Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Restoran Y


__ADS_3

Seperti janjinya tadi pagi, kini Sinta menemani Vanya bekerja. Ia sesekali ikut membantu para waiters ketika banyak pengunjung.


Vanya hanya memperhatikan sahabatnya itu dari tempatnya. Ia sebenarnya tidak tega jika Sinta harus menemaninya bekerja. Tapi memang Sinta yang memaksa untuk ikut.


"Nya"


Sebuah panggilan sukses membuat Vanya mengalihkan pandangannya dari sahabatnya. Vanya hanya menoleh sekilas,


"Apaan?"


"Boleh lah kenalin sama temen kamu itu"


Ternyata sedari tadi bukan hanya Vanya yang memperhatikan Sinta. Tetapi juga Kim, sang pemain musik.


"Kenalan sendiri"


"Yaelah bantuin kek"


"Dih males"


"Katanya temen"


"Masa laki-laki mau kenalan sama perempuan minta dibantuin si" ledek Vanya sambil tersenyum smirk.


Waktu istirahat yang harusnya dimanfaatkan dengan baik malah mereka pakai untuk mendebatkan masalah perkenalan.


Kim yang tahu bahwa bukan hal mudah untuk berdebat dengan Vanya hanya memilih diam tak menyahuti kembali.


Waktu terus berjalan, dan kini cafe sudah mulai sepi. Mereka pun bersiap-siap berkemas.


Baru saja Vanya menggendong tasnya, ia mendengar namanya dipanggil.


"Eh Nya bentar-bentar"


"Apaan si Tuan Kim" jawab Vanya datar.


Kim hanya tersenyum canggung, apa lagi Sinta dari tadi melihat ke arahnya.


"Kamu temannya Vanya ya, boleh kenalan?"


Vanya yang mengerti situasi langsung berpamitan ke kamar mandi. Memberi waktu untuk mereka berdua.


Setelah merasa cukup, Vanya kembali menemui Sinta. Dia ikut tersenyum saat melihat Sinta dan Kim sedang bercanda.


"Asik bener nih kelihatannya" ujar Vanya menaik-turunkan alisnya.


Akhirnya Vanya dan Sinta berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Sebelum pulang Vanya sempet berbisik sedikit keras kepada Kim.


"Aku tunggu traktirannya"


Sinta yang mendengar hal itu hanya tersipu malu. Ia tahu apa maksud Vanya tadi pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Kim hanya mengacungkan kedua ibu jarinya, tanda setuju dengan Vanya.


****


Kedekatan Sinta dan Kim semakin terlihat. Tanpa terasa ini sudah malam minggu. Di malam-malam seperti ini cafe akan sangat ramai. Senyuman di wajah Sinta pun tak pernah pudar karena dekat dengan pujaan hatinya.


Sedangkan Vanya, ia hanya menggelengkan kepala melihat perubahan sikap Sinta. Vanya pun percaya, bahwa cinta bisa membuat gila. Seperti Sinta contohnya, tiap hari selalu senyum-senyum sendiri.


"Sin, besok aku ke restoran Y"


Vanya meletakkan jus alpukat di meja, memilih tempat paling pojok ketika cafe sudah sepi.


"Mau aku temenin?"


"Ngga usah"


"Seriusan?"


Vanya hanya mengangguk sambil meminum jusnya kembali.

__ADS_1


"Aku mau tanya beberapa hal" ujar Vanya tiba-tiba.


"Yaelah, nanya tinggal nanya kayak ngga biasanya aja"


Vanya bingung mau bertanya dari mana dulu. Ia diam beberapa saat.


"Woy. Jadi tanya ngga nih. Malah diem aja"


"Menurutmu, Min Yoongi orangnya bagaimana?"


Sinta yang sedang meminum jus alpukat milik Vanya pun tersedak. Terkejut dengan pertanyaan Vanya.


Bagaimana tidak, selama ini Vanya tidak menyukai hal-hal yang berbau BTS. Sekarang dia malah bertanya tentang salah satu anggota boyband tersebut.


"Kesambet apaan tumben tanya begituan" ujar Sinta masih tak percaya.


"Tinggal dijawab aja apa susahnya"


"Jangan bilang kamu mulai bucin sama BTS ya?"


Bukannya menjawab, Sinta justru meledek Vanya. Vanya hanya memutar bola matanya malas.


"Jawab aja Sin" jawabnya geram.


Sinta masih menatap Vanya curiga. Apakah temannya ini kepalanya habis terbentur benda tajam? Sehingga tiba-tiba bertanya hal seperti ini.


