Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Fansign (1)


__ADS_3

"I-ini dari kamu?"


Yoongi hanya tersenyum sambil mengacak rambut Vanya pelan lalu meninggalkan Vanya begitu saja tanpa kata.


Sedangkan Vanya yang diperlakukan seperti itu masih mematung, tak percaya. Ia lalu menarik kesadarannya sendiri dan melangkah keluar.


"Nya, tadi kamu nangis? Kenapa?" tanya Kim khawatir.


Vanya yang baru saja akan mengambil tasnya pun menoleh sebentar ke arah Kim.


"Aku ngga apa-apa kok. Cuma tadi menghayati lagu aja" jawab Vanya.


"Yakin cuma menghayati lagu aja? Bukan lagi keinget sama Soka?"


Vanya terkejut dengan pertanyaan itu. Dia menatap Kim penuh tanda tanya.


"Aku tadi tanya Sinta" ujar Kim seakan mengerti pikiran Vanya.


Vanya hanya tersenyum, tapi dari sorot matanya terlihat ia sedang menutupi rasa sakit.


"Nggak apa-apa. Aku pulang duluan ya?"


Vanya langsung pergi setelah berpamitan kepada Kim dan teman-temannya. Ia hanya tidak ingin melihatkan kesedihannya kepada orang lain.


***


Sesampainya di apartemen, Vanya langsung membersihkan wajahnya dan bergegas ke kamar mandi. Sinta yang melihat hal itu hanya terheran. Tumben-tumbenan ya kan Vanya mandi 2 kali hari ini. Biasanya juga sehari sekali.


Satu jam lebih Vanya menghabiskan waktunya di kamar mandi. Saat keluar, wajah Vanya sudah berubah sedikit ceria.


"Nya" panggil Sinta.


"Hmm"


Vanya hanya berdehem tanpa memalingkan wajahnya ke arah Sinta. Karena saat ini Vanya sedang menggunakan cream malamnya.


"Temenin sebentar yuk"


Sinta mendekat ke arah Vanya, ia tahu apa yang Vanya rasakan saat ini.


"Kemana?"


"Supermarket sebrang"


Vanya hanya menganggukan kepalanya sejenak. Setelah selesai, Vanya langsung mengambil masker lalu melangkah keluar bersama Sinta.


Di supermarket, Vanya hanya mengekor kemana Sinta mendorong trolinya. Sinta pun sebenarnya juga bingung akan membeli apa. Karena tujuannya ke supermarket adalah mengalihkan fikiran Vanya dari hal-hal yang pernah menyakitinya.

__ADS_1


Sinta mengambil beberapa es cream dan dua batang coklat. Dia tahu dua jenis makanan itu adalah kesukaan Vanya.


"Nih kesukaan kamu" ujar Sinta sambil menyodorkan es cream kepada Vanya.


Vanya yang sangat doyan dengan es cream langsung menerimanya dengan senang.


"Gomawo"


Vanya langsung memakan es cream tersebut. Dan benar saja, ia melupakan sesuatu yang menganggu pikirannya saat ini. Sinta yang sudah melihat Vanya tersenyum ikut senang.


Mereka pun menikmati es cream masing-masing sambil berjalan kembali ke apartemen mereka.


"Lepaskan sesuatu yang membuatmu sakit Nya. Jangan ingat-ingat lagi" ujar Sinta pelan.


Vanya refleks menghentikan gerakannya yang sedang menikmati es cream tersebut. Vanya juga heran mengapa akhir-akhir ini ia mengingat kembali hal itu. Bahkan hanya lewat lagu saja bisa menampilkan kilas balik hal tersebut.


"Aku tahu bagaimana sakitnya meskipun aku nggak mengalami. Tapi setidaknya kamu harus bahagiakan diri kamu sendiri. Love your self" lanjut Sinta.


Vanya hanya tersenyum menanggapi kalimat Sinta. Memang selama ini yang paling mengerti kondisi Vanya hanyalah Sinta.


"Tumben bijak" ejek Vanya pada Sinta.


Sinta tertawa mendengar Vanya sudah mau menjawab omongannya.


"Haha, aku hanya coppy paste kata-kata dari RM. Intinya harus mencintai diri sendiri" ujar Sinta membanggakan motivasi dari idol mereka.


Vanya mengernyitkan dahinya, berpikir sejenak. Sedangkan Sinta mengangguk ketika Vanya menyebut nama leader dari Bangtan Sonyeondan.


