
Bismillahirohmanirohim.
Zila sampai di kantornya benar-benar masih sepi, hanya ada satpam yang berjaga di perusahaan one Kusuma group.
Zila berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit itu, diikuti Sakti di sebelahnya yang selalu ada di samping Zila. Tanpa mampir ataupun menunggu seseorang Zila langsung saja masuk ke ruang kerjanya, dia ingin segera melihat rekaman CCTV yang berhasil Sakti ambil semalam dari divisi keuangan.
Saking terburu-burunya Zila, dia sampai tidak memperhatikan Sakti yang tertinggal sedikit jauh di belakangnya. Sakti asik menikmati pemandangan pagi di kantor Kusuma Group sebelum banyak karyawan yang berdatangan.
"Ternyata perusahaan ini sangat indah jika tidak banyak orang, hawa tenang pun menyesap ke dalam hati. bahkan udaranya begitu menyejukkan diri." Ujar Sakti sambil menghirup udara segar yang masuk dari pintu utama perusahaan one Kusuma group.
Angin segar itu juga masuk dari celah-celah di dinding di dekat pintu utama perusahaan Kusuma Group. Sakti pun tidak memperhatikan jika gadis itu saat ini sudah naik ke lantai 2 saat menoleh ke depan ternyata Zila sudah tidak ada lagi di hadapannya.
"Cepat sekali dia." Ujar Sakti.
Sakti segera menyusul Zila yang sudah lebih dulu naik ke lantai 2, mungkin saja saat ini Zila masih berada di dalam lift yang menghubungkan menuju ruangannya. Sakti berjalan dengan tergesa-gesa bahkan dia sampai berlari. benar saja saat sudah berada di lantai dua dia melihat Zila baru saja akan memasuki lift.
Sakti pun langsung menghampiri Zila yang sudah menutup liftnya, tentu saja sakti bisa masuk ke dalam lift tanpa harus membuka pintu lift terlebih dahulu.
Saat Sakti sudah masuk ke dalam lift Zila baru menyadari jika Sakti pasti baru saja tertinggal di bawah, karena terlihat Sakti seperti ngos-ngosan, mungkin saja Sakti habis berlari memutar lapangan sampai ngos-ngosanya seperti orang yang sangat kelelahan.
__ADS_1
"Ada apa, dengamu?" heran Zila kalau melihat Sakti mengatur nafasnya yang masih terdengar tidak teratur sama sekali.
Dengan cepat Sakti menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa!" jawab Sakti.
"Baiklah."
Saat pintu lift sudah terbuka Zila segera keluar dari dalam lift diikuti Sakti di belakangnya yang masih saja mengatur nafasnya, karena nafas Sakti masih tersengal-senggal.
Zila merogoh kantongnya untuk mengambil kunci ruang kerjanya, setelah mendapatkan kunci itu Zila segera membuka pintu ruang kerjanya, setelah pintu itu terbuka langsung masuk ke dalam.
"Aku hampir melupakan sesuatu, bukankah Semalam Pak Kusuma mengirim ke sebuah file, Lebih baik aku membuka file itu lebih dulu, sebelum aku mengecek CCTV yang berhasil Sakti ambil tadi malam."
Zila segera duduk di kursi kerjanya, lalu jari-jarinya langsung bergerak lincah di atas keyboard miliknya, Zila langsung membuka email yang dikirim oleh Pak Kusuma tadi malam.
"Ayo cepat, cepat, cepat!" Zila merasa seakan file yang dia buka itu terasa lama. Bahkan Zila pun merasakan hawa dingin menyesap di seluruh tubuhnya.
Sesekali Zila meniup-niup tangannya yang terasa sangat dingin setelah itu dia usapkan pada mukanya untuk menghilangkan rasa dingin yang terus masuk ke dalam tubuhnya.
