
"Kriiiing... kriiiiiing"
"Kriiiing... kriiiiiing" Alarm di atas meja terus saja berbunyi.
"Enghh"
Seorang gadis melenguh sambil meregangkan otot setelah membuka matanya. Waktu masih menunjukan pukul lima pagi. Seperti biasa, ia mulai menjalankan aktivitasnya.
"Hari ini masak apa ya enaknya? Sop ayam sepertinya cocok untuk pagi ini." gumamnya sambil memilih bahan masakan.
Tidak lama kemudian, dapur sudah ramai dengan suara dentingan wajan dengan spatula. Aroma sedap mulai tercium hingga membangunkan anggota keluarga yang lain.
"Masak apa kak?" tanya seorang gadis kecil dengan muka bantalnya.
"Sop ayam kesukaan kamu dek" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari alat masaknya.
"Udah kamu mandi dulu sana, abis itu siap-siap ke sekolah. Jangan lupa bangunkan nenek dulu" imbuhnya.
"Hmm" gumam gadis kecil itu.
Setelah semua masakan sudah terhidang di meja, gadis remaja itu beranjak mandi dan siap-siap juga ke sekolah. Ia sekarang sudah memasuki semester akhir kelas XII. Setelah selesai sarapan, ia langsung berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan umum. Ya, jarak dari rumah ke sekolahnya hanya 3 km. Jarak yang tidak jauh juga tidak dekat.
"Aduh kok udah jam 7 kurang si. Perasaan tadi udah bangun pagi deh" gerutu gadis itu sambil berjalan cepat menuju kelasnya.
Pagi ini jadwalnya guru killer pada jam pertama. Jadi jika ia telat, bisa-bisa tidak ikut kelas dan berakhir dengan dijemur di tengah lapangan.
"Huhh untung aja" ucapnya lega setelah melihat ruang kelas masih ramai belum ada guru.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit tetap ramai suara gaduh khas anak sekolah.
"Woy, guru ngga dateng. Jamkos nih, kantin yuk" teriak seseorang ditengah keramaian.
"What? Jam kosong? Sia-sia dong tadi aku lari-lari ke kelas" keluhnya kesal.
"Yaelah namanya juga bentar lagi lulusan, wajar lah kalo guru kadang masuk kadang enggak" jawab Sinta, sahabat dekatnya sambil makan jajan.
"Makanya jangan rajin-rajin amat jadi orang" imbuhnya.
"Bukan gitu, kita kan sebentar lagi lulus nih. Harusnya kan belajarnya lebih ekstra. Apalagi minggu besok udah mulai try out" jawabnya kesal.
"Vanya, Vanya. Kamu itu emang bener-bener kutu buku ya. Ya wajar si kalo kamu jadi tangan kanannya guru-guru disini" lagi-lagi Sinta menyahut dengan candaan.
"Tangan kanan apaan. Biasa aja kali" elaknya.
"Siapa si yang ngga tahu Vanya Ressyana Putri. Siswi kelas XII IPA 1. Mungkin dari ujung kelas X sampai kelas XII juga tahu. Guru-guru juga sering nyebut nama kamu. Udah mau UN aja masih mikirin pelajaran mulu. Ngga capek apa otak kamu mikir terus" cerocos Sinta masih setia dengan cemilannya.
"Tau ah" jawabnya masih merengut.
__ADS_1
Dan jam kosong terus berlangsung hingga jam pelajaran terakhir, hanya ada sebuah pengumuman bahwa Ujian Nasional dilaksanakan bulan depan.
"Oh iya, ngomong-ngomong aku belum pernah main ke rumah kamu. Kita udah temenan 3 tahun loh. Kamu nggak ada niatan apa ngajak aku main ke rumah?" tanya Sinta sambil menggandeng tangan Vanya menuju halte sekolah.
"Nggak" jawab Vanya singkat.
"Yaelah kenapa si? Kan aku juga ingin kenal orang tua kamu. Setiap ambil raport kan mereka nggak pernah datang. Selalu kamu ambil sendiri. Padahal kalau Ayah atau Ibu kamu yang ambil kan pasti bangga. Secara kamu selalu ada dalam 3 besar paralel" cerocos Sinta tanpa jeda.
Sinta memang begitu cerewet, cocok dengan Vanya yang pendiam dan jutek. Sejenak langkah Vanya terhenti mendengar perkataan Sinta. Sinta pun otomatis ikut berhenti dan menatap Vanya heran.
"Kenapa? Aku benar kan mereka pasti bangga?" tanya Sinta bingung.
"Aku.." Vanya terlihat ragu untuk menceritakan tentang keluarganya.
"Aku broken home Sin" lanjut Vanya sambil tersenyum.
Sinta hanya dapat menganga tak percaya dengan pernyataan sahabatnya sendiri. Apa-apaan ini. Mereka bersahabat selama 3 tahun, tapi Sinta baru mengetahui hal ini.
"Ma-maaf Vanya, serius aku ngga tahu. Kenapa selama ini ngga pernah cerita? Aduh, bodoh kenapa juga aku tanya hal ini" oceh Sinta merasa bersalah.