"Kalau di Jawa kan arem-arem kembarannya lontong. Apakah di Korea juga sama sejenis lontong juga?" tanya Vanya dengan wajah tanpa dosa.


Sinta spontan memudarkan senyuman di wajahnya. Bagaimana tidak? Di Indonesia khususnya Jawa, arem-arem adalah sejenis makanan dari nasi ketan yang di dalamnya biasanya berisi ayam, abon, atau sejenisnya. Sedangkan yang ia bahas adalah RM, bukan arem-arem.


"Nyesel aku ngomong sama kamu"


Sinta mengatakan hal tersebut sambil melengos. Capek juga lama-lama menghadapi Vanya. Sudah hampir 2 tahun tinggal di Korea, tapi juga nggak paham-paham dengan idol ternama dari negara tersebut.


"Kan aku cuma nanya" jawab Vanya tak mau kalah.


"Udah lah Nya terserah kamu. Bodoamat udah. Aku mau tidur aja"


Sinta lantas membaringkan tubuhnya dikasur tersebut lalu menarik selimutnya. Ia sudah cukup sabar menghadapi Vanya selama ini jika mengenai BTS. Padahal Sinta pun tahu jika Vanya itu nol besar jika tentang itu.


"Dih ditanyain serius juga"


"RM itu Kim Namjoon Nya, bukan kembarannya lontong" jawab Sinta kesal.


Sinta menyibakkan selimutnya lalu duduk kembali bersandar di kepala ranjang.

__ADS_1


"Nah kalo kamu bilang Kim Namjoon kan aku ngga salah nebak. Bukan salah aku dong" ujar Vanya membela diri.


"Kamu aja yang lemot" tukas Sinta tak mau kalah.


"Udahlah aku mau tidur aja. Besok aku mau ke acara fansign. Jadi malam ini harus istirahat yang cukup. Biar besok fresh pas ketemu dengan 7 Oppa-ku"


Sinta senyum-senyum sendiri membayangkan acara tersebut. Apa lagi bisa bertemu langsung bahkan mengobrol dengan mereka.


Vanya yang merasa tidak tertarik dengan topik pembicaraan Sinta memilih untuk merebahkan diri di samping Sinta. Ia juga merasa sangat lelah hari ini. Tak lama, dengkuran halus terdengar. Menandakan bahwa Vanya sudah berada pada alam mimpi.


"Huh dasar *****" ujar Sinta pelan.


***


Pagi-pagi sekali, Sinta sudah heboh sendiri di kamarnya. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam.


Sementara Vanya terlihat jengah menatap Sinta sedari tadi. Pasalnya, Sinta berkali-kali memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.


Sudah beberapa baju Sinta coba, namun belum menemukan yang cocok menurutnya. Sebegitu pentingnya acara ini menurut Sinta.


"Lama-lama dikeluarin semua tuh baju" gerutu Vanya risih melihat Sinta begitu ribet pagi ini.


Sinta mencebikkan bibirnya mendengar gerutuan Vanya. Sedangkan Vanya tidak berniat sama sekali membantu Sinta. Tentu saja karena selera fashion mereka berbeda.


"Bagus yang ini apa yang ini?" tanya Sinta sambil menenteng 2 baju ditangannya.


Vanya mengamati sebentar 2 baju tersebut.


"Yang itu" tunjuk Vanya pada baju yang dipegang di tangan kanan Sinta.


"Oke aku pakai ini" jawab Sinta memilih baju yang dipegang di tangan kiri.


Vanya memutar bola matanya malas. Sekarang ia percaya bahwa jika perempuan bertanya, sebenarnya 95% wanita tersebut sudah tahu jawabannya.


'Lalu untuk apa tadi nanya?' ujar Vanya dalam hati.


Sinta kini sedang berkutat dengan make up-nya. Padahal wajahnya sudah cantik, ditambah polesan make up pada wajahnya tentu saja membuatnya lebih mempesona.


"Emang acaranya jam berapa Sin?" tanya Vanya heran.


"Jam 10 sih acaranya"


Vanya melongo mendengar jawaban Sinta. Karena saat ini baru pukul 7, tapi Sinta sudah siap segalanya.


'Benar-benar totalitas tanpa batas' batin Vanya.


Sinta sudah siap segalanya, tinggal berangkat ke tempat acaranya. Ia mengambil tasnya dengan bersenandung kecil. Vanya hanya geleng-geleng melihat sahabatnya yang sudah mulai gila itu.

__ADS_1


"Oppa I'm coming" teriak Sinta membuat Vanya yang sedang minum langsung tersedak kaget.


__ADS_2