
"Astagaaa" teriaknya mengingat sesuatu.
"Arghh, bisa-bisanya si"
"Heh, aku belum selesai ngomong kenapa kamu udah teriak-teriak aja. Sekarang coba jelasin kenapa ngga hubungin aku dulu kalo pulang terlambat? Hah?"
Sinta mengacak pinggang, benar-benar mirip neneknya Vanya ketika sedang marah. Vanya hanya terdiam sambil menyenderkan kepalanya di sofa.
"Ni anak ditanyain juga, kebanyakan makan tempe ya jadi budek kamu"
Bukan hanya ocehan, sebuah bantal pun mendarat indah di perut Vanya. Vanya pun tak mau kalah membalas melempar bantal kepada Sinta.
"Heh Juleha. Sejak kapan di Korea ada makanan yang terbuat dari tempe. Kamu fikir itu kimchi dicampur oreg tempe gitu? Atau mungkin itu topokki makannya sambil megang mendoan gitu?"
Sinta hanya tertawa terpingkal-pingkal jika sudah melihat Vanya ngomong panjang seperti itu.
"Tadi tuh sebelum aku pulang, aku nabrak seseorang. Dia lagi dikejar-kejar orang gitu. Terus dia sempet pinjem ponsel aku buat telepon temannya. Tapi bodohnya aku, tuh ponsel belum dikembalikan Sin" ujar Vanya menjelaskan.
"Dia lagi dikejar bank keliling kali" saut Sinta asal.
Vanya hanya menatap Sinta datar. Lagi-lagi kondisi seperti ini sahabatnya itu mau nglawak. Sit down comedy mungkin pikirnya.
Sinta yang mendapatkan tatapan datar dari Vanya hanya mengedikan bahunya.
"Ya siapa tahu kaya emak-emak di Indonesia yang punya tanggungan bank keliling. Sampai main petak umpet yekan"
"Beda Siin. Kamu mending diem aja deh. Besok aku pinjem ponsel kamu buat telepon ponsel aku" ujar Vanya makin kesal.
"Yee udah ditungguin juga, bukannya bilang makasih kek malah langsung ngeloyor masuk aja. Huh"
****
Sementara di tempat lain,
"Hyung, dari mana aja si kenapa baru balik" tanya Jungkook cemas.
"Tadi habis cari angin bentar"
"Terus kenapa tadi ada nomor asing bolak-balik telepon ke ponsel hyung"
Jungkook memang rasa ingin tahunya tinggi. Apapun akan menjadi bahan pertanyaan baginya.
"Oh, tadi hyung pinjam ponsel orang buat minta tolong ke kalian"
"Ponsel orang?" Jungkook makin dibuat heran.
"Iyaa ponsel orang"
"Hah? Astagaa. Jadi belum aku balikin. Ya ampuun" Yoongi menepuk jidatnya pelan.
Jungkook yang makin dibuat bingung hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal, kemudian memilih pergi ke kamarnya sendiri.
Yoongi diam-diam mengamati ponsel tersebut. Sebuah ponsel dengan case simpel berwarna hijau matcha menarik perhatiannya.
"Sepertinya gadis itu pecinta warna hijau" gumamnya kecil.
Dia pun sengaja menekan tombol power. Muncul sebuah wallpaper seorang gadis tersenyum dengan rambut terurai dan terlihat seperti pemandangan sunset di pantai.
"Ah, aku bahkan belum menanyakan siapa namanya. Besok saja aku akan kembali ke cafe itu lagi"
Yoongi kemudian menyimpan ponsel tersebut dan memutuskan untuk segera tidur.
****
Pukul 5 pagi, alarm ponsel Vanya seperti biasanya berdering. Pagi ini sudah berdering 5 kali, tetapi belum ada yang mematikannya.
__ADS_1
"Arghh kenapa berisik sekali"
Yoongi bergerak mencari sumber suara. Ia segera mematikan alarm tersebut karena sangat mengganggunya.
Ketika Yoongi sudah merebahkan diri lagi, tiba-tiba ponsel itu berdering kembali. Tapi bukan karena alarm, melainkan panggilan masuk. Sudah beberapa kali diabaikan, tapi panggilan itu semakin mengusik.
"Ya ampun, pagi-pagi seperti ini kenapa berisik sekali. Mengganggu saja" gerutunya.
Tanpa ragu, Yoongi menekan tombol hijau pada ponsel tersebut. Ia bahkan lupa sedang memegang ponsel siapa?
"Hallo? Ada apa? Kau mengganggu tidurku"
"....."
"Hah? Astaga. Maaf-maaf"
"....."
"Akhir-akhir ini jadwalku padat, bisakah kau datang saja ke agensiku?"
