
Bismillahirohmanirohim
Saat waktu istirahat tiba Zila sama sekali tidak keluar dari ruang kerjanya, padahal semua pekerjaannya sudah dia selesaikan. Kini Zila menoleh pada Sakti, Zila mengusahakan dirinya untuk tersenyum.
"Terima kasih sudah membantuku dua bulan ini Sakti, di setiap aku kesulitan menyelesaikan pekerjaanku kamu selalu membantu semua ini."
"Sekali lagi aku sangat berterima kasih padamu, maaf saat pertama kali kita bertemu aku menunjukkan kesan yang tidak enak pada dirimu." Sesal Zila.
Sakti pun ikut tersenyum walaupun dia tahu jika senyum yang dia tunjukkan Itu adalah sebuah senyum yang dipaksakan, Sakti yakin jika Zila masih memikirkan kejadian tadi pagi.
"Sama-sama Zila, kamu tidak perlu berterima kasih padaku, aku membantumu dengan sangat tulus."
"Aku tahu itu." Zila kembali tersenyum."Tapi Bolehkah aku bertanya?"
"Silahkan saja Zila, tidak ada satupun yang melarang kamu untuk bertanya padaku Apa yang ingin kamu tanyakan."
"Sebenarnya pertanyaannya tidak terlalu rumit sih, tapi aku hanya penasaran saja kenapa kamu begitu lama berada di divisi keuangan apa yang kamu lakukan di sana?"
"Apakah ada sesuatu yang mencurigakan di sana?" Zila kembali bertanya karena Sakti belum juga angkat bicara Sakti terlihat masih berpikir Apakah dia harus mengatakan pada Zila bahwa saat berada di devisi keamanan dia melihat Aya masuk kesana.
Walaupun ragu akhirnya Sakti mengatakan pada Zila Apa yang dia lihat saat di divisi keamanan..
"Maafkan aku Zil, tapi aku harus mengatakan ini padamu walaupun aku tidak tahu apa yang dilakukan dia di divisi keamanan."
Zila mengangkat satu alisnya heran dengan perkataan Sakti. "Memangnya ada apa? kenapa sepertinya kamu ragu untuk mengatakan hal apa yang sudah terjadi di devisi keamanan Sakti katakan Saja tak apa."
__ADS_1
"Tadi saat aku berada divisi keuangan, aku melihat Aya masuk ke sana D1an juga sekretaris Arman. Tapi aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh Aya dan sekretaris Arman di divisi keuangan."
"Yang aku lihat mereka berdua seperti saling bertatapan tapi tatapan itu seperti tatapan menunjukkan permusuhan satu sama lain."
Zila bingung dengan yang dikatakan oleh Sakti, karena setahun Zila, Aya menyukai sekretaris Arman. Jadi kenapa itu bisa terjadi Apakah ada yang mereka berdua sembunyikan, tapi rasa penasaran Zila lebih dominan pada sekretaris Arman karena dia yakin pada Aya temannya tidak akan melakukan hal tidak baik pada dirinya.
"Mungkin saja kamu salah orang Sakti." Sahut Zila akhirnya.
"Tidak Zil, aku tidak salah orang, aku melihat jelas jika itu adalah Aya tapi dia hanya sebentar berada di devisi keuangan setelah itu dia keluar lagi."
Sakti belum selesai bicara masih ada hal yang harus dia katakan pada Zil tentang apa yang dia lihat di devisi keuangan.
"Apakah masih ada informasi lain yang kamu dapat didevisi keuangan Sakti?"
"Masih ada Zila." Jawab Sakti sambil duduk di kursi tepat di depan Zila Sepertinya dia sudah lelah berdiri sedari tadi.
"Yang anehnya adalah orang-orang di divisi keuangan sepertinya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada mereka, pasalnya saat aku membaca data-data itu ketua tim divisi keuangan sedang membacanya dengan seksama. Tapi tak tahu kenapa seakan ketua tim devisi keuangan itu seperti tidak melihat jika ada catatan uang satu milyar sudah digelapkan dari perusahaan ini."
