
"Tungguu"
Seorang wanita berjalan cepat kearah dimana Vanya berdiri.
"Biar saya yang jadi walinya" ucap Bu Titin, salah satu guru di sekolahnya.
Vanya hanya bergeming tidak menyangka. Ternyata masih banyak yang peduli padanya. Perlahan Vanya tersenyum, dengan digandeng Bu Titin ia melangkah maju menerima mendalinya.
"Setelah acara ini selesai tolong ke ruangan saya, ada kabar baik untukmu" bisik Bu Titin terlihat sangat senang.
Kabar baik apa? Bahkan saat ini hatinya masih terluka dengan tidak hadirnya sosok Ibu di sampingnya. Bukankah hal ini bukan pertama kali bagi Vanya? Tapi mengapa rasanya sungguh menghimpit dada. Sesak.
"Baik Bu"
****
"Sin, kamu pulang duluan aja ngga apa-apa? Aku ada urusan sebentar" Vanya duduk masih bingung, kira-kira kabar baik apa yang akan dia terima.
"Urusan apaan?" Sinta tak kalah penasaran rupanya.
"Ngga tahu, tadi dipanggil Bu Titin ke ruangannya"
"Yaah, padahal aku mau ngajak kamu nonton livenya Bangtan" Sinta terlihat lesu tidak ada teman nontonnya.
"Hah apaan tadi? Bang-bangtan? Apaan dah"
"Bangtan Vanya, nih denger baik-baik. Namanya itu Bangtan Sonyeondan. Itu loh oppa-oppa yang sering aku ceritain" eja Sinta menyebut nama Boyband asal Korea Selatan idolanya tersebut.
"Ya ampun Sinta, kalo kamu ngajak aku nonton mereka mending aku tidur aja di rumah. Lebih berfaedah" celetuk Vanya yang memang tidak tertarik dengan oppa-oppa itu.
"Udah ya, aku mau ke ruangan Bu Titin dulu. Semangat nontonnya. Oh iya salam deh buat oppa kamu itu, siapa namanya aku lupa.
Ah, Jongkok ya itu Jongkok"
"Jungkook Vanya, Jeon Jungkook. Ish kamu ini"
Sinta ngedumel panjang, padahal Vanya sudah lari sebelum kena amukan Sinta karena salah mengeja nama Oppa-nya itu.
****
__ADS_1
Setibanya di ruangan guru,
"Vanya, silahkan duduk dulu"
Vanya hanya bisa menurut dan tersenyum melihat Bu Titin membolak-balikkan beberapa kertas. Dalam hati ia juga bingung, sebenarnya apa yang akan disampaikan Bu Titin kepadanya?
"Emm Bu, saya kenapa dipanggil kesini ya?" tanya Vanya memecah kecanggungan yang ia rasakan.
Bu Titin hanya tersenyum, tak lama kemudian ia ikut duduk di hadapan Vanya.
"Vanya, sebelumnya saya ucapkan selamat yah kamu sudah lulus sekarang. Bahkan saya dengar kamu dapat beasiswa di UNY ya?" Bu Titin tanpa henti mengulas senyumnya.
"Ah iya Bu, terima kasih. Kalau masalah beasiswa saya juga masih bingung Bu. Sedangkan saya juga masih punya adik yang masih sekolah"
Jujur saja, Vanya terlihat ragu akan mengambil beasiswa tersebut. Ia sangat ingin melanjutkan pendidikannya, tapi bagaimana dengan adiknya yang masih membutuhkan biaya banyak. Tidak mungkin dia akan merepotkan Neneknya lagi.
"Begini saja Vanya, maaf sebelumnya" tiba-tiba Bu Titin menjeda apa yang ingin beliau katakan.
"Emm, Ibu mengajukan beasiswa atas nama kamu di Sungkyunkwan University, salah satu universitas di Korea Selatan. Dan kamu tahu, kamu diterima di sana"
Kaget, shock, bingung. Itu yang dirasakan Vanya sekarang. Dalam fikirannya hanya ada satu pertanyaan. Bagaimana bisa? Dia selama ini tidak pernah berfikir bisa kuliah di luar negeri. Apalagi Korea Selatan.
