
Bismillahirohmanirohim.
Sudah satu jam setelah kedatangan sekertaris Arman dan Aya didevisi keuangan, Sakti belum juga mendapatkan informasi apa-apa tentang orang yang sudah menyebarkan fitnah untuk Zila.
"Huh! tidak ada informasi apa-apa di sini, apakah aku harus mengobrak-abrikan data-data keuangan di perusahaan ini agar aku bisa mendapatkan semua informasi yang aku mau." Keluh Sakti.
Arwah tampan itu akhirnya menyerah juga setelah menunggu lama tak mendapatkan informasi sedikitpun, yang dia lihat hanyalah Aya dan Arman yang masuk ke dalam divisi keuangan secara bersama tapi sepertinya tujuan mereka berdua berbeda.
"Sudah lebih baik aku kembali saja ke ruangan Zila, pasti saat ini dia sedang sedih." Putus Sakti akhrinya.
Tapi sebelum pergi dari divisi keuangan Sakti lebih dulu mengecek berapa brankas-brakas yang ada di sana ingin memastikan apakah benar uang perusahaan ada yang digelapkan.
Sakti melangkah mendekati ketua divisi keuangan untuk melihat data-data yang dia pegang Sakti begitu yakin semua data-data keuangan ketua keuangan itulah yang memegangnya.
Ketua tim keuangan itu membuka dokumen yang dia pegang dengan cepat-cepat. Sakti menghampiri ketua keuangan itu, Sakti berdiri di sebelahnya. Segera Sakti membaca semua informasi yang ada di dalam dokumen yang sedang dipegang erat oleh ketua devisi keuangan saat, membaca isi dokumen itu mata sakit terbelah kaget.
Di dalam data itu ternyata benar ada beberapa uang perusahaan yang sengaja digelapkan tapi anehnya mereka seakan santai-santai saja, seperti tidak ada apapun yang terjadi padahal uang perusahaan hampir satu miliar digelapkan entah siapa pelakunya.
"Ada apa, dengan orang-orang di divisi keamanan ini? kenapa mereka begitu santai saat ada uang perusahaan yang begitu banyak digelapkan."
__ADS_1
"Apakah mata mereka semua sudah buta jika uang 1 milyar sudah hangus di perusahaan ini mungkin saja jika bos pemilik perusahaan ini tahu ada beberapa karyawannya yang melakukan hal tidak baik akan sangat marah pastinya. Tapi aku lihat-lihat sepertinya tidak pernah melihat bos dari perusahaan ini apakah dia begitu sibuk."
Sakti mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, setelah selesai membaca dokumen itu akhirnya Sakti memutuskan untuk pergi ke ruangan Zila. Saat Sakti keluar dari divisi keamanan dia masih mendengar beberapa orang yang sedang menggosipkan Zila tentang penggelapan dana perusahaan.
"Aku tidak menyangka Ibu Zila akan melakukan hal yang tidak baik seperti itu, padahal CEO kita sangat mempercayai beliau tapi kenapa ibu Zila mengkhianati, Bos." Ucap salah seorang laki-laki yang berpakaian seperti manajer kira-kira begitu.
"Kamu benar aku juga heran kenapa ibu Zila melakukan hal ini padahal sudah 3 tahun bekerja di perusahaan Kusuma group dia tak pernah mendapatkan cap jelek sama sekali."
" Tapi bukankah Jika seperti ini ada yang aneh, sejujurnya aku tidak terlalu percaya jangan berita yang tersebar aku sangat mengenal Ibu Zila, bukan karena dia dari bagianku tapi karena beliau begitu giat dengan pekerjaannya, Ibu Zila juga tidak pernah menunda-nunda pekerjaan yang dia miliki."
"Sebenarnya aku juga seperti itu tidak terlalu percaya, tapi karena bukti yang terlalu kuat membuat aku lebih percaya pada bukti yang ada coba cek saja bukti-buktinya sudah tersebar di mana-mana."
