
Bismillahirrahmanirrahim.
Di dalam rumah sakit yang begitu luas dan lebar seseorang tengah menatap sayup laki-laki tampan yang terbaik tak berdaya di atas brankar rumah sakit.
Wanita paruh baya yang berparas ayu itu menatap sendu laki-laki tampan yang berbaring di atas brankar Rumah Sakit tersebut, kedua bola matanya sudah terlihat bengkak jelas sekali Jika wanita paruh baya ini terus saja menangis.
Saat saat wanita paruh baya itu tengah asyik melamun tiba-tiba saja pintu ruang rawat itu terbuka, masuklah seorang ke dalam ruang rawat tersebut, sedangkan wanita paruh bayar itu tidak menoleh sama sekali dia sudah tahu siapa orang yang masuk ke dalam ruang rawat anak.
Seorang laki-laki paruh baya yang masuk ke dalam ruang rawat itu menghampiri perempuan paruh baya tersebut Dia memegang pundak perempuan paruh baya yang berparas ayu dengan lembut. Laki-laki itu tak lain adalah Pak Kusuma, Kusuma menghela nafas berat, istrinya masih saja meratapi kesedihan anak semata wayang mereka yang terbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit.
Jika boleh jujurku Kusuma juga merasakan sedih atas musibah yang menimpa anaknya, tapi tak mungkin dia terus berlarut-larut terlalu dalam kesedihan, sementara istrinya sudah tidak memiliki daya untuk bersemangat saat melihat putranya telah berbaring di brankar rumah sakit, tanpa ada tanda-tanda apakah anak mereka itu akan membuka kedua bola matanya.
"Ma, jangan menyiksa diri mama sendiri seperti ini." Ucap Kusuma lembut pada sang Istri.
Istri dari Pak Kusuma itu masih tak bergeming dia betah dalam diamnya, dia sama sekali tak menyahuti ucapan suaminya air mata pun terus saja menetes dari pelupuk matanya.
Perlahan tapi pasti Kusuma memeluk istrinya dengan erat, sungguh dia pun merasakan kesedihan yang istrinya rasakan, tanpa Kusuma sadari kelompok matanya pun meneteskan air mata saat dia tengah membekap istrinya dalam pelukannya. Kedua orang tua dari Sakti itu seakan saling menguatkan dengan apa yang menimpa anak mereka.
"Ma, sudah ya papa yakin pasti Sakti akan segera kembali bersama kita." Hibur Kusuma pada istrinya.
__ADS_1
"Tapi kapan, Pa?" isak tangis semakin bertambah dan menjadi-jadi dari Ibu Sakti di dalam pelukan Pak Kusuma suaminya.
"Sakti baru saja pulang dari luar negeri pa, tapi sampai di negara ini dia malah mengalami musibah seperti ini. Kita kembali dipisahkan dengannya, Pa. Sudah 4 tahun lebih kita tidak bersama dengannya sampai di negara ini Sakti bukan yang mendapatkan kebahagiaan, malah mendapat musibah dia berbaring tak berdaya di atas brangkar rumah sakit." Ibu dari Sakti itu mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini tertanam dalam hatinya.
Sudah hampir 1 bulan sang anak belum juga ada tanda-tanda untuk membuka matanya atau untuk melewati masa kritisnya. Tentu saja Kusuma dan istri selalu bergantian untuk menjaga sang anak-anak.
Inilah alasan kenapa pak Kusuma yang merupakan CEO resmi dari Kusuma group selalu memberikan pekerjaan mendadak pada Zila yang merupakan orang kepercayaannya. pak Kusuma memang lebih percaya Zila ketimbang sekretarisnya. Karena ada hal yang Kusuma tahu tapi masih dia sembunyikan di kantornya, hal yang membuat Kusuma semakin tidak percaya pada sekertarisnya. Ada alasan kenapa sampai saat ini Kusuma masih mempertahankan sekretarisnya yang bernama Arman itu.
Masih di dalam ruang rawat Sakti. "Mungkin Allah sedang meguji kita Ma, melalui Sakti. karena kita lalai terhadap Nya." Kusuma menganggapi ucapan istrinya.
"Bukankah lebih baik sekarang kita shalat dan mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan Sakti."
"Ayo Ma, jika kita yakin Sakti akan sembuh pasti Allah mengabulkannya."
Keduanya berdiri di samping tubuh Sakti, perlahan Tina mendaratkan ciuman pada kening sang anak.
'Cepat sembuh sayang mama dan papa akan selalu mendoakan untuk kesembuhanmu.' Doa Tina dalam benaknya.
Pak Kusuma pun melakukan hal yang sama pada sang anak seperti yang istrinya lakukan pada Sakti.
__ADS_1
'Cepat sembuh Sakti, papa sudah merepotkan seorang hanya untuk menjagamu, papa merasa bersalah pada gadis itu, tapi papa juga tidak bisa membiarkanmu sendiri di sini, dan papa juga tidak bisa membiarkan kesedihan berlarut-larut pada mamamu.' Kini giliran Kusuma yang berbicara di dalam benaknya.
'Papa dan mama Insya Allah akan selalu mendoakan kesembuhanmu, bangun Nak, bukankah kamu tidak suka melihat mamamu bersedih, lihatlah sekarang dia selalu mengisi dirimu.' Ujar Kusuma lagi.
Setelah itu dia dan istrinya sama-sama pergi meninggalkan ruang rawat sang anak untuk menunaikan shalat, menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
"Ma jagan bersedih lagi ya, Sakti juga pasti akan sedih jika mama terus bersedih seperti ini, mama tidak maukan saat Sakti sadar dia melihat sang ibu yang sudah tak karuan." Pinta pak Kusuma pada istinya Tina.
"Insya Allah pa, mama akan mencoba mejadi lebih kuat lagi." Kini Tina sudah tidak lagi menangis seperti tadi.
Suaminya selalu bisa membuat dirinya lebih tegar dan kuat menerima cobaan itu, jika bisa digantikan posisi Sakti, Tina ingin dia lah yang berbaring tak berdaya di atas brangkar rumah sakit itu, dia lebih rela jika dirinya yang tak dasarkan diri ketimbang sang anak.
"Ayo, Ma." Ajak pak Kusuma saat sudah sampai di musola yang lumayan besar di rumah sakit itu.
Karena pak Kusuma sudah memindahkan anaknya di rumah sakit yang benar-benar lengkap akan semua fasilitasnya Rumah Sakit nomor satu di negara mereka, Pak Kusuma ingin memberikan yang terbaik pada sang anak agar dapat segera sembuh, maka dari itu berapapun biayanya orang tua dari satu anak itu akan memenuhi semua persyaratnya walaupun biayanya mahal sekalipun maka pak Kusuma akan menganggupi semua itu.
Bukankah usaha dan doa itu sangat perlu, sejak saat kecelakaan yang menimpa Sakti itu pak Kusama dan istrinya tak pernah lagi meninggalkan shalat 5 waktu mereka.
Kedua orang tua Sakti sadar betu jika semua ini terjadi untuk menegur mereka, tapi kadanga manusia itu sangatlah lemah ketika berhadapan dengan setan yang mudah sekali memperdaya manusia hingga lupa akan sandaran yang sesunggunya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.
__ADS_1
Pak Kusuma dan Istrinya melaksanakan shalat dengan khusyuk keduanya sama-sama bermunajat untuk kesembuhan seorang anak mereka yang bernama Sakti.
"Sembuhkanlah Sakti Ya Allah." Doa ibu dan bapak Sakti tak jauh berbeda.