Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 7. Tidak bisa makan


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Pulang kerja Zila tidak bisa menahan sakit perutnya akibat tertawa begitu puas, ya dia sangat puas mentertawkan Sakti. Bagaimana tidak, Zila tertawa puasa saat di kantin tadi siang, dia menyaksikan bagaimana sengsaranya Sakti harus memangku Arman yang merupakan sekretaris Pak Kusuma.


Setiap mengingat hal itu Zila pasti akan tertawa terbahak-bahak, seketika marahnya pada Sakti langsung hilang saat menyaksikan momen tersebut.


"Kini gantian Sakti yang menatap gadis itu datar. Gadis yang sedang mentertawakan dirinya, sampai mereka sudah berada di rumah pun tawa itu tak juga hilang."


"Ketawa aja sampai puas, ketawa aja terus. Ingat ya, bahagia di atas penderitaan orang lain itu dosa tahu." Ucap Sakti.


Zila saat itu juga langsung memberhentikan tawanya, tapi Sedetik kemudian tawa itu kembali menggelegar dan semakin menjadi. Tentu saja Sakti semakin kesal dibuatnya apalagi dia benar-benar tahu siapa yang sedang tertawakan.


"Ya emang, kalau kita bahagia di atas penderitaan orang lain itu berdosa, tapi kan kalau aku bahagia di atas penderitaan arwah jadi nggak dosa dong." Sahut Zilla dengan enteng.


"Bener juga sih, aku kan Arwah." Keluh Sakti menyadari kebodohnya sendiri.


"Hadeh, Arwah juga bisa lupa."


Tiba-tiba Zila kembali tertawa, pikirannya kembali teringat di mana Sakti yang berusaha menahan tubuh Pak Arman yang terlihat lebih besar daripada tubuh Sakti, sampai-sampai Aya dan satu temannya heran melihat Zila yang senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Bahkan lebih dari tersenyum Zila sampai tertawa yang sesekali tidak bisa dia tahan, sebenarnya saat Pak Arman tadi izin untuk duduk dengan mereka Zila ingin menghalangi tapi karena Aya menanggapi ucapan Pak Arman lebih dulu Zila tidak dapat berbuat apa-apa.


"Sudah cukup Zila! hentikan tawamu, cukup kau mentertawakanku hari ini dengan puas tapi lihat saja aku akan membalasnya." Ancam Sakti.


"Jika berani maka aku akan mengusir mu." Sahut Zila dengan cepat, tentu saja Zila tak bisa digertak oleh Sakti karena Zila lah pemilik rumahnya.


"Aku mengaku kalah, tapi bisakah kamu menghentikan tawamu, aku mohon, Zila." Sakti akhirnya memelas pada Zila.


"Oke."

__ADS_1


Zila benar-benar memberhentikan tawanya yang sedari tadi tidak bisa dia tahan. Sesekali Jika dia ingat tentang hal tadi siang dia akan tersenyum tanpa sepengetahuan Sakti. Setelah itu Zila meninggalkan Sakti sendirian di ruang tamu dia akan membersihkan diri terlebih dahulu.


" lMau ke mana kamu, Zila?"


"Ya mau bersih-bersihlah, kan aku habis kerja mau apa lagi. Kamu tunggu sini oke, jangan macam-macam." Peringat Zila sambil megintimidasi Sakti.


"Iya, kamu tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku ini bukan laki-laki jahat tahu bukan laki-laki mesum juga ingat baik-baik itu Zila."


Zila masuk ke dalam kamarnya begitu saja mengabaikan ocehan Sakti yang mungkin entah kapan akan selesainya menurut Zila.


Sampai di dalam kamarnya Zila segera membersihkan diri. Zila berendam beberapa saat di bat up yang ada di kamar mandinya.


"Segar sekali rasanya, akhirnya hari ini aku bisa melepas penat dengan merendam tapi dipikir-pikir sepertinya aku ingin memakan coklatm" Ucap Zila pada dirinya sendiri.


