Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 6. Kacau


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Maaf Ibu Zila Kenapa Ibu bengong Apakah persentasenya bisa dilanjutkan?"


Semua orang yang berada di ruang meeting itu heran melihat Zila tidak fokus saat melakukan presentasi, padahal Zila orang yang selalu fokus saat bekerja tapi tak tahu kenapa kali ini dia sama sekali tidak bisa fokus.


Akhirnya Zila tersadar Jika dia masih berada di ruang meeting. "Maaf, kita akan melanjutkan kembali meetingnya, maaf atas ketidaknyamanan kalian." Sesal Zila.


Sementara dalam benaknya Zila terus menyumpah sarapan Sakti yang sudah berani-berani mengganggu acara presentasinya. Tanpa merasa bersalah kini Sakti berdiri di sebelah Zila Untung saja hanya Zila yang dapat melihat keberadaan Sakti saat ini.


"Huh! dasar pengganggu." Keluh Zila dalam benaknya.


Zila merasa dia harus segera menyelesaikan persentase kali ini, sebentar lagi amarahnya akan meledak akibat Sakti, sungguh Sakti sudah merusak moodnya sekarang. Jadi Zila kali ini tidak sedang baik-baik saja.


Zila tetap fokus menyelesaikan persentasenya tanpa menjawab setiap kalimat yang terlontar dari mulut Sakti, menurut Zila saat ini Sakti tidak tahu tempat tidak bisa diajak kompromi jika bisa sungguh Zila ingin sekali menjambak rambut arwah itu.


Sayangnya Zila sama sekali tidak dapat melakukan hal tersebut karena menyentuh Sakti saja Zila tidak bisa.


"Oh jadi nama kamu Zila Kenapa kamu tidak memberitahu aku sedari awal." Oceh Sakti.


"Kamu tahu Zila aku sedari tadi mencari Keberadaanmu sehingga aku merasa begitu lelah, tapi aku tak Menemukanmu untung saja aku mendatangi tempat ini jika tidak aku tidak tahu harus pergi ke mana." Sungguh Sakti sangat mengabaikan tatapan tajam Yang Zila tunjukkan pada dirinya.


"Aku-" perkataan Sakti hanya sampai di tenggorokan saja karena Zila cepat memotong apa yang akan Sakti katakan.


"Bisa diam nggak!" sepertinya Zila tidak sadar jika saat ini dia sedang mengadakan meeting pada beberapa karyawan.


Orang-orang yang berada di ruang meeting itu menatap Zila heran. Bukankah sedari tadi hanya Zila yang berbicara sedangkan mereka semua diam dan menyimak persentasi yang Zila lakukan.


"Mohon maaf Ibu Zila, jika saya menyala Apakah anda memiliki masalah?" akhirnya sekretaris pak Kusuma angkat bicara.

__ADS_1


Zila menepuk jidatnya sendiri dia begitu meruntuti kebodohannya ini semua gara-gara Sakti yang sudah mengacaukan persentasenya hari ini.


"Maaf semua jika persentase hari ini tidak nyaman mohon maaf, baiklah sepertinya presentasi akan saya akhiri sampai sini saja kita lanjut besok." Putus jadilah pada akhirnya.


Satu persatu orang-orang yang berada di ruang meeting itu meninggalkan ruang meeting tersebut hingga menyisakan Zila dan Sakti yang masih setia berada di dekat Zila.


Zila memijat pelipisnya yang terasa pusing, sungguh hari ini benar-benar hari yang begitu melelahkan bukan hanya Sakti yang membuat dia begitu lelah tapi juga pak Kusuma yang sudah seenaknya memberikan pekerjaan pada dirinya.


Zila begitu maklum pada pak Kusuma karena anak pak Kusuma sedang berada di rumah sakit, tapi jika begini terus lama-lama Zila sendiri yang akan masuk ke dalam rumah sakit, jika pekerjaannya selalu menumpuk setiap hari padahal pekerjaan itu adalah milik Pak Kusuma.


