Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 20. Pertemuan


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Baiklah! aku sudah memutuskan langkah apa yang selanjutnya harus aku ambil, aku harus mentindak lanjuti masalah ini dengan tegas, siapapun yang sudah melakukan hal tidak baik maka akan mendapat hukuman walaupun dia adalah temanku sendiri." Putus Zila.


"Perusahaan sudah memiliki aturan dan wewenang siapapun yang sudah melanggar aturan itu maka dia akan mendapatkan sanksi."


Zila menutup semua file dan juga rekaman CCTV yang sudah dia lihat tadi. Zila membereskan semuanya, setelah itu dia bangkit dari tempat duduknya.


"Mau ke mana?" tanya Sakti saat melihat Zila keluar dari ruang kerjanya, sambil membawa dokumen dan juga flashdisk yang sempat dia berikan pada Zila.


"Aku harus segera menyelesaikan kekacauan ini sebelum besok Pak Kusuma datang ke perusahaan." Sakti mengangguk mengerti kok malah dia membiarkan Zila pergi dari ruangannya.


Zila berjalan dengan tergesa-gesa menuju Aula perusahaan Kusuma Group, dia juga sudah menghubungi beberapa manajer penting untuk hadir keacara aula tersebut.


'Pak Kusuma?' batin Sakti, dia seperti sangat familiar dengan nama yang baru saja Zila Sebutkan.


Sakti masih mematung di tempatnya Sakti juga masih mengingat-ingat nama yang baru saja Zila sebut dengan jelas, dia seperti tidak asing dengan nama Kusuma.


Selama ini Zila memang jarang sekali menyebutkan nama bosnya itu secara langsung pada Sakti, tak tahu kenapa hari ini tiba-tiba saja Zila langsung memanggil nama pak Kusuma.


"Pak Kusuma, aku rasa aku sangat tidak asing dengan nama Kusuma, aku juga merasa sangat mengenal dekat orang yang bernama Kusuma, tapi di mana aku mengenalnya?" ucap Sakti sambil berjalan menyusul Zila yang sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Sakti masih memikirkan tentang Pak Kusuma hingga dia tidak sadar jika saat ini di aula sudah lumayan ramai orang. dan Sakti dapat melihat saat ini Zila menjadi pusat perhatian semua orang, berbagai macam tatapan dilemparkan pada Zila.


"Kita lihat saja siapa yang sebentar lagi akan menanggung malu sendiri, karena perbuatan mereka sendiri." Ucap Sakti, sambil dia tersenyum simpul, tapi sayangnya tidak ada satupun orang yang dapat melihat senyumnya.


Zila tak menggubris tatapan orang-orang yang sedang menatap dirinya, dengan tatapan tak percaya. Zila masih sibuk melakukan kegiatannya, dia harus melakukan pengumuman terlebih dahulu agar para manajer bisa berkumpul di aula, saat ini baru hanya beberapa manajer yang datang di aula.


Zila memastikan terlebih dahulu, apakah mikrofon yang akan dia gunakan berfungsi dengan baik? setelah yakin jika mikrofon itu bisa digunakan, Zila langsung mendekatkan mikrofon itu pada mulutnya.


"Dengarkan Aku! aku umumkan untuk para manajer tolong segera berkumpul di aula! perintah ini dari CEO kita langsung, perintah dari Pak Kusuma." Ucap Zila dengan lantang.


Di dalam aula itu beberapa orang sudah membisik-bisikkan Zila tentang hal yang tidak benar, mereka terus saja menggosipkan Zila jika Zila lah yang sudah melakukan penggelapan dana di perusahaan.


"Ternyata mereka cepat juga tidak seperti yang aku duga." Ucap Zila dengan Lirih, tatapannya tak teralihkan dari sekretaris Arman yang ikut berkumpul juga di sana.