Sesekali Zila memainkan busa yang ada di badannya sambil tertawa kecil dengan tingkahnya sendiri. Hampir 30 menit Zila membersihkan diri akhirnya dia selesai dengan ritual mandinya, setelah mengganti baju dengan baju santai. Zila segera menuju dapur untuk makan.


Tentu saja dia harus memasak terlebih dahulu jika ingin mengisi perutnya, Zila merupakan seorang yang jarang sekali membeli makanan jadi dia lebih suka memasak sendiri daripada membeli makanan instan. Mencium bau harum dari dapur Sakti segera melangkahkan kakinya menuju dapur. walaupun dapur Zila terlihat begitu kecil tapi dapur itu tersusun dengan sangat rapi.


"Ya wangi masakanku lah, wangi apa lagi memangnya."


"Kamu masak apa, memangnya Zila? kenapa wanginya begitu mengugah seleraku. Aku sangat lapar." Ucap Sakti sambil mendengus terus masakan Zila.


"Masak apa saja yang aku mau, emangnya kenapa kamu bertanya-tanya? Memangnya arwah bisa makan juga seperti manusia?" Dua pertanyaan sekaligus yang Zila lontarkan pada Sakti sendiri tidak dapat menjawabnya.


"Aku tidak tahu, aku bisa memakannya atau tidak. Tapi, bukankah aku bisa mencobanya, siapa tahu aku bisa memaafkan masa kamu."


"Jika seperti itu. Maka, aku akan menyiapkan dua piring makanan untuk aku dan untuk kau tunggu saja dan duduklah di meja makan tidak usah menggangguku."


"Siap tuan putri, dengan sangat pangeran ini akan menuruti Apa yang tuan putri katakan." Sambil tersenyum manis pada Zila.

__ADS_1


"Nye nye nye nye nye nye." Ucap Zila bergumun saat Sakti sedang bicara, Jika saja mood Zila sekarang ini sedang tidak baik-baik saja seperti dari tadi pagi, mungkin saja Zila sudah mengajak Sakti untuk perang dunia dalam adu mulut.


Tidak butuh waktu lama makanan yang Zila masak sudah siap disantap. Zila benar-benar menyediakan dua piring makanan untuk dirinya dan juga untuk Sakti.


"Ayo makan." Ajak Zila sambil memasukkan Sadu sendok makanan ke dalam mulutnya.


Sedangkan Sakti menatap makanan itu dengan tatapan bingung dan tatapan seakan tidak dia tidak tahu bagaimana caranya agar makanan itu bisa Sakti santap.


Zila yang fokus memakan makanannya dia tidak melihat jika Sakti sama sekali belum menyentuh makanannya yang dia masak karena memang sakit tidak bisa menyentuh benda apapun.


Setelah beberapa detik Zila barulah mengangkat kepalanya dan tepat saat itu dia melihat ke arah makanan Sakti yang sama sekali belum tersentuh sedikitpun.


"Kamu tidak makan? Apakah makannya tidak enak? Kalau begitu nanti aku buatkan lagi." Ucap Zila bertubi-tubi, Sakti saja belum sempat menjawab semua perkataan Zila.


"Tidak bukan itu." Potong Sakti cepat, takut Zila salah sangka.


"Lalu?"


Sakti menghembuskan nafas kasar. "Bagaimana aku mau makan, menyentuh sendok saja tidak bisa." Keluh Sakti.


"Kamu benar juga. Lalu bagaimana carnya agar kamu bisa makan ya." Ucap Zila sambil temenung.


Zila terus memasukan makana ke dalam mulutnya sambil okatnya berpikir kerasa memikirkan cara agar Sakti bisa makan.


"Coba kamu suapi aku siapa tahu bisa." Usul Sakti.


"Dih, ogah!"


"Ayolah Zila, aku yakin pasti untuk yang satu ini bisa." Mohon Sakti.

__ADS_1


"Lagipula kenapa arwah seperti kamu ini bisa lapar sih, memangnya setan itu sama seperti manusia apa kelaparan juga?"


"Aku tidak tahu Zila, tapi lihat sekarang aku sedang kelaparan ayo suapi aku." Pinta Sakti sangat memohon.


__ADS_2