
Bismillahirohmanirohim.
"Indahnya, kamu mengetahui tempat ini dari mana Sakti? kenapa kamu bisa menemukan tempat sebagus ini."
Sesuai janji Sakti saat masih di kantor Zila tadi, jika sepulang Zila bekerja dia akan mengajak Zila ke suatu tempat yang bisa membuat happy Zila.
"Tidak tahu, saat aku ke rumahmu aku sempat melihat tempat ini sebelumnya, tapi aku juga seperti merasa begitu fiamiliar dengan tempat ini."
"Boleh aku tanya sesuatu padamu, Sakti?"
"Silahkan saja tapi mungkin pertanyaan kamu itu tidak akan bisa aku jawab, karena aku benar-benar tidak mengingat apapun tentang diriku."
Zilan mahalan nafas berat, benar apa yang dikatakan Sakti, bahkan pertama kali saat Zila menanyakan nama Sakti arwah itu tidak.langsung menjawab hingga menunggu satu malam barulah Sakti memberitahu Zila siapa namanya.
"Maafkan aku, sudah sekarang kita tidak usah memikirkan hal lain dulu, mumpung sekarang kita masih di tempat seindah ini. Lebih baik kita jangan menyia-nyiakan waktu di sini hanya berdiam saja, sebelum hari semakin sore ayo kita nikmati terlebih dahulu tempat indah ini." Ajak Zila pada Sakti.
Sakti mengangguk, Zila dan Sakti sama-sama menjelajahi tempat indah itu yang tidak terlalu luas tapi sangat memanjakan mata.
"Aku baru tahu jika di sini ada tempat yang begitu indah, tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
"Itu karena kamu selalu sibuk dengan bekerja, bekerja dan selalu bekerja, tak pernah ada waktu untuk diri sendiri tak pernah ada waktu untuk mencari tempat yang indah." Sahut Sakti.
Zila menoleh pada arwah yang selalu saja menjawab perkataannya Padahal dia hanya berbicara sendiri. "Aku kan tidak bicara padamu, Lagipula kalau kamu tidak mau sengaja menemukan tempat ini kamu juga tidak akan tahu bukan?"
"Hmmmmmm."
Zila dan Sakti sama nama menikmati keindahan alam di tempat itu hanya ada mereka berdua tapi jika ada yang orang melihat tentu saja mereka hanya melihat keberadaan Zila saja tidak dengan Sakti.
"Sakti Apakah kamu punya keluarga?" tak tahu kenapa pertanyaan itu bisa terlontar dari mulut Zila untuk Sakti.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang keluarga, aku pun tidak tahu apakah aku memilih keluarga atau tidak." Ujar Sakti.
"Jika aku perhatikan kamu seperti mirip seseorang, tapi siapa aku lupa orangnya."
__ADS_1
Di saat Zila Sedang berpikir keras, Sakti mirip dengan siapa? tiba-tiba suara Sakti membuyarkan semua isi di kepala Zila. "Zila, Zila." Panggil Sakti.
"Zila Coba lihat di depan sana ada Sunset."
Sontak Zila langsung menujukan pandangannya pada Sunset yang dimaksud oleh Sakti.
"Bagus sekali, bagaimana bisa di tempat ini ada Sunset? Dan kenapa tidak ada orang yang mengetahui tempat seindah ini." Ucap Zila tanpa menoleh pada Sakti, dia terus saja menatap keindahan sunset yang saat ini ada di depannya dan juga Sakti.
"Mungkin saja karena saat memasuki tempat ini seperti hutan-hutan yang mengerikan jadi orang-orang mengira terus masuk ke dalam maka akan berbahaya tidak disangka ternyata tempatnya malah seindah ini."
"Kamu benar Sakti, berarti benar kita tidak dapat menilai sesuatu dari covernya saja buktinya saja tempat ini sangat indah. Sebelum masuk ke sini kita harus melewati seperti hutan yang mengerikan ternyata itu hanya sebuah covernya saja di tak ada yang tahu bagiaman di dalamnya jika tidak masuk."
