
Kini Vanya dan Sinta sudah dalam perjalanan pulang. Vanya merasa kesal dengan kelakuan sahabatnya di pusat perbelanjaan tadi.
"Gila kamu"
Sinta yang mendengar ucapan Vanya hanya tertawa, apalagi melihat ekspresi wajah Vanya yang ditekuk karena ulahnya.
"Kamu ngga bakalan tau rasanya. Asik tahu" jawab Sinta membela diri.
"Malu-maluin aja"
Bagaimana Vanya tidak malu, banyak pasang mata yang melihatnya. Tapi anehnya ada juga yang ikut-ikutan Sinta nge-dance ala Oppa-Oppa mereka.
****
Dua minggu berlalu,
Kini Vanya tengah bersiap di bandara Soekarno-Hatta. Sebentar lagi jadwal pesawatnya berangkat. Namun sayang, nenek dan adiknya tidak dapat ikut mengantarkannya ke bandara. Wajar saja, rumah Vanya berada di wilayah Jawa Tengah.
Sedangkan Sinta sedang berpeluk perpisahan dengan kedua orang tuanya. Banyak sekali wejangan yang diberikan untuk Sinta dan Vanya.
Apakah Vanya iri dengan situasi seperti ini? Tentu saja. Anak mana yang tidak ingin diperlakukan seperti itu.
Suara pemberitahuan bahwa pesawat sebentar lagi berangkat mulai terdengar. Mereka bergegas berjalan menuju kabin pesawat yang akan mengantarkan mereka ke Korea.
"Sin, aku deg-degan banget nih"
Vanya duduk sedikit gelisah. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya dia naik pesawat. Apalagi cuaca tidak terlalu cerah. Ia takut kalau tiba-tiba hujan saat pesawat mulai lepas landas.
"Udah, kamu tenang aja. Banyak-banyak berdoa"
Sinta menggenggam tangan Vanya untuk menenangkan kegelisahan sahabatnya.
"Inget, jangan muntah. Kalau kamu muntah, aku tinggal kamu di wc pesawat aja"
Vanya hanya menoyor kepala sahabatnya itu. Bisa-bisanya kondisi dia lagi tegang seperti ini malah dibikin becanda. Ngga ada akhlak memang.
Vanya memejamkan mata dan mencengkeram tangan Sinta saat pesawat mulai lepas landas. Sinta pun hanya pasrah saat tangannya diremas kuat oleh sahabatnya. Tak lama kemudian, cengkraman tangan Vanya mulai mengendur. Dia mulai menikmati perjalanannya.
Vanya hanya menatap keluar jendela, menikmati pemandangan indah di bawahnya.
"Ngga usah nyari burung terbang. Ngga bakalan nemu"
Vanya hanya mencubit pinggang Sinta menanggapi ocehannya. Sebodoh-bodohnya dia pun tahu, mana mungkin ada burung terbang di ketinggian seperti ini.
"Yaak, bisa tidak jangan mencubit pinggangku. Ginjalku geli tahu" sahut Sinta tidak terima.
"Bodo amat"
Vanya kembali memalingkan wajahnya melihat jendela. Ia masih terkesima dengan keindahan yang terpampang nyata di depan matanya.
__ADS_1
"Nyaa"
"Vanyaa"
"Yee ampun dah malah tidur. Tadi aja ngajak ribut. Sekarang malah kaya kebo"
Tidak lama kemudian Sinta pun menyusul Vanya ke alam mimpi. Lumayan 2 jam siapa tahu mimpi ketemu Jeon Jungkook, pikirnya.
***
Suara announcement sebelum pesawat take off membuat Vanya dan Sinta terbangun. Mereka langsung bergegas mengikuti instruksi dari pramugari.
"Annyeong Korea"
Teriak Sinta saat sudah keluar dari bandara. Lagi-lagi yang teriak Sinta. Namun yang merasa malu malahan Vanya.
Vanya hanya tersenyum kaku menanggapi orang-orang yang menatap mereka heran.
"Wuaah, daebak. Gila keren banget Nya. Ternyata memang Korea Selatan seindah ini"
Sama halnya dengan Sinta, Vanya pun dibuat terkagum dengan keindahan Korea. Suasananya ramai, tapi tidak banyak polusi.
Vanya dan Sinta menghentikan taksi untuk menuju apartemen yang disewa orang tua Sinta. Ya biasalah orang kaya. Vanya hanya bisa menurut saja karena itu permintaan orang tua Sinta. Mereka tidak ingin putrinya kesusahan tentunya.
Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Vanya mengagumi keindahan negeri gingseng itu. Banyak pepohonan di pinggir jalan menambah kesan asri.
"Korea benar-benar mengagumkan, sama halnya dengan Jungkook Oppa"
"Kamu itu, selalu saja oppa itu yang kau bahas. Ngga ada pembahasan lain kah?"
Vanya merasa jenuh dengan apa yang dibahas oleh sahabatnya. Disetiap momen ada aja sangkut pautnya dengan Oppa-nya itu.
"Ingat ini Vanya. Suatu saat nanti kamu akan bucin sama mereka" jawab sinta tak mau kalah.
Vanya tertawa terbahak tidak percaya. Lelucon apa lagi ini. Mendengarnya saja sudah membuatnya jengah, apa lagi sampai bucin.
"Hahaha, tidak akan Sinta. Dengar itu"
Vanya terdengar yakin dengan omongannya. Tapi, bukankah takdir tidak ada yang tahu?
***
Kini mereka telah tiba di apartemen. Dengan lemas Vanya menyeret kopernya menuju lemari. Satu per satu pakaian ia susun dengan rapi. Begitu juga dengan barang-barang yang lain. Ia tidak membawa banyak barang sehingga hanya membutuhkan waktu satu jam, Vanya berhasil membereskan perlengkapannya.
Lalu Sinta? Dia sudah ke alam mimpi sejak tiba di apartemen.
"Sin, bangun oy"
Vanya mencoba menggoyang-goyangkan badan Sinta. Tapi si empunya malah cuma mengubah posisi tidurnya.
__ADS_1
"Bangun dulu, beresin bajunya, mandi, cari makan"
Vanya terus menggoyangkan badan Sinta, karena sebenarnya dia sangat lapar. Tapi belum ada persediaan makanan untuk dimakan saat ini.
"Enghh"
Sinta hanya melenguh, tanpa ada niatan membuka matanya sebentar.
Akhirnya Vanya menyerah dan memilih untuk mandi. Badannya terasa lengket minta dibersihkan.
Satu jam kemudian, Vanya sudah kembali ke kamarnya dengan badan lebih fresh. Ia melirik ke arah ranjang. Dimana sahabatnya tadi tertidur, kini sudah tidak ada di sana. Dimana dia?
"Nya"
Sebuah tepukan di pundak Vanya sukses membuat Vanya berjingkat kaget.
"Astaga Sinta. Bisa ngga sih ngga usah ngagetin gini" kesal Vanya sambil mengelus dadanya.
"Lagian kamu mandi lama banget, kayak siraman calon manten aja"
Sinta menggerutu sambil menenteng handuknya ke kamar mandi. Ternyata dari tadi Sinta sudah bangun karena mendengar Vanya kelaparan.
Vanya sudah siap sedari tadi, tapi sudah setengah jam Sinta baru keluar dari kamar mandi.
"Buruan Sin, laper nih. Lama banget dari tadi"
"Anda butuh kaca?" tanya Sinta sarkasme.
Vanya tidak henti-hentinya menggerutu kelaparan. Padahal dari tadi dia yang sangat lama mandinya.
*****
Kini mereka sudah keluar memutari street food. Beragam makanan khas korea terdapat disana. Tapi bukan Vanya dan Sinta namanya kalau tidak ribet kesana kemari mencari targetnya.
Dua porsi topokki sudah mereka dapatkan. Tapi Vanya masih celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Nyari apaan Nya?"
Sinta merasa heran karena Vanya dari tadi mencari makanan tapi belum menemukannya.
"Emm kira-kira di sini ada yang jual gorengan ngga ya Sin? Bakwan gitu atau tempe"
Vanya bertanya dengan wajah polosnya, sedangkan Sinta yang mendengar sudah memasang wajah datar. Jika digambarkan animasi, mungkin sudah keluar tanduk beserta asap di atas kepalanya.
"Nya, aku curiga deh"
"Curiga kenapa?"
"Kamu di sekolah pinter, tapi masalah kaya gini kenapa bodoh banget si. Ngga sekalian aja kamu nyari seblak? Atau es dawet gitu di Korea? Bisa jadi nyari getuk goreng sekalian."
__ADS_1
Vanya yang mendengar hal itu hanya tersenyum tanpa merasa bersalah. Berbeda dengan Sinta yang seakan-akan geram dengan tingkah sahabatnya.
"Tuhaan, lama-lama aku pengen nuker Vanya sama Yeontan"