Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 14. Devisi keuangan


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Setelah keluar dari ruang Aya, Zila buru-buru pergi ke ruangannya yang berada di lantai 2, Zila rasanya ingin segera cepat membereskan semua berita tidak benar tentang dirinya. Beruntung saat Zila keluar dari ruang kerja Aya suasana di kantor itu sudah sepi karena para karyawan yang lain sudah waktunya untuk bekerja.


"Syukurlah sudah tidak ada orang." Ucap Zila mengelus dadanya sendiri.


Buru-buru Zila menuju lantai 2 untuk segera masuk ke ruang kerjanya dia harus menyelesaikan kerjanya lebih dahulu daripada memikirkan tentang gosip dirinya saat ini.


"Sabar Zila, sabar Zila pasti kamu bisa melewati semua ini, bukankah kamu sudah biasa jika mendapatkan cemoohan dari banyak orang, selagi kamu tidak melakukan apa yang dituduhkan mereka pada diri kamu maka tetap tenanglah Zila." Ujar Zia pada dirinya sendiri.


Setelah itu Zila langsung berperang dengan berkas-berkas yang ada di mejanya, tidak bisa dipungkiri pikiran Zila terus saja menuju pada tentang gosip dirinya, hanya satu yang ada di dalam pikiran Zila saat ini siapakah yang sudah menyebarkan fitnah itu?


"Oh Ayolah Zila, jangan dulu kamu memikirkan hal itu, sekarang pekerjaanmu lebih penting selesaikan dulu pekerjaanmu ini karena jika terus ditunda maka pekerjaanmu akan semakin menumpuk."


Berulang kali Zila menghela napasnya berat sepertinya beban pikirannya masih menumpuk di kepalanya saat ini.


Zila bangkit dari kursi tempat duduknya bekerja, lalu dia sambil berjalan menuju kipas angin yang ada di dalam ruangannya itu, setelahnya Zila meraih remote AC. Zila segera mematikan AC di dalam ruang kerjanya setelah itu dia menyalakan kipas angin dengan kecepatan sedang.


"Kenapa semua orang selalu saja mencari gara-gara denganku, tapi tak tahu kenapa pikiranku tertuju pada sekretaris Arman itu firasatku Jika dia lah orang yang sudah menyebarkan fitnah tentang diriku."


Setelah itu Zila kembali duduk di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai, sebisa mungkin Zila membuang pikirannya jauh-jauh tentang gosip dirinya yang tersebar luas di kantor.

__ADS_1


"Kamu harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini Zila, agar kamu bisa pulang dengan cepat dan tidak mendengarkan gosip-gosip dari orang-orang kantor tentang dirimu."


Zila terus menyibukkan dirinya dalam pekerjaannya sampai tak terasa sudah waktunya untuk makan siang, istirahatnya sudah tiba tapi Zila sepertinya enggak untuk bangkit dari kursi tempatnya bekerja, kedua bola matanya masih saja tertuju pada layar laptop yang ada di depannya.


Mendadak perasaan Zila menjadi gusar karena dari tadi pagi sampai saat ini Sakti belum juga kembali, Zila takut terjadi apa-apa pada Sakti padahal tak akan ada satupun orang yang dapat melihat pasti kecuali Zila.


"Kenapa sampai sekarang Sakti belum juga kembali?" terlihat begitu jelas raut gusar di wajah Zila.


Sementara itu di sisi lain tepatnya di ruang keuangan di kantor Kusuma Group, Sakti sedang mencari informasi apa yang sudah terjadi. Sakti terus mendatangi satu persatu setiap orang yang berada di divisi keuangan, tapi sudah dari tadi pagi dia datang belum ada tanda-tanda jika mereka semua lah yang sudah menjebak Zilat. Tak sedikitpun Sakti menemukan raut ketakutan atau kecurigaan dari muka-muka orang-orang yang bekerja di divisi keuangan.


Tapi ada yang aneh menurut Sakti, kenapa orang-orang berada divisi keuangan seolah-olah tidak terjadi apa-apa di kantor itu, seolah-olah tidak ada penggelapan dana yang terjadi.


Apakah benar Zila sudah melakukan korupsi? sepertinya tidak mungkin menurut Sakti apalagi dia setiap hari menyaksikan kegigihan Zila dalam bekerja, walaupun Zila sering mengeluh setiap kali mendapat pekerjaan tambahan dari bosnya tapi tak pernah sekalipun Zila berniat untuk mengacaukan semua pekerjaan itu dia melakukan pekerjaannya dengan begitu baik dan Sakti selalu jadi penonton setia menyaksikan Zila menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya di rumah maupun di kantor.


"Lama-lama aku bosan menunggu, tapi demi nama baik Zila maka aku akan menunggu sampai mendapatkan informasi siapa yang sudah menyebarkan fitnah untuk Zila."


Lalu Sakti bangkit dari duduknya kembali memperhatikan satu persatu orang-orang yang ada di divisi keuangan, saat dirinya sedang begitu sibuk meneliti tiba-tiba seorang masuk ke dalam divisi keuangan tanpa permisi.


Padahal dia bukan dari anggota devisi itu seakan ialah yang berkuasa bisa seenaknya masuk ke ruangan mana saja, tentu saja Sakti mengenali siapa orang itu. Jidat Sakti mengkerut heran, pasti jika ada orang yang melihat maka akan menahan tawanya saat melihat Sakti seperti itu. Kali ini Sakti mengerutkan dahinya karena heran kenapa Aya berada di ruang keuangan.


"Aya? untuk apa Aya masuk ke sini bukankah seharusnya dia menyelesaikan pekerjaannya di lantai satu."

__ADS_1


Tak lama kemudian 5 menit setelah Aya masuk ke devisi keuangan seorang pun menyusul Aya masuk ke ruangan itu, kini dahi Sakti semakin mengerut saat melihat sekretaris Arman masuk ke dalam divisi keuangan.


Anehnya tidak ada satupun orang yang terusik dengan kedatangan Aya dan juga sekretaris Arman ke divisi keuangan. Tentu saja hal ini semakin membuat Sakti bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan sekretaris Arman dan Aya.


Aya menatap tajam pada sekretaris Arman begitu juga sebaliknya entah apa yang Aya lakukan di divisi keuangan setelah itu dia kembali pergi tersisalah sekretaris Arman di situ, Aya pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Apa yang Aya lakukan tadi? Dan Apa keperluan Aya di devisi keuangan."


Sakti masih dilanda kebingungan tiba-tiba saja sekretaris Arman mendekati salah satu orang yang berada di divisi keuangan yang harus yakin orang itu adalah ketua dari tim divisi keuangan.


"Bagaimana Apakah semuanya aman?"


Melihat sekretaris Arman berada di ruangannya orang itu segera menyapa sekretaris Arman dengan hormat.


"Ada sekretaris Arman rupanya, sejak kapan sekertasris Arman berada di sini?" laki-laki paruh baya dengan pakaian kantor itu Dan jangan lupakan perut buncitnya menyapa sekretaris Arman sopan.


Tak ketinggalan rambutnya yang sudah sedikit memutih tapi tak ada sedikitpun tersirat ketakutan dari muka laki-laki paruh baya tersebut.


"Tidak ada hanya ingin memeriksa laporan keuangan, Apa hal yang tidak tahu apa yang sudah terjadi di kantor kita hari ini."


Seluruh anggota tim yang berada di divisi keuangan saling tatap satu sama lain mereka benar-benar tidak tahu ada berita besar apa di kantor mereka hari ini.

__ADS_1


__ADS_2