3 menit pun akhirnya berlalu dan file yang Pak Kusuma kirimkan itu berhasil terbuka dengan sempurna. Membaca file apa yang sudah tak Kusuma kirimkan semalam. Betapa kagetnya Zila saat membaca file itu ternyata pak Kusuma sudah tahu jika ada penggelapan dana di perusahaan Kusuma group dengan jumlah kisaran 1 Milyar, Zila melebarkan kedua bola matanya dengan sempurna saat membaca file tersebut. Sampai-sampai Zila berulang kali membuang napasnya dengan kasar, tapi pun sampai terheran-heran melihat tingkah Zila, tak biasanya Zila seperti saat ini.
__ADS_1
"Ada apa denganya?" bingung Sakti.
Segera Sakti mendekati Zila yang masih fokus membaca file yang dikirim oleh Pak Kusuma, Zila baru membaca setengah isi dari file tersebut. Sakti pun tak kalah kaget, seperti Zila saat dia berhasil membaca isi file itu, Sakti tahu file yang baru saja Zila buka, pasti dari pemilik perusahaan Kusuma Group.
Segera Zila melanjutkan membaca isi file itu sampai selesai. Zila tak pernah menyangka ternyata apa Kusuma sebenarnya sudah tahu kekacauan apa yang terjadi di Perusahaan miliknya.
"Jadi Pak Kusuma sudah tahu semuanya." Ucap Zila dengan pelan, saking pelannya Zila berucap. Bahkan Sakti pun sampai tidak bisa mendengar apa yang baru saja bila katakan.
"Apakah kamu mengatakan sesuatu, Zila?" ujar Sakti, Zila hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
Setelah selesai membaca file yang dikirim oleh Pak Kusuma pada dirinya Zila langsung membuka rekaman CCTV yang Sakti dapatkan. Dengan gerak lincah jari-jari Zila Kembali menari di atas keyboard komputer yang ada di ruang kerjanya, tak lupa Zila juga memasang flashdisk yang Sakti berikan pada dirinya tadi pagi. Zila semakin tercengang ketika melihat setiap menit apa yang ditampilkan oleh rekaman CCTV yang sedang Zila dan Sakti tonton saat ini.
"Jadi bagaimana? Apakah semua karyawan percaya jika Zila yang telah menggelapkan dana perusahaan?" ucap suara yang berasal dari rekaman CCTV, yang Sakti dapatkan dari divisi keuangan.
Di dalam rekaman itu terdapat dua orang berbeda jenis yang sedang berbincang rencanakan kelicikan mereka untuk menjatuhkan seseorang siapa lagi orang itu kalau bukan Zila.
"Semuanya sudah beres para karyawan sudah banyak yang percaya, jika Zila lah yang telah menggelapkan dana di perusahaan ini. Bukti-bukti juga sudah tersebar jika Zila telah melakukan korupsi." Jawab perempuan yang ada di dalam rekaman CCTV itu.
Zila mengepalkan tangannya sangat kuat. Bagaimana bisa orang yang selama ini dia percaya ternyata menusuknya dari belakang, diam-diam orang itu bekerja sama dengan orang yang selama ini selalu ingin menyingkirkan Zila dari perusahaan Kusuma Group, karena asalan sang CEO di perusahaan itu lebih percaya Zila daripada dirinya yang memiliki jabatan lebih tinggi daripada Zila.
__ADS_1
"Aku juga tadinya tidak percaya Zila, jika teman kamu itulah yang sudah melakukan semua ini, tapi setelah aku melihat rekaman CCTV ini sampai selesai tak ada yang aku skip sedikitpun, maka aku semakin yakin jika dialah yang sudah menyebarkan fitnah untuk dirimu." Sakti angkat bicara.
"Hari ini aku akan membuktikan, siapa yang sebenarnya bersalah dan hari ini juga aku akan membuktikan mereka sebenarnya sedang berhadapan dengan siapa. Walaupun aku hanya seorang karyawan di perusahaan ini." Zila menatap tajam kedua orang yang berada di dalam rekaman CCTV.