Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 8. Bicara sendiri


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Hari-hari terus Zila lewati dengan keberadaan yang saat ini sudah berbeda, tak terasa sudah satu minggu Zila tinggal satu atap dengan seorang arwah yang bernama Sakti.


Satu minggu ini Zila lewati dengan berbagai hal bersama Sakti, Zila sudah menganggap keberadaan Sakti saat ini, tidak seperti sebelumnya jika Zila menganggap Sakti adalah penganggu dalam hidupnya. Tapi tidak dengan saat ini, sepetinya Zila sudah begitu terbiasa dengan keberadaan Sakti di sampingnya.


Bahkan Zila juga sudah terbiasa dengan kegiatannya yang setiap hari tak pernah absen untuk menyuapi arwah tampan itu. Sudah menjadi kebasian Zila untuk menyuapi Sakti makan, bisa dibilang saat ini, di mana ada Sakti pasti juga disitu ada Zila.


Zila tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya di kantor. "Aduh kenapa susah sekali yang harus aku kerjakan." Keluh Zila sambil meletakkan kepalanya di atas meja karena dia sudah merasa lelah.


Zila tidak tahu kenapa pekerjaan hari ini yang sekretaris pak Kusuma itu berikan padanya sama sekali tidak Zila mengerti. Sakti yang dari tadi memperhatikan film merasa kasihan pada perempuan itu, 5 menit kemudian Zila kembali mengangkat kepalanya.


"Ayo Zila semangat kamu harus bisa mengerjakan pekerjaan ini!" semangatnya pada diri sendiri.


Saat Zila memperhatikan laptopnya semua pekerjaan itu ada di dalam laptop tersebut Sakti pun ikut memperhatikan apa isi pekerjaan yang ada di dalam laptop Zila.


"Tapi bagaimana aku bisa mengerjakan semua ini sedangkan aku sama sekali tidak mengerti." Kelu Zila lagi.


Sakti yang berdiri di samping Zila akhirnya bersuara. "Lah itu mah gampang." Ucap Sakti sambil memperhatikan apa isi pekerjaan yang ada di dalam laptop Zila.


Zila menoleh pada arwah yang selalu berada di sampingnya itu, Zila mengangkat kepalanya untuk melihat Sakti Apakah dia tidak salah dengar dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut arwah itu.


"Kamu yakin mudah? Bahkan aku saja tidak mengerti dengan pekerjaan ini." Ucap Zila sambil menatap Sakti.


Sakti menganggukkan kepalanya yakin jika pekerjaan yang kata Zila sangat susah itu menurut Sakti sangatlah mudah dan bisa dia selesaikan dengan cepat.


"Coba sini aku kerjakan." Ujar Sakti.


"Dengan senang hati." Zila menyodorkan layar laptopnya di depan Sakti.


kebahagiaan yang dila rasakan itu sedetik kemudian lenyap kalah melihat Sakti tidak dapat menyentuh keyboard laptop milik Zila.


Sakti membara kepalanya yang tidak gatal. "maaf." Karena dia merasa sudah mengecewakan Zila.

__ADS_1


"Tak apa ini juga bukan salah mu."


Zila dan Sakti sama-sama terdiam. Zila terdiam memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menyelesaikan pekerjaan ini sementara Sakti berpikir bagaimana caranya agar dia bisa membantu Zila untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Begini saja, bagaimana kalau aku yang menyebutkan apa saja yang harus kamu ketik dan kamu mengetik di laptop." Usul Sakti saat dia sudah menemukan solusi untuk membantu Zila menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu benar juga." Sahut Zila semangat.


Sakti terus menyebutkan apa saja yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan Zila. Sementara Zila mendengarkan dengan seksama apa saja yang dikatakan oleh Sakti untuk proposal yang sedang dia kerjakan saat ini.


keduanya bekerja sama dengan kompak bahkan tanpa keduanya sadari mereka berdua sama-sama menyungging senyum di bibir masing-masing mereka terlihat begitu bahagia saat mengerjakan proposal begitu rumit bagi Zila.


