
Bismillahirohmanirohim.
Kita tidak akan ada yang tahu, apa yang akan terjadi pada kita ke depannya, bahkan kita pun tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada kita keesokan harinya, itulah yang dialami Zila saat ini. Saat tiba di kantornya Zila ditatap oleh para orang-orang dengan berbagai macam tatapan, Zila merasa sepertinya sesuatu sudah terjadi pada dirinya.
"Ada apa, dengan mereka semua? Kenapa mereka menatapku seperti itu, apakah sesuatu sudah terjadi." Gumun Zila.
Sakti yang berada di sebelah Zila tentu masih bisa mendengarkan perkataan gadis itu yang sangat pelan, sambil kakinya terus melangkah tak memperdulikan tatapan dari orang-orang yang menatapnya dengan berbagai macam tatapan. Terburu-buru Zila masuk ke dalam gedung besar itu, tak ada satupun yang menyapa dirinya hari ini.
"Zila, sepertinya sudah terjadi sesuatu di kantor kamu." Ucap Sakti.
"Sepertinya begitu." Sahut Zila pelan.
Saat sudah sampai di dalam kantor tiba-tiba seseorang menarik Zila masuk ke ruangannya ternyata orang itu adalah Aya. Aya menatap Zila dengan tatapan kasihan, Zila sendiri belum tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya di kantor kenapa temannya itu menatap dia seperti itu.
"Katakan padaku Aya, apa yang sudah terjadi?"
Aya tak langsung menjawab, dia menarik nafasnya pelan sambil menatap teman baiknya dengan tatapan yang penuh tanya tatapan tak percaya dan tatapan akan meminta suatu penjelasan. Tapi jelas Zila sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi dia saat ini sedang menunggu jawaban yang keluar dari mulut teman dekatnya itu di kantor.
"Ayo Aya, katakan apa yang sudah terjadi? Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? dan ada apa denganmu, ada yang salah Apakah dengan diriku saat ini."
Berbagai pertanyaan masih terus Zila lontarkan pada Aya, tapi Aya tak kunjung juga membuka mulutnya untuk berbicara sampai Sakti yang berada di sebelah Zila merasa kesal pada Aya yang tidak kunjung bicara.
"Sepertinya temanmu ini bisu Zila." Ucap Sakti saking kesalnya, sementara itu Zila melotot tak percaya pada Sakti.
__ADS_1
"Iya maaf, habisnya kesel sih dia nggak ngomong-ngomong dari tadi kamu tanyain masih diem aja."
Jujur saja sebenarnya bukan hanya Sakti yang merasa kesal tapi Zila juga, Zila sebisa mungkin dia menahan kekesalannya karena dia penasaran apa yang sudah terjadi.
"Aya kalau kamu nggak ngomong lagi aku mau ke ruangan nih." Zila kembali bersuara.
Tapi Tak lama kemudian Zila melihat Aya membuka mulutnya untuk berbicara, tentu sebelum itu Zila melihat Aya menghelan nafas dengan berat.
"Maafkan Aku, Zila." Baru kata itu saja yang keluar dari mulut Aya membuat Zila mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu harus meminta maaf? bukankah kamu tidak memiliki salah apa-apa padaku." Ujar Zila bingung.
"Maafkan aku Zila, aku harus mengatakan ini padamu tapi aku percaya Jika kamu tidak melakukan hal tidak benar di kantor kita, ada data dan tuduhan Jika kamu menggelapkan dana perusahaan."
"Siapa yang sudah menyebarkan fitnah seperti ini, Ay?"
Aya tidak langsung menjawab pertanyaan yang terlontar dari Zila. Sebelumnya dia memapah Zila untuk duduk lebih dahulu karena badan Zila jelas sekali sudah terlihat lemas. Sakti pun sampai tak percaya dengan informasi yang baru saja dia dengar dari Aya. Bagaimana bisa Zila yang bekerja dengan begitu giat dan baik mendapatkan fitnah sebesar ini.
Sungguh Sakti sangat geram dengan orang yang sudah memfitnah Zila sembarangan. "Orang tidak bertanggung jawab itu harus segera ditindaklanjuti!" kesal Sakti.
"Kamu tenang saja Zila aku akan membantumu untuk mencari siapa yang sudah memfitnah kamu di kantor."
"Aku saja melihat bagaimana kerjamu selama ini di kantor Kusuma group ini, kamu benar-benar giat dalam bekerja tapi ada saja orang yang iri pada dirimu."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu tunggu di sini, aku akan mencari informasi siapa yang sudah berani-beraninya menuduh kamu menggelapkan dana perusahaan." Ujar Sakti sambil keluar dari ruang Aya.
Saat ini tujuan Sakti hanya satu ke ruang keuangan untuk memastikan Apakah benar uang perusahaan di Kusuma group itu dikorupsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mereka menunggu Zila lah yang sudah melakukan hal ini, padahal Zila sungguh tidak tahu apa-apa tentang dana perusahaan. Zila menonton kepergian Sakti dengan kagum, Zila tak percaya jika Sakti akan membela dirinya di saat seperti ini.
'Terima kasih Sakti sudah membelaku.' Batin Zila merasa hatinya sedikit senang karena pembelaan dari Sakti.
Setelah Zila memastikan Sakti sudah keluar dari ruang Aya, kini Zila beralih menetap teman dekatnya di kantor. Zila ingin menanyakan pada Aya apa yang sebenarnya terjadi? dan siapa yang sudah menyebarluaskan berita hoax itu pada seluruh karyawan yang ada di kantor Kusuma Group.
"Minum dulu Zila." Aya menyodorkan segelas air minum pada Zila sebelum Zila mulai bertanya pada dirinya.
Aya tahu pasti banyak hal yang ingin sila tanyakan pada dirinya, coba saja Aya berangkat 10 menit lebih cepat sebelum berita disebarkan pasti dia dapat mencegah berita tidak benar ini tersebar luas di kantor.
"Aku tidak tahu persis Apa yang sebenarnya terjadi Zila, karena aku datang setelah 10 menit berita itu tersebar."
"Awalnya aku tidak percaya aku mengira tidak ada bukti yang kuat jika kamu mengelapkan dana perusahaan, tapi tiba-tiba seseorang menunjukkan bukti begitu kuat jika kamu sudah berani menggelapkan dana perusahaan selama Pak Kusuma tidak berada di kantor." Jelasa Aya.
Tentu saja Zila begitu kaget dengan informasi yang diberikan oleh teman dekatnya di kantor. "Aku dan Bima juga sudah berusaha meyakinkan orang-orang Jika kamu tidak melakukan hal keji seperti itu. Tapi tidak ada satupun orang yang percaya pada kami berdua, kami tak bisa apa-apa lagi setelah itu."
"Karena bukti yang begitu kuat menuduh kamu sebagai seorang korupsi membuat semua orang yang mengetahui informasi ini percaya Karena informasi yang terbentuk seperti sangatlah mengarah pada kamu, Zil."
"Lalu pak Kusuma tahu tentang hal ini?"
"Sepertinya belum, jika beliau tahu pasti beliau akan mentindak lanjuti kasus yang sudah menjatuhkan karyawannya apalagi kamu adalah satu salah satu karyawan kepercayaan Pak Kusuma."
__ADS_1
"Syukurlah, kalau begitu aku masih bisa bernapas lega."