Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 28. Tidak asing


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Kok mama bisa ada di rumah sakit?" tanya Zila heran.


Mungkin dia lupa jika anak CEO tempatnya bekerja mengalami kecelakan, dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Tina tersenyum, tidak tahu kenapa dia langsung menyukai Zila. Gadis cantik, pintar, punya sopan satun lagi.


"Anak mama baru saja sembuh, setelah kecelakaan yang menimpanya."


'Kenapa kamu bisa lupa Zila, jika anak pak Kusuma masuk rumah sakit akibat kecelakaan, tentu saja orang taunya pasti akan menjaga dia sampai sembuh.' Batin Zila meruntuti keteledorannya sendiri.


"Heheh, maaf ma Zila lupa, lalu bagaimana kabarnya apakah sudah sembuh?" tanya Zila memastikan.


"Alhamdulillah sudah Zila. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang."


"Syukurlah, Zila ikut senang mendengarnya."


Zila dan Tina masih asyik mengobrol, tiba-tiba mbok Ijah masuk kembali ke ruang rawat Zila. Setelah pamit pergi beberapa saat lalu pada Zila dan Tina.


"Ibu sini kenalin ini istrinya bos Zila di kantor." ujar Zila.


mbok Ijah mendekat pada Zila dan Tina, tak lupa mbok Ijah tersenyum ramah pada Tina.

__ADS_1


"Maaf tadi pas ibu datang saya tinggal pergi, kebelet soalnya." Ujar mbok Ijah tidak enak sekali rasanya dia.


Memang mereka sudah sempat mengobrol sebentar, tapi bi Ijah sudah pamit lebih dulu kerena ada panggilan alam, jadi beliau belum sempat mengenalkan diri pada ibu Tina.


"Tidak apa mbok, apa mbok Ijah, ibunya Zila?" entak kenapa Tina jadi penasaran pada sosok Zila.


Deg!


'Ya, ampun Zila, kamu nggak boleh baper, wajah aja kalau mama bertanya seperti itu kaliankan baru kenal tadi. Wajar jika mama tidak tahu apa-apa tentang dirimu.' Perih rasanya hati Zila mengingat sejak umur 10 tahu sudah tidak memilik orang tua.


Tapi dia tidak bisa menyalahkan Tina, atas pertanyaan yang dilontarkan karena Tina memang belum tahu apa-apa. Mbok Ijah yang ditanya seperti itu diam sejenak, dia memang sudah lama tahu jika Zila sudah tidak memilik orang tua lagi.


"Bukan ibu, saya tentangganya neng Zila." Sahut mbok Ijah akhirnya.


Zila tersenyum pada ibu Tina. "Orang tua Zila, Insya Allah sudah tenang di alam sana mama." Sahut Zila sedikit merasa sedih.


Mbok Ijah merasa tidak enak, apalagi Tina yang mengungkit tentang orang tua Zila. "Maafkan mama Zila, mama tidak tahu."


Zila lagi tersenyum, dengan penuh keberanian Zila memegang tangan Tina. "Tidak apa ma, bukan salah mama, tak perlu meminta maaf."


Tina maupun mbok Ijah merasa lega melihat respon Zila yang nampak baik-baik saja, walaupun sebenarnya dia menyembunyikan rasa sedih itu sendiri.

__ADS_1


Setelah itu mereka bertiga kembali mengobrol bersama, saking asyiknya mengobrol dengan Zila dan mbok Ijah, istri pak Kusuma itu sampai lupa jika dia sedang ditunggu oleh suami dan anaknya di mobil mereka.


"Hehe, aku keasyikan ngobrol sampek lupa kalau mas Kusuma, sama anakku nunggu dimobil. Aku pamit dulu mbok, Zila, mama pamit ya." Ucap Tina segera berpamitan.


"Iya, Ma, terima kasih sudah mau menjenguk Zila."


"Sama-sama sayang." Tina bahkan sampai mengelus pucuk kepala Zila.


Setelahnya mbok Ijah mengantar Tina sampai depan pintu kamar rawat Zila. Tak lupa Tina kembali berpamitan pada mbok Ijah barulah dia pergi setelahnya.


"Yak ampun mama, katanya sebentar papa sama Sakti udah hampir 1 jam nunggu mama di sini." Oceh pak Kusuma, kala istrinya itu sudah masuk ke dalam mobil mereka.


"Maaf pa, habisnya mama keasyikan ngobrol sama Zila, terus sama mbok Ijah juga." Ujar Tian.


Sakti tentu masih bisa mendengar obrolan keuda orang tuanya, walaupun dia duduk di kursi belakang.


"Zila." Gumun Sakti.


Sakti merasa seperti pernah mendengar nama Zila tapi dimana. Tapi pikiran Sakti langsung teralihkan saat mamanya mengajak dirinya mengobrol.


Seketika dia melupakan apa yang barus saja Sakti pikirkan, karena berusaha mengingat Sakti sama sekali tidak dapat mengingat apapun. Tentang Zila, siapa Zila.

__ADS_1


Anehnya Sakit merasa nama itu pernah begitu dekat dengan dirinya, tapi benar dia tidak mengingat apapun.


__ADS_2