Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 29. Rindu


__ADS_3

Bisimillahirohmanirohim.


Zila sudah 2 hari ini berada di rumah, tapi dia belum masuk kerja dan untungnya pak Kusuma memberikan izin pada Zila.


Pak Kusuma berkata, Zila masuk lusa saja akan ada penyambutan CEO baru dan Zila harus masuk. Gadis itu kini tengah duduk di kursi belakang rumahnya, dia masih saja mengingat masa-masanya bersama arwah tampan yang pernah menemani hari-harinya siapa lagi kalau bukan merupakan Sakti.


Sayangnya Zila tidak tahu, dia juga belum pernah ketemu dengan Sakti sebelumnya. memori kebersamaan dirinya dan Sakti terus berputar di kepala Zila, sungguh dia tidak bisa melupakan kebersamaan mereka selama 2 bulan penuh ini.


Angin yang terus menerpa wajahnya tidak membuat Zila beranjak dari tepat duduknya saat ini, tanpa dia sadari air matanya perlahan menetes sebutir demi sebutir.


"Aku merindukanmu." Ucapnya pelan sekali.


Saking pelannya mungkin saja kata yang keluar dari mulut Zila terbang dibawa angin yang terus saja menyapa dirinya.


Sejak keluar dari rumah sakit Zila sudah sedikit semringah, dia juga tak bersedih di hadapan siapapun, namun disaat dirinya sedang sendiri seperti ini, memorinya terus saja memutar kenangan dirinya dan Sakti selama 2 bulan lebih ini.


Dimana mereka berdua selalu bersama, walaupun sering kali berdebat, tapi keduanya bisa saling mengerti satu sama lain. Semakin Zila berusaha melupakan arwah tampan itu, hatinya semakin perih dadanya terasa sangat sesak sekali. Dia tidak bisa melupakan sosok sakit begitu saja.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu, Sakti. Aku ingin kita bersama-sama seperti dulu lagi." Ucap Zila sekali lagi.


Dia sudah tak tahu harus bagaimana agar bisa melupakan Sakti, susah sekali itu yang Zila rasakan.


Sedangkan disini lain Sakti tengah mengerjakan semua pekerjaannya, besok dia sudah menjadi CEO di perusahaan Kusuma group. Perusahaan milik papa nya itu. Dia akan mengambil tanggung jawab besar menggantikan sang papa yang sudah waktunya untuk pak Kusuma beristirahat di rumah.


Maka dari itu Sakti harus benar-benar memahami semuanya. walaupun papa nya tidak terlalu memaksakan Sakti, Sakti juga baru bangun dari masa komanya beberapa hari yang lalu. Pak Kusuma maupun ibu Tina sangat melarang Sakti bekerja terlalu lelah, Sakti yang tengah fokus membaca dokumen dan beberapa gmail papanya tiba-tiba saja terdiam.


"Zila." satu kata itu yang keluar dari mulutnya berhasil membuat Sakti mengabaikan semua pekerjaannya.


"Kenapa aku merasa seperti kehilangan sesuatu?" ucap Sakti.


Tanganya entah kenapa memegangi dadanya sendiri. Sakti tidak tahu apa yang tengah dia alami saat ini.


"Ada apa sebenarnya ini?"


Sakti masih terdiam, dia mencari apa yang hilang darinya, tapi setelah dia pikir-pikir lagi tak ada momeri apapun miliknya yang sudah hilang.

__ADS_1


"Jika tidak ada, tapi kenapa rasnya hati ini sudah kehilangan sesuatu yang berharga dan lagi aku seperti merindukan sesuatu. Tapi apa atau siapa?"


Otaknya terus saja berputar, bukan lagi memikirkan pekerjaan, tapi memikirkan apa yang sudah hilang dari hidupnya. Sakti yang tidak menemukan jawaban sedikitpun memutuskan untuk beristirahat.


"Mungkin hanya perasaanku saja, lebih baik aku sekarang istirahat. Papa dan mama juga melarangku untuk bekerja terlalu lelah."


Akhirnya Sakti memutuskan keluar dari ruang kerjanya, dia harus benar-benar beristirahat hari esko jadwalnya akan sangat pada mungkin.


"Sakti, habis dari mana?" tanya Tina saat berpapasan dengan anak tunggalnya itu.


Sakti tersenyum pada mamanya. "Sakti abis dari ruang kerja, Ma." jawab Sakti seadanya..


"Mama kira kamu habis dari mama, lemes gitu keliatannya."


"Masa sih ma." Kaget Sakti, dia tak menyadari hal itu.


Tina menggangguk dia mengerti keadaan putranya saat ini. "Yaudah sono gih tidur istirahat yang cukup, besok kamu jadwalnya padat loh, apalagi ada acara pengangkatan CEO baru."

__ADS_1


"Iya ma, Sakti pamit ya mau istirahat." Tina mengangguk.


Sakti memasuki kamarnya sedangkan Tina terlihat seperti sedang menunggu suaminya pulang dari kantor. Biasanya sebentar lagi pak Kusuma pasti samapi rumah dan benar saja tak lama setelah itu suara mobil yang sangat Tina kenali masuk halaman rumah mereka.


__ADS_2