
Bismillahirohmanirohim.
Tengah malam Zila Masih memikirkan kejadian di kantornya. "Apakah aku harus memeriksa terlebih dahulu CCTV kejadian yang terjadi di divisi keuangan." Pikir Zila.
Zila sama sekali tidak bisa tertidur malam ini pikirannya terus melayang ke kejadian di kantor dia penasaran siapa yang sudah menggelapkan uang dana perusahaan. Satu lagi yang mengganjal pikiran Zila dia penasaran kenapa Aya juga bisa menginjakkan kaki di divisi keuangan padahal selama 3 tahun ini Ayah sama sekali tidak pernah ke divisi keuangan tanpa dirinya.
"Apakah benar yang Sakti lihat saat itu jika Aya juga pergi ke divisi keuangan, rasanya jika dipikir-pikir lagi sepertinya tidak mungkin."
"Tapi apa yang Aya lakukan di sana? tanya kenapa aku menjadi penasaran."
Zila sudah berusaha memejamkan matanya tapi kedua bola mata itu tidak ujung terpejam karena pikirannya yang tidak bisa dibawa santai. Saat Zila tengah pusing dengan pikirannya itu tiba-tiba sebuah notifikasi dari emailnya masuk karena tidak ada pekerjaan Zila segera membuka emailnya itu. Zila lah buru-buru membuka emailnya saat tahu siapa yang sudah mengirim email tengah malam pada dirinya ternyata itu adalah email dari Pak Kusuma.
'"Apakah Pak Kusuma, tahu apa yang sudah terjadi di Perusahaan?" hanya itulah yang ada di pikiran Zila saat dia mendapat email dari Pak Kusuma.
Zila membuka email itu ternyata pak Kusuma memberitahu dirinya jika dua hari lagi beliau akan kembali ke kantor dan Pak Kusuma juga mengirim sebuah file untuk dirinya.
Zila tidak tahu isi file itu, tapi dia juga tidak segera membuka. "Lebih baik aku buka saja file ini." Ucap Zila sambil meletakkan handphonenya di atas nakas sebelah tempatnya tidur.
"Bismillah Zila Ayo kamu harus tidur." Ucapnya sambil menarik selimut.
Zila ingat dia besok pagi harus bangun pagi-pagi sekali untuk mencari informasi tentang penggelapan dana di perusahaan tempat dia bekerja, besok Zila harus datang sebelum para karyawan one Kusuma group datang mendahului dirinya.
Lama-lama setelah Zila menarik selimutnya akhirnya kedua bola mata singa bisa terpejam juga, menunggu esok dia tak tahu apa yang akan terjadi.
Zila yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri sementara itu ternyata Sakti pergi ke perusahaan tempat Zila bekerja untuk mengecek semua yang terjadi di sana. Sakti mendapatkan beberapa bukti-bukti tentang penggelapan dana perusahaan tapi sayangnya dia tidak bisa membawa itu semua karena Sakti tak bisa menyentuh benda apapun.
"Kenapa seperti ini? Apakah Aya dan Arman bekerja sama sebenarnya, tapi kenapa saat berada di divisi keuangan mereka berdua terlihat seperti musuh." Belum ada pertanyaan yang terjawab sama sekali.
__ADS_1
Sakti kembali melangkahkan kakinya untuk mengecek CCTV di divisi keuangan. kedua netra Sakti melebar tak percaya saat melihat apa yang dia lihat di CCTV devisi keuangan.
Bahkan Sakti membekam mulutnya sendiri saat melihat apa yang terekam oleh CCTV keuangan. "Mereka menjalankan rencana dengan begitu apik, tapi sayangnya mereka lalai jika CCTV ini masih berfungsi."
Baru menyadari Jika dia ternyata bisa memegang layar CCTV dengan segera Sakti memindahkan semua bukti-bukti itu ke sebuah flashdisk yang entah dia dapat dari mana.