Vanya pun hanya bisa tersenyum menanggapi sahabatnya, dan meyakinkan Sinta bahwa ia baik-baik saja. Ya, Vanya memang sudah terbiasa dengan hal itu. Ia ditinggalkan orang tuanya sejak umur satu tahun. Sejak saat itu, ia tinggal bersama neneknya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
'Ayah, Ibu. Apa kabar? Anakmu ini merindukan kalian. Aku berjanji akan berusaha menjadi yang terbaik.'
*****
'Bersyukurlah kalian yang masih bersama dengan kedua orang tua. Bisa merasakan kasih sayang mereka. Sayangi mereka seperti mereka menyayangimu'
****
"Biasa aja Nya, nggak usah tegang gitu. Kamu pasti bisa kok" ucap Sinta sambil menepuk-nepuk pundak Vanya memberi semangat.
"Hmm" saut Vanya masih komat-kamit menghafal sambutan.
"Oh iya, siapa nanti yang dateng sebagai wali kamu? Nenek?"
"Mama"
"Hah? Serius?" Sinta terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Vanya hanya tersenyum menanggapi sahabatnya. Ia heran, kenapa malah Sinta yang terlihat heboh dengan kedatangan ibunya. Ya, kemarin memang ia meminta ibunya untuk datang menghadiri acara kelulusannya.
"Aaa.. akhirnya aku bisa ketemu sama mama kamu, pasti dia bangga lihat kamu yang seperti ini"
"Semoga saja" jawabnya tak yakin.
"Setelah ini, kamu mau lanjut kuliah atau kerja Nya?"
__ADS_1
"Aku bingung" jawabnya sambil meletakan kertas hafalannya.
"Bingung kenapa? Bukannya kamu dapat beasiswa UNY ya? Ambil aja Nya, kesempatan emas itu. Nanti aku ikut kuliah disana deh" tawar Sinta
"Aku bingung Sin, iya si kuliahnya gratis. Tapi biaya hidup gimana?"
"Kan ada aku Nya, atau kita bisa kuliah sambil kerja kan?" Sinta terus meyakinkan Vanya untuk mengambil kuliahnya.
"Ah benar juga ya, kenapa aku tidak kepikiran seperti itu"
"Kau itu pintar tapi kadang bodohnya kelewatan" saut Sinta sambil menoyor kepala Vanya pelan.
***
Acara tengah berlangsung. Dan kini giliran Vanya memberikan sambutannya. Kata demi kata ia rampungkan dengan apik. Tapi ada satu yang mengganjal dalam hati Vanya. Ya, presensi Ibunya belum terlihat sampai sekarang.
"Gila, sambutan kamu bagus banget Nya. Lihat tuh semua orang kagum sama kamu"
"Ah biasa aja Sin" jawab Vanya malu-malu.
"Eh tante, apa kabar?" tanya Vanya baru sadar ketika melihat Ibunya Sinta tersenyum di sebelah anaknya.
"Alhamdulillah baik, kamu juga sehat kan? Kamu luar biasa sekali Vanya. Andai Sinta bisa seperti kamu, pasti tante bangga sekali"
"Selalu saja begitu. Ibu kan tahu, standar otakku tidak bisa menyaingi Vanya" jawab Sinta kesal.
"Tapi Ibu tetap bangga padamu, Nak" jawab Ibu Sinta sambil mengelus kepala putrinya.
Ah, pemandangan yang sangat membuatnya iri. Bahkan ia sampai lupa, kapan terakhir kali Ibunya melakukan itu padanya. Ia hanya tersenyum menanggapi obrolan kedua anak dan ibu itu. Ia masih celingak-celinguk mencari sosok Ibunya. Tapi hingga ujung acara, penyerahan hasil ujian dan mendali pun presensi Ibunya belum terlihat.
"Vanya Ressyana Putri"
"Saudari Vanya Ressyana Putri, silahkan maju kedepan beserta walinya"
Hening
"Vanya Ressyana Putri"
Namanya sudah dipanggil tiga kali, tapi Vanya masih bergeming dengan mata berkaca-kaca. Ia menekan dadanya kuat untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit. Hingga akhirnya ia berdiri, tanpa sosok Ibu yang berjanji akan menemaninya.
"Vanyaa" panggil Sinta menahan tangis.
"Udah, aku nggak apa-apa. Mungkin Mama lagi sibuk" jawab Vanya tersenyum.
Vanya memang tersenyum, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ia menahan semuanya. Ia melangkah pasti melewati banyak pasang mata yang menatapnya iba.
'Ma, tak sudikah engkau menjadi waliku hari ini saja? Mengapa kau ingkari janjimu kemarin'
__ADS_1
'Tahan Vanya, kamu nggak boleh menangis. Kamu kuat, bahkan sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Ayo semangat Vanya, kendalikan dirimu' ia berusaha menguatkan diri sendiri. Hingga saat ia menginjakan kaki pada tangga terakhir,
"Tungguu"