
Mentari pagi mulai mengusik alam mimpi Vanya. Perlahan ia membuka kelopak matanya, ia masih ingat betul sekarang tengah berada di rumah sakit. Vanya pun bangkit perlahan membuka jendela ruang inap neneknya. Vanya sedikit tenang, karena kondisi neneknya sudah mulai membaik. Hipertensi yang dialami neneknya kambuh, untung saja dengan cepat tertolong.
Vanya masih berdiri menatap luar jendela, memejamkan matanya menikmati udara pagi. Pikirannya berkecamuk, hatinya bimbang. Ia sibuk berperang dengan logika dan hatinya.
"Vanyaa" Terdengar panggilan lirih menyadarkan Vanya dari lamunannya.
"Dalem Nek, Nenek udah bangun" sahut Vanya menghampiri Neneknya membantunya duduk.
'Dalem' adalah sahutan orang Jawa ketika dipanggil.
"Nenek harus banyak istirahat dulu, jangan banyak fikiran biar cepet sembuh. Vanya disini kok nemenin Nenek"
"Adek juga masih tidur, dia dari kemarin khawatir banget sama Nenek" lanjut Vanya sambil melihat adiknya, Sora.
"Bagaimana kelulusan kamu? Selanjutnya kamu mau kuliah dimana?" tanya Nenek pelan, suaranya masih terdengar lemah.
"Kelulusanku kemarin berjalan lancar Nek, Nenek fokus sembuh dulu. Jangan pikirkan yang lain-lain"
Kekhawatiran terlihat jelas dari setiap kata yang Vanya ucapkan. Vanya tidak ingin membebani pikiran neneknya perihal ia mendapat beasiswa di Korea Selatan. Biar nanti saja saat neneknya sudah sembuh, baru dibicarakan lagi.
Drrtt
Drrtt
Tiba-tiba ponsel Vanya berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Terpampang nama Sinta disana.
"Sebentar ya Nek, Vanya terima telepon dulu"
Tanpa menunggu jawaban, Vanya langsung bangkit sedikit menjauh dari neneknya.
"Hallo"
"....."
"Hmm"
"......"
"Ah tak perlu repot-repot Sinta"
"......"
"Ah, baiklah. Aku kirim lewat chat saja"
Vanya langsung mematikan teleponnya sepihak. Dia memang seperti itu, banyak orang yang mengatakan kalau Vanya itu jutek.
"Siapa Nya?"
Ternyata sedari tadi neneknya memperhatikan Vanya saat menerima telepon.
"Ooh itu Sinta Nek, dia mau kesini"
Tak lama kemudian, terdengar pintu diketuk dari luar. Seorang perawat datang membawa sarapan untuk nenek. Baru saja tiga suap nenek makan, tiba-tiba teriakan Sinta mengganggu ketenangan.
__ADS_1
"Neneek, maaf Sinta baru datang. Cucu kesayanganmu itu baru ngasih kabar tadi malam" cerocos Sinta sambil memeluk nenek.
"Eh Juleha, bisa ngga si suara kamu jangan keras-keras. Berisik tau nggak"
"Heh, nama bagus gini main ganti-ganti aja. SINTA MAHARINI, S I N T A istrinya Min Yoongi" sautnya sambil mengupas buah untuk nenek, dan pastinya ditambah menghalu.
"Hah? Minyong? Perasaan kemarin Jongkok"
Tiba-tiba saja sebuah anggur melayang tepat mengenai kepala Vanya. Dia menggerutu kesal karena perbuatan Sinta.
"Yaaak! Sekali lagi kamu salah sebut nama Oppa-ku, aku lempar kamu pakai biji mangga"
Lah, kok ngamuk?
"Sudah-sudah, kalian ini" lerai nenek disertai kekehan kecil.
Sinta hanya menatap Vanya kesal, dan dibalas dengan muka meledek Vanya.
"Oh iya nek, aku sama Vanya keterima kuliah di Korea Selatan nek. Vanya sudah cerita kan?"
Aduh, mampus kau Vanya. Kenapa pula Sinta pakai acara cerita sekarang.
"Korea Selatan? Jauh sekali nak" terlihat sekali keterkejutan di wajah nenek.
"Jadi Vanya belum cerita nek?"
"Vanya dapet beasiswa di sana Nek, pemberangkatan dan tempat tinggal di sana juga sudah disiapkan. Vanya hanya tinggal berangkatnya saja" ucap Vanya mencoba menjelaskan.
"Iya Nek, Vanya juga sama aku kok ngga sendirian. Nenek percaya aja sama Sinta. Kalo kentang tumbuk itu macam-macam, biar Sinta yang atasin" celoteh Sinta membuat Nenek tertawa.
"Kalian itu, ngga baik makanan dilempar-lempar" ujar Nenek menengahi.
Sinta malah menjulurkan lidahnya, semakin meledek ke Vanya. Mereka memang seperti itu, mirip-mirip dengan kartun 'Tom and Jerry'.
"Sora ngga ikut kesini Nek?" tanya Sinta mencari adik Vanya.
"Sora tadi pulang dijemput pamannya, karena masih harus sekolah"
Vanya hanya mengamati interaksi antara sahabatnya dan Neneknya itu. Bahkan disini terlihat seperti Sinta yang cucunya.
Lagi-lagi Vanya melamun, bimbang untuk mengambil keputusan. Jika dia jauh, siapa yang akan menjaga nenek dan adiknya? Ya, meskipun setiap libur semester dia bisa pulang. Tapi pasti butuh biaya yang banyak.
"Vanyaa"
Sebuah suara mengagetkan Vanya, menarik kembali jiwanya agar tersadar dari lamunan.
"Dalem Nek" Vanya melangkah mendekati nenek dan sahabatnya itu.
"Pergilah ambil kesempatanmu itu. Kejarlah mimpimu nak. Nenek dan Sora tidak apa-apa di sini. Asal kamu berjanji untuk serius menempuh pendidikanmu di sana"
Vanya termenung, entah apa yang dibicarakan Sinta dan neneknya tadi. Tapi sepertinya mereka tahu apa yang Vanya pikirkan.
Vanya hanya bisa mengangguk dan menggenggam tangan keriuput neneknya.
__ADS_1
***
Hari ini Vanya sudah bisa bersantai di rumah. Baru beberapa jam yang lalu ia pulang dari rumah sakit dengan neneknya. Vanya pun akhirnya beranjak mulai menyiapkan apa saja yang akan dia bawa untuk ke negeri gingseng nanti.
Keberangkatannya ke Korea masih 2 minggu lagi. Tapi Vanya benar-benar harus menyiapkannya dari sekarang. Tentu saja untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Vanya mulai mengabseni perlengkapannya satu per satu. Sekiranya ada yang kurang, dia akan mencatatnya dan mencarinya kemudian hari.
Drrtt..
Sebuah notifikasi berbunyi, tanda ada pesan masuk ke ponsel Vanya.
"Nya, keluar sebentar yuk nyari perlengkapan" isi pesan tersebut.
Siapa lagi yang mengirim pesan kalau bukan sahabatnya yang mengaku istrinya Minyong itu. Ehh, Min Yoongi maksudnya.
Vanya sebenarnya sedikit malas untuk keluar rumah. