Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 22. Sakti Siuman


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Sakti sudah sampai di rumah sakit tempat dirinya dirawat, Sakti segera mencari dimana kamar rawat yang terdapat jasadnya. Sakti mencari satu persatu ruang rawat inap vip di rumah sakit tersebut, sampai dia masuk ke dalam ruang vip terakhir, ruang rawat vip inap ini lebih besar dari yang lainnya.


Sakti bisa melihat tubuhnya yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit, jangan lupakan mukanya yang sudah pucat.


Perlahan Sakti mendekati brankar yang menompong dirinya itu. "Mama." Ucap Sakti ssat melihat Tina tidur di kursi sebelah dirinya.


Tak terasa arwah tampan itu meneteskan air matanya sendiri. "Mama, maafkan Sakti, Sakti pasti kembali." Sesalnya.


Sakti berusaha meraih tangan sang ibu, tapi sayang dia tak bisa sama sekali menyentuh tangan itu.


Sakti akhirnya menatap tububnya yang masih berbaring lemah. "Aku harus sembuh, lebih baik aku coba masuk ke dalam tubuhku lebih dulu."


Segera Sakti memposisikan dirinya tepat di atas tubuhnya yang masih lemah, Sakti ternyata berhasil, dia berusaha menggerakkan jari-jarinya.


Tina yang merasa ada pergerakan dari sang anak terbangun. "Subhanallah." Ucap Tina menutup mulutnya.


Tina tak menyangka jika jari-jari Sakti sudah bergerak, segera Tina memanggil dokter, setelah itu tak lama kemudian seorang dokter datang memeriksa keadaan Sakti.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Tina memastikan.


"Syukurlah ibu, Sakti sudah melewati masa komanya, mungkin sebentar lagi dia akan siuman, kalau begitu saya permisi dulu, ibu tak perlu cemas lagi, kita hanya tinggal meumggu sampai Sakti siuman."


Tina mengangguk paham, setelah dokter itu keluar dari ruang rawag Sakti, Tina segera menghubungi suaminya.


"Assalamualaikum pa, Sakti sudah melewati masa komannya, papa cepat ke rumah sakit ya." Suruh Tina pada pak Kusuma dengan perasaan senang tiada tara.


Pak Kusuam yang mendengar kabar baik itu merasakan bahagia. "Allhamadulilah, papa akan segera ke rumah sakit ma." Jawab pak Kusuma dari telepon.


Setelah itu sambungan telepon pun terputus, pak Kusuma yang barus saja selesai melakukan rapat pada petinggi-petinggi di perusahaannya segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


"Assalamualaikum." Salam pak Kusuma sambil melangkah masuk ke dalam kamar rawat Sakti.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Tina yang sedang membantu Sakti untuk duduk.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak." Ucap pak Kusuma bahagia sekali.


Bahkan Tina sampai meneteskan air matanya. Sakti tersenyum pada kedua orang tuannya.

__ADS_1


"Ma, Pa." Panggil Sakit dengan suara pelan.


Tina maupun pak Kusuma segera mendekati anak mereka, mereka akan mendengarkan apa saja yang mau Sakti sampaikan.


"Minum dulu Sakti." Suruh Tina, sambil membantu sang anak untuk minum.


Sakti tersenyum untuk merespon ibunya, tak tahu kenapa diam masih diam saja, Sakti merasa ada yang hilang, tapi dia tidak tahu apa yang hilang. Disaat bersamaan Sakti juga merasa ada yang kembali. Setelah Tina membantu Sakti minum dengan perlahan-lahan, Tina kembali meletakkan gelas itu di atas nakas yang ada di sebelah brankar Sakti.


Sakti menggunakan bantalnya untuk bersandar. "Ma, pa sudah berapa lama Sakti berada di sini?" tanyanya dengan pelan.


Sakti menatap kedua orang tuanya secara bergantian, tapi sepertinya tak ada yang ingin mengungkit berapa lama Sakti berada di rumah sakit. Tina mengelus pelan punggung tangan anaknya, walaupun Sakti sudah siuman, tapi tetap saja keadaannya masih terlalu lemas.


"Sakti jangan pikirkan yang lain dulu ya, sekarang fokus dulu agar kamu sembuh total, tadi dokter pesen sama mama, Sakti nggak boleh banyak berpikir dulu, Insya Allah dalam waktu dekat Sakti akan segara pulang."


Sakti mengangguk patuh apa yang dikatakan Tina, mamanya tanpa membantah ucapan sang mama sedikitpun. Pak Kusuma bahkan merasa begitu lega akhirnya tak sampai 1 tahun putranya itu sudah sadar dari komanya. Pak Kusuma tak henti-hetinya mengucapkan syukur dalam hatinya atas kesembuah Sakit Bara Kusuma.


"Allah mengabulkan doa kita Pa, akhirnya Sakti siuman juga, benar Papa bilang mungkin dulu kita terlalu jauh pada Allah, kita tak pernah melibatkan Allah dalam segala urusan kita." Ucap Tina.


"Sudah Ma jangan bersedih lagi, sekarang kita harus bersyukur Sakti sudah siuman, tapi kita tetap tak boleh meninggalkan Allah lagi, karena sejatinya kita yang membutuhkan Allah dan Allah sama sekali tidak butuh kita."

__ADS_1


"Jangan sampai kita datang pada Allah hanya saat membutuhkan Allah saja." Nasihat Kusuma pada istri dan tentu juga nasihat itu untuk anaknya.


__ADS_2