"Kamu serius Sakti?" Zila pasti sudah jelas. tidak akan karena percaya selama 3 tahun bekerja di perusahaan Kusuma group Zila tidak pernah melihat perusahaan ini mendapat masalah.
"Aku yakin Zila."
"Mungkin saja para karyawan di perusahaan ini memanfaatkan keadaan saat Bos kalian tidak ada diperusahaan. Bukankah kamu bilang sudah 2 bulan ini bos Kamu jarang sekali pergi ke perusahaan."
"Iya benar."
__ADS_1
Zila berpikir sejenak sepertinya kali ini dia memiliki tugas yang lebih berat, Zila harus memecahkan misteri yang terjadi di kantornya mungkin ada-ada saja siapa yang sudah membuat teka-teki seperti ini dan siapa juga yang sudah berani menggelapkan dana perusahaan. Tapi sebelum itu Zila rasa dia butuh beristirahat terlebih dahulu sebelum memecahkan semua kejadian janggal di perusahaan Kusuma Group.
"Sakti." Panggil Zila, Sakti hanya mengangkat satu alisnya saat Zila memanggil dirinya.
" Ada apa, Zila?"
"Bisakah besok kamu membantuku untuk memecahkan semua masalah ini dan kita akan segera menangkap siapa pelaku penyebaran fitnah dan juga siapa pelaku yang sudah berani menggelapkan dana perusahaan."
"Tentu saja aku dengan senang hati bisa membantumu."
"Teirma kasih Sakti."
Sakti berdecak sebal karena lagi-lagi Zila selalu mengucapkan terima kasih pada dirinya. Padahal tapi sudah berulang kali mengatakan pada Zila tidak usah mengucapkan terima kasih karena dia benar-benar tulus menolong Zila.
"Jika besok kamu akan melakukan semua ini lalu hari ini kamu mau ke mana bukankah semua pekerjaan kamu sudah selesai?" Kali ini Sakti yang dibuat bingung oleh Zila. Sakti tak tahu apa yang direncanakan Zila sekarang.
"Hari ini aku harus beristirahat terlebih dahulu dan di rumah aku akan mencari cara untuk segera mendapatkan informasi dari kejadian pagi ini, kejadian di hari ini. Sebelum pemilik perusahaan tahu lebih dulu apa yang sudah terjadi di perusahaannya, aku tidak bisa membayangkan jika beliau tahu kekacauan yang terjadi di perusahaannya."
Lalu Zila merogoh kantong kemejanya untuk mengambil handphone yang diletakkan di situ jelas segera membuka hpnya untuk menghubungi sang bos, karena dia ingin izin pulang lebih dulu untung saja pekerjaan Jila sudah selesai dengan cepat.
"Kamu mau ngapain Zil?"
"Aku mau izin pulang lebih cepat hari ini pada bosku." Zila menjawab pertanyaan Sakti sambil kedua bola matanya masih fokus pada benda segi panjang yang bisa digunakan untuk banyak hal.
Zila segera mencari kontak pak Kusuma di handphonenya setelah mendapatkan nama pak Kusuma Zila segera menghubungi kontak beliau. Zila segera mengetik sesuatu di kontaknha yang tertera nama pak Kusuma.
__ADS_1
'Selamat siang menjelang sore Pak Kusuma, hari ini pekerjaan saya sudah selesai sebelum jam istirahat. Saya ingin meminta izin pulang lebih dulu pada bapak.' Setelah selesai mengetik Zila segera mengirimkan pesan yang sudah dia ketik tadi pada kontak.
Tanpa menunggu jawaban dari bosnya itu Zila langsung membereskan semua alat-alatnya dia masukkan ke dalam tas dan dia segera keluar dari ruang kerjanya. Zila tak tahu kenapa dia yakin jika pak Kusuma hari ini akan mengizinkannya pulang lebih cepat.