Juga tatapan tajam Zila tak lepas dari salah satu temannya yang selama ini dia percaya. Ternyata sudah berani bermain di belakangnya, orang itu hanya manis di depan Zila saja tapi di belakang Zila dia selalu saja menjelek-jelekkan Zila. Aya yang merasa ditatap oleh Zila merasa aneh, karena tak biasanya Zila menatapnya seperti itu.


'Apakah ada yang salah? Ada apa dengan, Zila.' Batin Aya merasa bingung.


Jujur saja Aya saat ini merasa dirinya sedang terancam, tapi sebisa mungkin Aya menyembunyikan rasa khawatrinya yang datang tiba-tiba, masuk ke dalam rongga hatinya.


'Tak biasanya pak Kusuma mengumpulkan seluruh menejernya di aula, apakah sesuatu sudah terjadi.' Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Aya.

__ADS_1


Sementara itu tatapanya tak lepas dari sekretaris Arman, tak tahu kenapa sekertaris itu bisa hadir juga di aula, padahal bukannya tadi Zila umumkan perkumpulan hanya untuk seluruh menejer di perusahaan Kusuma group.


"Karena kalian semua sudah berkumpul di sini, maka saya akan memberitahukan jika pak Kusuma menginginkan saya mengadakan rapat terbuka di aula untuk kalian semua. Juga untuk seluruh karyawan Kusuma Group" Ucap Zila menggunkan mic.


Semua orang yang berada di dalam aula tentu bisa mendengar suara Zila, mic yang Zila gunakan juga begitu jernih. Mendengar perkataan Zila ada beberapa menejer yang saling berbisik, kenapa pak Kusuma malah menyuruh Zila? padahal pak Kusuma memiliki sekertarsi dan Zila juga saat ini bukankah dalam kasusu penyelidikan tentang penggelapan dana perusahan yang bekisar sampai 1 miliyar.


Zila tersenyum mendengar bisik-bisikan dari para menejer yang berada di aula itu. "Semuanya harap tenang!"


Seketika suasana di dalam aula benar-benar berubah tenang tidak ada lagi yang berisik semuanya berperang pada pikiran mereka masing-masing. Seakan hipnotis kata yang keluar dari mulut Zila membuat mereka semua langsung terdima.


"Dengarkan saya baik-baik! Mungkin kalian heran kenapa saya yang disuruh pak Kusuma mengadakan pertemuan seluruh manajer, padahal beliau memiliki sekretaris." Ucap Zila sambil menatap Arman dengan seringai yang tak dapat ditebak oleh sekretaris Arman.


Bisa dikatakan gelar sekertaris yang di dapat oleh Arman hanyalah kedok sementara, sedangkan semua pekerjaannya Zila lah yang menyelesaikan.


"Saya juga tidak tahu jawabannya, jika kalian penasaran, kalian bisa tanyakan langsung pada pak Kusuma! Untuk hari ini kenapa kalian dikumpulkan ada hal penting yang harus saya sampaikan."


"Kalian tahu bukan berita yang tersebar diseluruh perusahaan, jika dana perusahaan dikorupsi dan kalian juga tahu siapa orang yang sudah melakukan itu, ya benar sekali berita yang tersebar mengatakan jika aku lah pelakunya!"


"Tapi kalian heran buka kenapa aku masih bisa berdiri di sini dan mengadakan pertemuan bersama kalian, karena aku bukan pelakunya! Betul, jika ada yang mau mengatakan mana ada maling mau ngaku ya betul, tapi aku memiliki bukti yang sebenarnya, bahkan bukti yang aku dapat dari. CEO KITA SENDIRI!"


Semua orang terdiam saling tatap satu sama lain, saat mereka mendengar apa yang Zila katakan. Mereka semua tak menyangka jika Zila akan begitu berani, sekarang yang ada di dalam pikiran mereka siapakah yang sudah menyebarkan fitnah jika Zila yang sudah menggelapkan dana perusahaan? Lalu siapa juga sebenarnya dalang dari balik semua kejadian ini?, kenapa berita tentang Zila sangat menyebar begitu cepat.

__ADS_1


__ADS_2