Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 23. Zila


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Lelah sekali hari ini." Ucap Zira, gadis itu melangkah masuk ke dalam kamarnya..


Zila baru saja pulang kerja, dia hari ini terpaksa lembur, karena banyak kejadian yang tak diduga terjadi di perusahaan Kusuma group. Zila sepertinya belum menyadari, jika Sakti sudah tidak ada di rumahnya lagi, entah kemana perginya Sakti, padahal sebelumnya dia mengatakan pada Zila, jika dirinya ingin pulang lebih dulu bukan.


Zila juga masih menenangkan dirinya sendiri, apalagi jika mengingat kejadian di kantor yang sangat menyesakan hati bagi Zira. Bagaimana tidak menyesakan hati, orang yang sudah 3 tahun bersamanya, sudah dan duka mereka bersama, saling mensupport satu sama lain, tapi 3 tahun itu tak berarti, begitu mudahnya orang yang dia percaya berpaling begitu saja.


Ini bukan masalah cinta, tapi kesetiaan seorang, hancur persaan Zila disaat kita selalu menjaga kepercayaan itu, ternyata orang yang kita percayai lah penghancurnya.


Biasanya setelah pulang kerja, Zila akan membersihkan diri, tapi tidak untuk kali ini, dia masih duduk temenung di atas kasurnya.


Zila masih mengingat dengan jelas kejadian di kantor hari ini. "Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku, Aya?" tanya Zila saat itu. Dia memilik kesempatan untuk bertanya pada Aya.


Tentu Zila penasaran, apa alasan Aya sudah memfitnah dirinya, padahal keduanya teman dekat, sejak Aya masuk ke perusahaan Kusuma Group. Zila 4 bulan lebih dulu dibandingkan Aya melamar keja di perusahaan miliki pak Kusuma, setelah Aya diterima Zila lah yang bertugas mentrening Aya, hingga keduanya dekat. Tapi pertanyaan yang Zila lontarkna itu tidak mendapatkan jawaban yang enak, Zila saja sampai heran kenapa Aya bisa melukan hal tidak baik pada dirinya.


"Aku melakukan ini semau demi cintaku pada Arman, ditambah lagi aku iri padamu Zila, kamu selalu saja lebih unggul." Sahut Aya kala itu.


Deg!

__ADS_1


Zila terdima sejenak mendengar jawaban yang keluar dari mulut Aya, Zila tahu jika Aya menyukai sekertaris Arman, tapi Zila tak menyangka Aya rela melakukan apapun demi sekretaris Arman menerimanya. Bukankah begitu tujuan Arman, sepertinya hal ini direncanakan saat Aya yang mengajaknya makan malam bersama sekretaris Arman dan juga Bima.


Tapi yang membuat Zila bingung, bukan kah disana ada Bima tapi kenapa Bisa tidak mengetahui rencana Aya dan sekretaris Arman, sampai Zila sadar ternyata mereka merencanakan semua itu setelah Bima pergi.


Begitulah kira-kira pengakuan Aya dan Arman di tempat mereka bekerja saat itu, sampai Zila tersadar jika dia sedari tadi hanya membuang-buang waktunya untuk melakukan hal yang sudah terlewatkan.


"Yak ampun Zila, lebih baik sekarang kamu bersih-bersih." Ocehnya pada diri sendiri, setelah dia sadar dengan kelakuannya.


Zila segera bangkit dan dia langsung masuk ke kamar mandi setelahnya, Zila kini kembali merasakan badannya yang lengket.


"Ngelamaun aja sih dari tadi." Zila masih saja mengocehkan diri sendiri padahal memang kelakuannya sendiri.


"Aku lapar ternyata." Ujar Zila.


"Lebih baik aku memikirkan mau makan apa ketimbang memikirkan hal yang sudah terlewatkan, cek, cek, cek, Zila kamu ini hadeh."


Setelah memakai baju dengan sempurna Zila segera melangkah ke dapur, kesayangannya dia hendak merasakan makan untuk dirinya dan Sakti. Tapi tunggu, bukankah sedari tadi tidak ada Sakti disitu, sayang sekali Zila belum juga sadar.


Seperti biasa Zila memasak lebih banyak dari sebelumnya, sebelum Sakti masuk ke dalam hidupnya, setelah itu juga Zila akan selalu menyiapkan dua piring makan untuk mereka beruda. Karena anehnya arwah tampan itu bisa makan, tapi tak bisa melakukan apapun selamain makan. Memikirkannya Zila jadi tersenyum sendiri mengingat setiap tingkah Sakti.

__ADS_1


Selesai masak Zila menyiapkan 2 piring makan di mejanya, setelah itu Zila segera melahap miliknya, biasanya setelah Zila memuaskan makanan berapa suap ke dalam mulutnya Sakti akan datang, tapi makana miliki Zila hampir habis Sakti tak kunjung datang juga.


"Sakti makanya sudah siapa, ayo makan." teriak Zila.


"Sak."


"Sakti kalau tidak mau makan aku akan habiskan semuanya." Ancam Zila.


Tapi lagi-lagi tak ada jawaban dari siapapun, Zila masih berpikir positif, mungkin Sakti sedang jalan-jalan pikirnya.


Tapi tiba-tiba dia teringat perkataan Sakti di tempat kerjanya tadi. "Zila aku mau pamit pulang." Ucap Sakti dan Zila mengiakan.


"Apa sih Zil, pasti Sakti lagi lihat-lihat di tempat lain atau mungkin dia masih jalan-jalan."


Zila masih saja berpikir positif padalah tidak ada tanda-tanda jika Sakti akan datang menghampirinya.


Zila mencoba berpikir dengan tenang. Tapi hatinya merasa seperti ada yang hilang.


"Cek, ada apa dengaku." Keluh Zila.

__ADS_1


__ADS_2