"Sudah, sudah tidak usah membicarakan orang lain sekarang lebih baik kita lanjut bekerja." Lerai seorang perempuan yang bertubuh agak tinggi. Ketiga orangnya pun menuruti apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan tersebut.
Akhirnya mereka menuju meja kerja mereka masing-masing, dan Sakti yang berada di antara mereka segera masuk ke ruang Zila. Sakti masuk ke ruang kerja Zila dia tidak menyangka jika kini gadis itu sudah bergelut dengan pekerjaannya. juga dengan berkas-berkas dan setiap hari selalu membuat dia uring-uringan jika sepulang dari bekerja. Sakti menetap kasihan pada gadis yang sudah membuatnya nyaman itu. saking fokusnya Zila mengerjakan semua pekerjaannya dia tidak menyadari kehadiran Sakti. Perlahan Sakti mendekati Zila yang masih fokus membaca beberapa dokumen dia pegang, saat sudah sampai di sebelah Zila Sakti pun tidak mengganggu kegiatan Zila dia ikut membaca apa isi dalam dokumen yang sedang Zila baca.
"Apakah kamu butuh bantuan?" tanya Sakti setelah dia selesai membaca dokumen yang masih Zila baca, sepertinya Zila memang belum bisa memecahkan isi dokumen tersebut.
"Sejak kapan kamu masuk? lalu Sejak kapan juga kamu berada di sini?" tanya Zila sedikit gugup karena saat ini posisinya dan posisi Sakti begitu dekat.
__ADS_1
Zila tak tahu kenapa jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya entah apa yang gadis itu pikirkan saat ini semua pekerjaan yang ada di dalam pikirannya tadi buyar ketika melihat Sakti dari jarak yang lebih dekat.
'Kenapa dia begitu tampan, aku baru menyadari ketampanan arwah satu ini jika aku memandanginya terus mungkin saja aku bisa gila karena ketampanannya yang tidak aku sadari.' Zila sibuk dengan pemikirannya sendiri sementara itu Sakti melambaikan tangannya di depan muka Zila karena Gadis itu terus saja melamun.
"Zila, Zila, Zila." Panggil Sakti sampai beberapa kali, rasanya ingin sekali Sakti menyentuh Zila tapi dia sama sekali tidak bisa melakukan hal itu, ya hal itu hanya anagan-angan belaka Sakti.
"Zila!" Panggil Sakti lagi kali ini dia memanggil Zila dengan lebih mendekatkan wajahnya pada kuping Zila.
"Eh, Apa sih Sakti ngagetin aja tau nggak sih kamu!" kaget Zila sambil menahan malu pada Sakti.
Jika Zila sadari mungkin saat ini mukanya sudah memerah karena dia tidak biasa dekat dengan laki-laki padahal Sakti merupakan arwah, Kenapa muka Zila harus sampai memerah seperti itu jika berdekatan dengan Sakti.
"Orang kamunya dipanggil dari tadi nggak nyaut-nyaut ngelamunin apa sih Zil? ngelamunin hal tadi tentang kamu yang dibicarakan para karyawan atau ada hal lain yang sedang mengganggu pikiran kamu?"
"Tidak ada! Eee, hanya saja aku belum bisa menyelesaikan pekerjaanku yang satu ini, tadi kamu bilang kamu bisa mengerjakannya kan? Apa kamu bisa membantuku lagi?" ucap Zila dengan gugup.
"Tentu saja aku sangat bisa membantumu, mari aku bantu agar pekerjaanmu cepat selesaim"
"Baik terima kasih banyak Sakti." Sakti mengangguk untuk merespon apa yang baru saja Zila katakan.
__ADS_1
'Apakah gadis ini sudah melupakan apa yang terjadi tadi pagi pada dirinya?' itulah saat ini hal yang sedang mengganggu pikiran Sakti, dia ingin mengatakan pada Zila Apa yang dia lihat di devisi keuangan tadi. Tapi sepertinya Zila sedang melupakan kejadian tadi pagi.