"Untung saja aku bisa memegang flashdisk ini dan juga keyboard dan layar CCTV."
Setelah Sakti selesai memindahkan semuanya, Sakti segera mencabut flashdisk itu dari komputer yang dia gunakan untuk melihat rekaman CCTV setelah selesai Sakti langsung meninggalkan perusahaan Kusuma Group.
Dengan santai Sakti pergi dari perusahaan Itu, walaupun perusahaan itu dijaga dengan ketat tapi dia bisa masuk seenak dirinya karena tidak ada orang yang dapat melihat nanti Sakti juga bisa masuk dengan leluasa.
"Bisa dikatakan mereka ini adalah sahabat dalam selimut." Ucap Sakti Sambil memandangi flashdisk yang dia bawa.
Sampai di rumah Zila, Sakti langsung tidur di atas sofa tempat biasa dia tidur, Sakti yakin sekali saat ini Zila sudah tidur lebih dulu.
"Pagi." Sapa Sakti pada Zila.
"Pagi." Sahut Zila. seperti biasa Zila akan sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantornya.
Zila yang tengah asik menikmati sarapannya tiba-tiba Sakti menyodorkan sebuah flashdisk berwarna hitam pada dirinya.
Zila mengangkat tinggi-tinggi flashdisk itu sambil menatap Sakti dengan tatapan penuh tanya. "Apa ini, Sakti?" tanya Zila dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"flashdisk Zil memangnya apa lagi?"
Memang benar yang Sakti katakan tapi bukan itu jawaban yang Zila mau. Maksudnya Apa isi flashdisk yang tapi sodorkan pada dirinya dan untuk apa juga flashdisk tersebut.
__ADS_1
"Iya aku tahu Sakti, jika ini flashdisk, maksud aku flashdisk ini apa isinya? Dan kamu dapat dari mana Lalu kenapa kamu bisa memegang benda?" ya hasilnya baru sadar jika Sakti bisa memegang flashdisk bukannya sebelum-sebelumnya Sakti Tidak bisa memegang benda apapun.
Saking banyaknya pertanyaan yang Zila lontarkan untuk Sakti. Sakti sampai bingung sendiri harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu.
"Zila nanya satu-satu dong bingung nih." Ujar Sakti.
"Sudah jawab saja."
"Iya, flashdisk itu isinya rekaman CCTV yang aku dapat dari divisi keuangan tadi malam. Kamu bisa melihatnya saja nanti di ruang kerjamu."
"Jadi semalam kamu pergi ke tempatku bekerja?" tanya Zila sedikit tidak percaya.
"Benar."
"Kenapa kamu melakukan itu Sakti? Bukankah itu berbahaya jika ada orang yang tahu bagaimana? Dan mereka menangkapmu."
Sakti tersenyum kecut atas perkataan yang keluar dari mulut Zila. Gadis itu entah lupa atau bagaimana tentang dirinya. "Apakah kamu lupa Zila aku ini arwah, mana ada yang bisa melihatku hanya kamu yang satu-satunya orang yang bisa melihat arwah tampan ini." Jawab Sakti sambil narsis.
Zila menekuk jidatnya sendiri Benar apa yang sakti katakan. "Maafkan aku, aku lupa."
"Sudahlah, aku akan lanjut lagi."
"Aku mendapatkan flashdisk itu dari divisi keuangan, sebelumnya aku juga sudah mengecek Apakah flashdisk itu ada isinya atau tidak ternyata flashdisk itu hanya digunakan untuk memeriksa berapa dokumen yang sudah lama tidak digunakan."
"Masih ada satu lagi dan untuk pertanyaanmu yang terakhir aku juga tidak tahu kenapa aku bisa memegang flashdisk itu, hanya benda itu yang bisa kupegang dan keyboard komputer yang ada di devisi keuangan"
Zila tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Sakti. Tapi dia benar-benar berterima kasih pada arwah Tampan itu karena sudah membantunya.
__ADS_1