"......"
"Aku hanya free hari minggu"
"....."
"Ya itu terserah kamu"
"....."
"Begini saja. Hari minggu, jam 8 pagi, di restoran Y"
"......"
Yoongi langsung mematikan teleponnya sepihak. Dia sudah sangat mengantuk, ingin melanjutkan mimpinya yang belum selesai.
Sementara Vanya sedang menggerutu kesal karena jawaban Yoongi.
"Kenapa jadi kesannya seperti aku yang membutuhkannya. Padahal aku yang sudah membantunya. Dasaar laki-laki tak punya hati"
Sinta yang melihat hal tersebut pun heran, lalu mendekat. Pasalnya jika Vanya sudah nge-rap seperti ini, pasti itu sangat-sangat menjengkelkan.
"Emang siapa si Nya yang pinjem ponsel kamu? Kamu kenal?"
"Gak"
"Laahh"
Sinta menepuk jidatnya pelan. Menolong orang tapi membuat diri sendiri susah. Agak lain emang Vanya ini.
"Terus tadi bilangnya gimana?"
"Aku disuruh ke tempatnya. Sedangkan disini tuh harusnya dia yang ke tempatku mengembalikan ponselku. Bukan aku yang ke sana. Aneh" tiba-tiba Vanya nge-rap lagi.
"Terus akhirnya dia minta ketemuan hari Minggu, jam 8, di restoran Y. Jangan sampai telat" lanjutnya sambil menirukan gaya bicara Yoongi.
Sinta yang melihat hal tersebut pun tertawa dan melanjutkan sarapannya.
"Jangan terlalu membenci orang Nya, takutnya nanti jodoh" goda Sinta.
"Ih jangan deh. Laki-laki kok ngga ada effortnya dikit. Dingin kaya kulkas" gerutu Vanya kesal.
"Mirror please!"
"Udah ngga usah badmood gitu. Nanti aku temenin kamu kerja sampai malam minggu deh. Biar aku ngga terlalu khawatir juga sama kamu"
__ADS_1
Mata Vanya berbinar. Sinta memang paling mengerti dengan suasana hati Vanya.
"Baiklah, kalau begitu ayok berangkat kuliah"
****
"Heeyy"
Sinta teriak dan melambaikan tangan pada dua sahabat lainnya.
"Annyeong" sapa mereka kompak.
Lee dan Hyeon pun menempati kursi mereka masing-masing. Jika sudah kumpul seperti ini, pasti yang dibahas tidak jauh-jauh dari Oppa mereka.
"Hey, lihat Lee. Aku sepertinya baru melihat warna rambutmu"
Vanya pun mengangguk menyetujui ucapan Sinta.
"Iya, jauh lebih cantik" gumam Vanya menambahkan.
"Ah gomawo" ucap Lee malu-malu.
"Aku mewarnai rambutku, sama dengan warna rambut Yoongi Oppa" lanjutnya.
Vanya yang sedang minum mendengar hal itu pun tersedak.
'Perasaan kemarin masih berwarna hitam. Secepat itu berubah?' batin Vanya.
"Nya, kamu ngga apa-apa?" tanya mereka khawatir.
"Ah, ngga apa-apa cuma keselek"
"Apakah kau begitu mengidolakannya?" tanya Vanya tiba-tiba.
"Hmm"
Lee pun mengangguk dengan antusias.
"Bahkan jika diberi kesempatan, aku ingin menjadi pendampingnya" lanjutnya.
Vanya hanya menggeleng. Fangirl garis keras sepertinya.
"Kau tidak ikut mengecat rambutmu Hyeon?"
"Yaakk, kau mau membantuku mengecatnya kah?"
"Tidak"
Vanya kembali fokus pada minumannya.
"Oh iya Nya, aku tadi telepon ke ponselmu. Tapi kenapa aku mendengar suara laki-laki ya" ujar Lee penasaran.
Vanya pun membulatkan matanya. Duh mampus kau Vanya.
'Berani-beraninya tuh pangsit rebus main angkat telepon orang' ujarnya kesal dalam hati.
"Ah tadi aku lagi liat drakor sama Sinta, iya kan Sin?"
Vanya mencubit paha Sinta agar mau diajak kerja sama.
"Iya bener. Biasalah aku lagi bucin-bucinnya sama drama korea" ujarnya meyakinkan.
'Duh kenapa aku jadi ikut-ikutan bohong gini si. Untung sahabat, kalo bukan udah aku buang lu' umpat Sinta jengkel.
'Awas yah pangsit rebus, kalo ketemu aku jitak kepalamu' Vanya lagi-lagi ngedumel dalam hati.
__ADS_1