"Kamu kaget ya, udah kamu jangan bingung. Kebetulan saudara Ibu dosen di sana. Jadi Ibu sekalian ajukan nama kamu. Nanti di sana juga kalau kamu mau, kamu bisa sambil kerja di cafe miliknya. Suara kamu kan bagus, nanti kamu cuma mengisi bagian penyanyi cafenya saja. Biar bisa fokus kuliah" jelas Bu Titin setelah melihat wajah kebingungan Vanya.
"Semua guru di sini menyayangimu Vanya. Kami ingin memberikan yang terbaik. Untuk masalah pemberangkatan dan tempat tinggal kamu tidak perlu khawatir. Kami sudah menyiapkannya"
Vanya makin melongo dibuatnya. Tiba-tiba air matanya menetes. Ia tidak menyangka akan diberi kasih sayang seperti ini oleh guru-gurunya. Yang bahkan orang tuanya tidak pernah memberikannya. Dia menerima kelulusan hari ini pun tidak terlihat kehadirannya.
Satu per satu gurunya pun memeluknya erat. Memberi semangat dan keyakinan bahwa ia mampu menjadi orang sukses kelak.
"Ibuu tunggu"
Tiba-tiba sebuah teriakan memecah suasana haru ruangan tersebut.
"Loh Sinta, kok kamu?" tanya Vanya menggantung bingung.
"Hehe dari tadi aku nunggu di luar" ujar Sinta menunjuk sebuah kursi di depan pintu.
"Oh iya Bu, boleh tidak saya ikut kuliah bareng Vanya?" tanya Sinta tiba-tiba.
__ADS_1
"Tapi yang saya daftarkan beasiswa kemarin hanya nama Vanya" jawab Bu Titin bingung.
"Ah Ibu, itu tidak masalah. Aku hanya minta tolong sama Ibu untuk merekomendasikan namaku juga agar diterima. Saudara Ibu kan dosen di sana"
"Ya bu ya, please. Aku mohon"
Bu Titin dan guru yang lainnya pun hanya saling pandang, seorang anak pemilik yayasan sekolah yang mereka tempati sampai meminta bantuan gurunya. Mengapa bukan langsung ke orang tuanya saja. Aneh.
"Iya baiklah. Tapi ingat, jaga nama baik yayasan" pesan Bu Titin mengiyakan permintaannya.
"Jinjja? Kamsahamnida" Sinta membungkukan badannya menirukan orang-orang Korea sebagaimana mestinya.
"Nah Vanya, kamu bisa belajar bahasa Korea dengan Sinta. Sepertinya dia sudah mendalami sekali"
Semua guru ikut tertawa menimpali celetukan Bu Titin. Ya, mungkin ada manfaatnya juga Sinta mengidolakan Oppa-Oppa itu sampai dia sedikit lancar bahasa Korea.
****
Vanya pun bergegas pulang ketika semua urusan sudah selesai. Ia sudah tidak sabar menyampaikan kabar baik ini kepada neneknya.
Vanya menggenggam erat selembar kertas persetujuan orang tua atau wali atas keberangkatannya ke Korea. Tentu saja Vanya harus meminta izin terlebih dahulu. Apalagi meninggalkan Nenek dan adiknya jauh ke luar negeri.
"Nenek aku pulang"
Hening.
Biasanya Neneknya langsung menghampiri, tapi kenapa sekarang suasananya sangat sepi. Kemana Nenek dan adiknya.
"Dek.."
Vanya mencoba memanggil adiknya. Tapi sama saja tidak ada jawaban.
"Ah, mungkin adek belum pulang"
Vanya bermonolog sendiri membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Vanya pun segera mencari Neneknya, ke kamar, ke halaman depan, dapur, kamar mandi, semuanya kosong. Hingga ia sampai ke halaman belakang,
"Neneek.."
Vanya teriak histeris melihat neneknya tak sadarkan diri masih dengan memegang sapu. Vanya langsung memegang pergelangan tangan Neneknya. Denyut nadinya lemah. Vanya langsung terisak menangis sembari keluar meminta tolong, ia tidak mungkin mengangkat Neneknya sendirian.
__ADS_1
Tetangga pun satu per satu datang menolong Vanya. Vanya menangis histeris melihat Neneknya pingsan. Entah dari jam berapa Neneknya tergeletak di sana. Ia tidak mau merasakan kehilangan untuk yang kesekian kalinnya. Ia tak akan siap bila itu terjadi.
Hingga akhirnya pandangannya pun menggelap, dan ambruk tak sadarkan diri.