"Tak disangka di dalamnya sangat indah, sungguh pasti tak ada yang mengira jika tempat ini akan begitu indah."
"Aku saja tadinya tidak percaya jika tempat ini akan menghasilkan yang keindahan yang luar biasa."
"Kamu benar Zila, tapi siapa yang sudah membuat tempat seindah ini? coba kau lihat di ujung sana tempat ini seperti memang sengaja dibuat oleh seseorang."
"Benar sekali, tempat ini sepertinya memang sengaja dibuat, tapi kenapa orang yang membuat itu harus menutupinya dengan hutan-hutan Kenapa dia tidak mempublikasi saja tempat ini."
"Mungkin orang itu sengaja agar tidak ada yang tahu keberadaan tempat seindah ini, atau dia memang membuatkan tempat ini khusus untuk seseorang."
"Mungkin saja."
Zira bangkit dari duduknya sambil tangannya membersihkan rok di bokongnya yang sedikit kotor. "Aku mau jalan-jalan lagi, kamu tetap di sini jangan mengikutiku lagi Sakti dengar baik-baik."
"Siap Nyonya putri saya tidak akan membantah apa yang anda katakan." Gurau Sakti.
"Sudahlah!"
Zila pergi dari hadapan Sakti, sementara Sakti masih menikmati sunset yang sebentar lagi akan menghilang dari pandangannya digantikan dengan cahaya rembulan yang menyinari dunia di malam hari bersama dengan bintang-bintang yang selalu menemani bulan.
Hari sudah hampir malam tapi langit masih menunjukkan kecerahannya karena mungkin hari ini memang cuacanya sama seperti hati Zila yang sedang merasa senang.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Zila benar, aku ini siapa? dan aku berasal dari mana?" tanya Sakti pada diri sendiri.
"Lalu tadi Zila bilang aku mirip seseorang tapi aku mirip siapa? Aku ini seorang arwah, apakah aku akan selamanya seperti ini ataukah aku akan kembali pada jasadku tapi di mana jasadku berada?"
"Seingatku terakhir aku berada di rumah sakit. tapi kenapa aku bisa berada di rumah sakit?" banyak pertanyaan yang muncul dalam kepala Sakti, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.
Bingung dengan isi kepalanya Sakti memutuskan untuk beranjak dari duduknya menghampiri Zila yang sedang menikmati keindahan di tempat itu. Sakti harus segera mengajak Zila pulang karena hari sudah semakin malam.
"Hais, Sudahlah Lebih baik aku mengajak Zila pulang saja." Putus Sakti.
Sakti menghampiri Zila yang tengah asyik berfoto, kadang-kadang Zila mengambil gambarnya sendiri maupun mengambil gambar-gambar pemandangan yang menurut Zila indah dan harus dia abaikan.
"Zil, ayo pulang besok kamu kerja loh." Ajak Sakti pada Zila.
"Tunggu sebentar lagi Sakti, tanggung nih masih seru." Sahut Zila tanpa menoleh pada Sakti.
"Jangan lama-lama ya Zil, hari sudah semakin malam tidak baik untuk kamu perempuan pulang malam-malam."
"Iya Sakti, tapi kan ada kamu kenapa aku harus takut bahkan aku sendiri berteman pada arwah."
Deg!
Entah kenapa Sakti merasakan di dalam hatinya ada perasaan nyeri, tiba-tiba dia ingin selalu menjaga Zila. Tak tahu kenapa perasaan ingin selalu menjaga Gadis itu masuk ke dalam hati arwah tampan tersebut.
"Ada apa, denganku? sepertinya ada yang salah." Batin Sakti semakin bingung dengan perasaannya sendiri.
"Tapi kan Zil, aku ini arwah, bagaimana bisa aku menjaga kamu jika terjadi sesuatu padamu nanti, kalau pulang terlalu malam."
"Aku pulang, tapi janji besok kamu harus membawaku kesini lagi, Janji?"
"Iya"
"Yee!"
__ADS_1