan tempat itu tempat itu akan membuatmu lebih baik."


"Oke aku setuju, dan buktikan jika Apa yang kamu katakan itu benar Sakti, jika tidak aku akan mengusirmu dari rumah."


Sakti tersenyum dengan ancaman Zila. "kamu tidak asyik Zil, masa selalu itu saja ancaman yang kamu lakukan padaku. Apakah kamu benar-benar berniat menelantarkanku?"


Zila terkekeh, melihat hal itu Sakti semakin terpesona pada seorang Zila. "Ya mau bagaimana lagi Sakti aku hanya memiliki ancaman satu itu agar kamu bisa menepati janjimu dengan baik."


Tak terasa saking asyiknya keduanya mau ngobrol waktu pulang kerja pun tiba. "Asik udah waktunya pulang nih."


"Senang banget kayaknya Zil." Komentar Sakti tak biasanya dia melihat Zila sesenang ini.


"Iyalah senang kamu kan sudah berjanji untuk mengajak ke suatu tempat yang bisa membuatku semakin happy, jadi tolong sekarang jangan merusak mood ku yang masih bagus ini Sakti dengar baik-baik."


Setelah membereskan mejanya dan memastikan tidak ada barang miliknya yang tertinggal di tempat kerjanya. Zila segera keluar dari ruang kerjanya diikuti oleh Sakti. Zila turun dari lantai 2 menuju lantai 1 menggunakan Lift.


Tak sengaja saat berada di lift dia bertemu dengan sekretaris Arman kedua orang itu saling bertentapan dengan tajam tanpa sepengetahuan orang-orang yang berada di dalam lift itu juga.


"Kenapa pula harus bertemu dengan sekretaris sialan itu, sungguh dia merusak moodku saja." Gumun Zila pelan.


"Sabar Zil, abaikan saja dia tidak usah dianggap." Ucap Sakti yang masih bisa mendengar ucapan Zila.


"Kamu benar pasti aku harus mempertahankan moodku yang masih bagus ini." Sahut Zila dengan gerakan mulut, karena tidak mungkin dia terang-terangan berbicara pada saat itu di saat masih banyak orang di sebelahnya.


Tak lama kemudian lift pun terbuka semua orang berbondong-bondong keluar dari lift termasuk dengan Zila dan Sakti yang selalu setia mengikuti gadis itu di belakangnya.

__ADS_1


Saat Sudah sampai di lantai 1 dia tak sengaja bertemu dengan Bima dan Aya yang sedang berbincang-bincang, Zila saja sampai heran tumben sekali kedua orang itu akur Di saat Zila ingin menghampiri Aya, sekretaris Arman pun sang ikut menghampiri temannya itu.


"Zila lo mau ikut kita nggak?" tanya Aya memastikan.


"Kemana memang, Ay?"


"Sekretaris Arman mengajak kita untuk makan bersama dia akan mentraktir kita." Ucap Aya dengan nada bahagia.


'Oh jadi orang ini cari muka sama temen-temenku.' Batin Zila sebal.


"Benar tidak Apakah kamu mau ikut dengan kami, sepertinya akan lebih seru jika kita pergi beramai-ramai." Sahut Arman ikut menimpali.


Sejujurnya Bima juga tidak menyukai Arman, tapi karena ada sesuatu yang gratis maka Bima tidak akan pernah melewatkan hal ini. Jika ada yang gratis maka Bima lah yang akan maju digarda paling depan.


"Maaf sepertinya aku tidak bisa, kalian nikmati saja waktu kalian, aku masih sibuk." Ucap Zila dengan halus.


"Sayang sekali padahal lebih asik jika kita pergi beramai-ramai." Ucap Arman seakan dia sedih dengan tidak adanya Zila padahal dia sangat senang karena Zila tidak ikut dengan mereka.


"Tidak apa-apa, bukankah Zila bisa ikut makan bersama lagi dengan kita di lain waktu? Dan sekretaris Arman yang akan mentraktir kita lagi bagaimana? Apakah sekretaris Arman setuju?" Bima yang dari tadi terdiam akhirnya bersuara sambil memainkan kedua alisnya menunjukkan tingkat konyolnya pada Arman.


"Boleh juga." Sahut Zila.


"Sepertinya temanmu yang satu ini juga tidak menyukai sekretaris Arman." Ucap Sakti melihat gerak-gerik Bima saat dia tak menyukai Arman.


Zila tersenyum tanda setuju atas perkataan Sakti baru saja. "Jadi bagaimana sekretaris Arman Apakah anda setuju?"


"Tentu saja bu Zila, saya tak sabar menantikan hari itu."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu sampai ketemu di acara makan lain waktu, aku buru-buru dah semua." Pamit Zila pada mereka semua.


__ADS_2