Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 24. kehilangan


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Zila akhirnya tersadar, disaat malam tiba ternyata Sakti tidak kunjung pulang.


"Sakti di mana?" tanya Zila entah pada siapa.


Zila segera mencari keberadaan Sakti, disetiap ruang rumahnya, tapi Zila tak kunjung menemukan Sakti.


"Kamu di mana sebenarnya Sakti." Keluh Zila.


Air mata perlahan-lahan menetes dari kedua bola mata Zila. Sakti sekana sudah menghancurkan Zila begitu saja, datang dengan tiba-tiba pergipun tak mengucapkan apa-apa. Memang salah Zila kenapa dia harus menyukai makhluk yang berbeda denganya, Zila benar-benar merasa kehilangan.


"Kamu di mana Sakti." Teriak Zila sekali lagi.

__ADS_1


Sekencang apapun Zila teriak tak akan pernah ada jawaban dari Sakti, karena Sakti sudah tidak ada lagi di rumahnya.


"Kenapa kamu datang jika akan pergi lagi." Ucap Zila lirih.


"It's okey Sakti, jika kamu datang tapi tak meninggalkan kenangan, kenapa kamu tak memberikan aku kenangan buruk saja Sakti! Agar aku tidak mengingatmu lagi."


Zila terduduk lemas di lantai ruang tamu rumahnya, Zila merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, Aya pergi Sakti juga pergi.


Zila mengingat bagaimana pertama kali dia dan Sakti bertemu, saat itu Zila langsung menuduh Sakti yang tidak-tidak. Tahunya Sakti hanyalah arwah..Tapi tak disangka setiap hari bersama hubungan mereka setiap harinya semakin dekat saja. Mengingat semua itu air mata Zila terus tumpah tak henti-hentinya. Ada rasa kecawa di.hati Zila.


Saking pelanya Zila berkata bercampur dengan suara tangis, yang sejak tadi tak berhenti. Hari inu benar-benar hari yang sangat mengejutkan bagi Zila, tidak di rumah tidak di tempat kerja menurut Zila sama saja, semuanya pergi meninggalkan dirinya.


"Kenapa? Kenapa? kenapa kalian hadir di dalam hidupku jika kalian hanya ingin memberi luka pada perempuan lemah sepertiku ini."

__ADS_1


"Hiks....hikss...hiks....hiks....! Aku merindukan bercanda bersamamu Sakti! Ya aku sudah gila aku merindukan perdebatan kita berdua. Hiks...hiks...hiks...."


Lama sekali Zila menangis, bahkan dia sampai segukan, suara hujan di luar terdengar sampai ke telinga Zila, hujan lebat yang menguyur tempatnya tinggal sekana menggambarkan suasana hati Zila malam ini.


"Aku sudah lelah dengan semua ini, aku- hikss...hiks...hiks...."


Belum selesai Zila bekata dia sudah jatuh di lantai ruang tamu, Zila meringkuk di sana, suara tangis masih terdengar dengan sangat jelas..


Zila benar-benar sendiri, selama ini padahal dia selalu tegar dalam banyak hal, tapi hari ini Zila menumpahkan semua rasa itu, bukan hanya tentang Sakti yang pergi begitu saja, tapi banyak hal yang tidak dapat Zila katakan..


Walaupun memang perginya Sakti paling menyakitkan, Zila tak ingin banyak hal yang kembali, dia hanya ingin Sakti pamit padanya dan Sakti mengatakan jika dia ingin pergi hanya itu tidak ada hal lain. Sampai Zila tidak sadar jika dirinya sudah tertidur tanpa banta bahkan selimut dia tidur hanya beralaskan karpet yang ada dilantai ruang tamunya.


Cuca dingin karena hujan menyapa kulit-kulit Zila yang tidak tertutup oleh selimut, Tapi semua itu tidak terasa bagi Zila. Sakit dihatinya melebih hawa dingin yang sedang menyerang tubuhnya, dari keramik ruang tamunya itu masuk ketulang-tulang tubuhnya yang hanya beralaskan karpet saja.

__ADS_1


Sampai Zila tak tahu kapan dia tertidur di atas karpet berwarna biru itu. Tubuhnya sudah menggigil tanpa Zila sadari.


__ADS_2