Satu Atap Dengan Arwah

Satu Atap Dengan Arwah
Bab 27. Bertemu Zila


__ADS_3

Bismillah.


Tina sudah berada di kamar yang tadi pak Kusuma sebutkan pada istrinya itu, dimana Zila dirawat.


"Kamu namanya Zila buka?" tanya Tina pada salah seorang pasien yang berada di ruang rawat bersama itu.


Orang yang ditanya oleh Tina pun menggeleng, dia bukan Zila. "Mungkin ibu bisa menanyakan pada pasien yang ada di sebelah saya."


Pasien permpuan yang ditanya oleh Tina tersebut berkata dengan sopan. "Baik, maaf telah mengangguk waktu istirahat kamu." Tina merasa tidak enak.


"Tak apa, bu."


Tak lupa pasien yang Tina sapa itu tersenyum ramah pada istri pak Kusuma. Orang terkenal di kotanya itu. Tapi sepertinya pasien tadi tidak mengenali Tina. Dia memang ramah saja pada orang. Tina segera membuka sedikit hordeng di sebelah pasien tadi.


Tapi bukan gadis yang Tina temui melaikan wanita paruh baya seumuran dirinya atau mungkin jauh lebih tua dari pada dirinya, sedang berbaring tak berdaya di atas brankar sederahan.


"Maaf ibu." Ucap Tina sopon, pasien tersebut hanya mengangguk.


Tina segera menuju pada barisan terakhir. "Mungkin saja dia di sana."

__ADS_1


Tina cepat berjalan mendekati hordeng terakhir, tanpa aba-aba Tina langsung membuka hordeng itu.


Terlihatlah dua orang di dalam sana sedang mengobrol ringan, satu ibu-ibu sudah agak tua, duduk di kuris dekat brankar gadis cantik yang sedang tersenyum, sambil bercerita pada ibu-ibu yang duduk di kursi tersebut.


Walaupun muka gadis itu terlihat pucat, tapi dia tetap cantik, cantiknya sama sekali tidak pudar, ditambah senyum tipis yang selalu dia tujukan, membuat gadis itu semakin cantik saja. Tina saja yang baru peratama kali melihat gadis itu langsung merasakan aura positif yang terpancar.


Zila dan mbok Ijah yang sedang merawat Zila, menoleh pada orang yang membuka hordeng, tempatnya ditawat sedikit kasar.


"Maaf apakah saya mengangguk?" tanya Tina memastikan.


Zila menggeleng. "Boleh saya masuk?" ucap Tina lagi, Zila mengangguk, mbok Ijah tersenyum pada Tina.


"Apa benar kamu namanya, Zila?"


Zila menatap heran wanita paru baya berpapasan ayu di depannya ini, Zila sama sekali tidak mengenal wanita paruh baya yang kini sudah duduk di atas brankar rumah sakit yang sedang dia tempati. Posisi Zila yang duduk membuat brangkar itu sedikit longgar. Zila tidak mengenali istri bosnya itu, karena memang ibu Tina yang tidak pernah datang langsung ke kantor.


Mbok Ijah juga memberikan ruang untuk Zila dan perempuan yang tidak dia kenali sama sekali itu ruang untuk berbincang bersama.


"Benar saya Zila ibu, ibu siapa ya?" bingung Zila.

__ADS_1


Memang selama bekerja di perusahaan Kusuma group Zila tak pernah sekali pun melihat wajah istri dari pemilik perusahaan Kusuam group, walaupu hanya difoto saja Zila benar-benar tidak pernah melihatnya.


"Saya istrinya pak Kusuma." Jawab Tina tanpa menutup-nutupi apa-apa dari Zila.


Bukan mau sombong hanya saja agar dia bisa lebih bisa mengenal Zila. Baru pertama kali bertemu dengan Zila, tak tahu kenapa Tina langsung menyukai gadis yang selama 3 tahun ini sudah banyak mengabdi di perusahaan suaminya.


"Ibu Tina, maaf saya tidak bisa mengenali anda." Sesal Zila merasa tidak enak hati.


"Tak masalah Zila, lagipula saya memang tidak pernah datang ke perusahaan. Panggil mama saja ya Zila, biar kelihatan enak gitu." Suruh Tina.


"Eh, iya ma." jawab Zila masih ragu.


Tentu saja Zila ragu masih pertama kali bertemu dengan istri bos, langsung disuruh panggil mama, tentu rasanya canggung sekali bagi Zila. Sebelumnya dia memang tidak pernah begitu dekat dengan orang lain.


"Nah, gitukan enak didengarnya Zila."


"Hehe, iya ma." Sahut Zila lagi, dia benar-benar masih merasa canggu pada istri bosnya ini.


Zila, Tina dan bi Ijah akhir berbincang bersama, ketiga orang itu langsung akrab dalam kurung waktu cepat, mereka sama-sama hobi berbincang banyak hal.

__ADS_1


__ADS_2