Tak terasa sudah 30 menit Zila dan Sakti sama-sama mengerjakan proposal itu secara bersama akhirnya proposal yang Zila kerjakan selesai juga. Zila merasa lega karena dia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat Ini semua karena bantuan Sakti.


"Terima kasih banyak sudah membantuku." ucap Zila dengan tulus.


"Sama-sama." Sahut Sakti.


Disaat Sakti ingin menyentuh pucuk kepala Zila untuk mengusapnya dia baru tersadar jika dirinya tidak bisa menyentuh apapun di dunia manusia.


"Hari ini aku akan memasakkan menu spesial untuk kamu." Ucap Zila sungguh-sungguh pada Sakti.


"Benarkah."


"Tentu saja, kamu sudah membantuku menyelesaikan pekerjaan ini." Ujar Zila.


Kesedihan yang datang pada diri Sakti tadi langsung lenyap kala Zila menjanjikan Jika dia akan masakan menu spesial untuk Sakti, tidak tahu kenapa Sakti bisa makan dengan cara disuapin langsung oleh Zila.


Padahal dia tidak dapat menyentuh benda apapun bahkan menyentuh tangan Zila saja Sakti tidak dapat semua tembus begitu saja.


"Aku akan mengantar proposal ini dulu pada sekretaris yang selalu membuat pekerjaanku menumpuk."


"Boleh aku ikut?" tanya Sakti saat Zila merapikan berkas proposal yang sudah selesai dia kerjakan.

__ADS_1


Tentu saja semua berkas-berkas itu sudah dia print lebih dulu dan sudah Zila cek kembali apakah sudah benar atau belum dia tidak mau dirinya terkena marah oleh sekretaris Arman itu.


Sekretaris yang kadang berlaku seenaknya saja pada Zila, jika Pak Kusuma tidak ada di kantor. Ya, contohnya seperti sekarang ini dia memberikan Zila pekerjaan yang sama sekali tidak Zila mengerti.


"Kenapa kamu bertanya bukankah biasanya jika kamu ingin ikut denganku selalu ikut saja tanpa berbicara atau meminta izin terlebih dahulu." Sindir Zila.


"Aku mengakuinya."


Setelah itu Zila benar-benar keluar dari ruang kerjanya untuk mengantarkan proposal itu ke ruang sekretaris Arman. Diikuti Sakti di belakangnya Zila berjalan sambil sesekali menoleh pada Sakti yang kini sudah berjalan seiringan dengan dirinya.


"Kamu lihat nanti Apakah sekretaris Arman itu akan marah-marah padaku atau tidak." Ucap Zila pada Sakti.


"Kamu tenang saja jika sekretaris itu memarahimu maka aku akan memarahi sekretaris itu balik."


"Bagaimana caranya?"


"Iya juga sih." Sakti meruntuti kebodohnya sendiri.


"Sudah biarkan saja lagi pula aku hanya menyuruhmu untuk melihat bagaimana nanti sekretaris itu mau ngoceh-ngoceh tidak jelas padaku."


"Oke."


Tanpa Zila dan Sakti sadari tak jauh dari sana ada seorang yang sedang memperhatikan gerak-gerik Zila orang itu merasa aneh pada Zila.


Dengan cepat orang itu menghampiri Zila. "Zila." Panggil orang itu.


"Eh, Aya, ada apa, Ay?"


"Tidak hanya saja sedari tadi aku memperhatikanmu seperti sedang bicara sendiri, kamu sedang berbicara pada siapa memangnya Zil?" tanya Aya pada teman teman sekaligus atasannya itu.


"Bi-ca-ra pa-da- si-a-pa me-mang Ay?" tanya Zila terbata.


"Tidak mungkin aku salah lihat, tapi aku benar-benar melihatmu seperti bicara sendiri." Ucap Aya lagi, dia yakin tadi tidak salah lihat.

__ADS_1


"Oalah, yang barusan itu mah aku sedang mengumpat sekretaris Arman, karena selalu saja memberikanku pekerjaan yang sulit." Ucap Zila saat dia sudah menemukan jalan keluar dari masalah ini.


__ADS_2