"Aku berharap anak pak Kusuma cepat sembuh, agar aku tidak lagi seperti ini. Aku tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri."


Kali ini Zila benar-benar mengabaikan keberadaan Sakti dia tidak peduli dengan Sakti karena Sakti lah yang sudah mengacaukan kegiatannya hari ini.


"Bisa diam nggak?" Zila Kembali mengulangi perkataannya tadi pada saat di saat melakukan presentasi.


"Baiklah." Pasrah Zila.


Menurut Zila sekuat apapun dia mengusir laki-laki arwah itu. Maka, Sakti tidak akan pernah pergi sama sekali, lebih baik dia membiarkan apa yang sakti mau lakukan itu tidak akan membuat Zila menguras emosinya sendiri.


Jika dia angkat bicara sudah pasti dia akan marah-marah tidak jelas dan akan kalah daripada Sakti si arwah yang entah datang dari mana. Sambil menunggu Zila di dalam ruang meeting itu, Sakti memperhatikan sekitar dia seperti mengenal bangunan yang dia tempati saat ini bangunan yang begitu familiar bagi Sakti.


"Tadi, aku seperti mengenal bangunan ini saat berada di depannya sekarang aku seperti lebih mengenal lagi saat berada di ruangan ini tapi di mana Aku pernah melihat tempat-tempat ini."


Sakti menggaruk kepalanya sendiri dia benar-benar bingung saat ini melihat sapi yang terlihat kebingungan Zila pun membuka suara.


"Kenapa? Apakah ada yang aneh?" tanya Zila dengan nada Ketus.


Tapi Sakti sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu dia malah tersenyum menanggapi ucapan Zila.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja aku seperti pernah melihat semua benda-benda yang ada di sini dan setiap sudut ruangannya sepertinya aku mengenalinya Tapi aku tidak tahu di mana Aku mengenali tempat ini." Jawab Sakti dengan jujur.


Untung saja di dalam ruang meeting itu kini hanya tinggal Zila dan Sakti yang tidak terlihat jika tidak pasti orang-orang akan mengira jika Zila sudah gila karena sedari tadi bicara sendiri.


"Mungkin kamu pernah melihatnya di internet." Sakti membenarkan ucapan Zila itu.


Setelah merasa tenang bila memutuskan untuk pergi ke kantin kantor karena sudah waktunya jam kantor para karyawan istirahat.


"Kamu, mau ke mana?"


"Aku, mau ke kantin."


"Ikut." Ucap Sakti cepat.


Zila menatap Sakti sebentar. "Boleh tapi ada syaratnya nanti di sana jangan berulah, harus diam."


"Sip bos."


Setelah itu Zila melangkahkan kakinya menunjuk ke kantin yang di ikuti oleh Sakti yang setia berjalan di sebelah Zila. Sampai di kantin kantor terlihat kantin sudah ramai para karyawan yang memang sudah merasa lapar bila mengedarkan pandangannya mencari di mana ada bangku kosong untuk dirinya duduk dan Kebetulan sekali Aya dan juga satu teman kantor laki-lakinya menyisakan tempat duduk untuk Zila.


"Zila sini." Aya Melambaikan tangannya kalah melihat Zila sudah berada di area kantin.


Tanpa basa-basi Zila langsung mengakhiri kedua sahabatnya itu tentu saja untuk mengisi perutnya tenaganya sudah terkuras habis, akibat presentasi dan juga marah-marah yang tidak jelas ulah Sakti.


"Makasih Aya." Ucap Zila sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang sudah ada kebetulan sekali kursi di sebelah glZila masih ada satu kursi lagi yang kosong. Sakti pun tanpa basa-basi duduk di sebelah Zila. Lalu mereka makan dengan tenaga saat makan mereka sudah diambil masing-masing.


Saat mereka sedang makan tiba-tiba seorang datang. "Boleh aku ikut gabung?" ucap seroang laki-laki yang merupakan sekretaris pak Kusuma.


"Eh pak Arman, sihlakan duduk ini tempat umum kok." ucap Aya, sedangkan Zila menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2