"Lama-lama aku congkel tuh mata natap aku kaya gitu terus"


Sinta tertawa mendengar perkataan Vanya. Memang kadang-kadang perkataanya seperti psikopat. Tapi hatinya tetap hello kity.


"Oke-oke. Intinya Yoongi Oppa itu orangnya dingin, cuek, dan savage. Yaa mirip-mirip lah sama kamu gitu"


Vanya hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.


***


Keesokan paginya, Vanya sudah berdiri tepat di depan restoran Y. Ia menatap sekilas restoran tersebut.


Vanya mulai melangkah masuk, ia disambut oleh beberapa pelayan.


"Permisi. Apakah nona adalah perempuan yang ada janji dengan Tuan Yoongi pagi ini?"


"Iya, saya sendiri"


"Silahkan lewat sini nona"


Vanya hanya mengikuti arahan dari pelayan tersebut. Ia makin terheran karena restoran ini benar-benar sepi. Hanya berisi beberapa pelayan saja.


Kini ia sendiri di ruangan tersebut. Sesekali Vanya melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah 30 menit dia menunggu. Sangat membosankan.


"Jangan sampai terlambat! Tapi justru dia yang sampai sekarang belum nongol" gerutu Vanya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara sepatu mendekat.


"Ehm"


Yoongi hanya berdeham sambil duduk di depan Vanya. Sedangkan Vanya hanya menatapnya sebal karena sudah menunggunya terlalu lama.


"Maaf sudah membuatmu menunggu"


Hening, tidak ada jawaban dari Vanya. Yoongi pun mengeluarkan ponsel Vanya dan memberikannya kepada Vanya.


"Terima kasih sudah membantuku" ujarnya kemudian


"Iyaa" jawab Vanya singkat.


"Siapa namamu? Mari berkenalan" tanpa ragu Yoongi mengulurkan tangannya.


"Vanya" jawabnya sambil membalas jabatan tangan Yoongi.


"Ah lebih baik kita sarapan dulu"

__ADS_1


"Ah tidak perlu. Aku bisa sarapan nanti di rumah" tolak Vanya halus.


"Aku tidak menerima penolakan"


Vanya memilih tidak menjawab lagi. Dia dan Yoongi sama-sama keras kepala dan tidak suka di debat.


"Kenapa restoran ini sepi sekali?" ujar Vanya tiba-tiba.


"Aku sengaja menutup restoran pagi ini" jawab Yoongi santai.


"Apa maksudmu?"


"Restoran ini milikku, dan untuk bertemu denganmu aku menutupnya pagi ini"


Vanya menatap Yoongi tidak percaya.


"Kenapa harus menutupnya?"


"Bukankah kau tahu fansku dimana-mana. Jika mereka melihat aku datang ke sini, dengan seorang wanita. Apa yang ada dalam fikiran mereka?"


Belum sempat Vanya menjawab, makanan yang mereka pesan sudah datang.


"Kau yakin hanya makan itu? Kau boleh memesan sesukamu"


"Ini cukup, terima kasih"


Vanya masih menatap mie di depannya.


"Emm apakah ada garpu?" tanya Vanya sopan kepada pelayan di sebelahnya.


Pelayan tersebut langsung memberikan garpu pada Vanya.


"Kau tidak bisa memakai sumpit?"


"Tidak"


"Sepertinya kamu bukan orang Korea"


"Memang"


"Pantas kulitmu sedikit gelap"


Vanya hanya menatap Yoongi sekilas, kemudian melanjutkan makannya.


'Mentang-mentang kulitnya putih, enak banget tuh ngomongnya' batin Vanya.


"Aku tahu kamu sedang mengumpat" ujar Yoongi ketika melihat Vanya hanya diam.


Vanya yang mendengar hal itu spontan tersedak,


'Apakah dia bisa mendengarnya? Ngeri sih' batinnya lagi.


Vanya memilih tetap diam dan melanjutkan makan hingga selesai.


"Kau pasti mengenalku bukan?" tanya Yoongi tiba-tiba.


"Hanya sedikit tahu"


"Kau bukan ARMY?"


"Bukan"


"Hey, bagaimana bisa ada wanita yang tidak tergila-gila dengan pesonaku. Bahkan 90% wanita mengajakku menikah"


'Percaya diri sekali Anda' ujar Vanya dalam hati.


"Dan aku adalah bagian dari 10% itu"


"Sudahlah aku mau pulang. Terima kasih untuk sarapannya" ujar Vanya berpamitan langsung pergi dari restoran itu.


"Cukup menarik" gumam Yoongi dengan senyum smirknya.

__ADS_1


__ADS_2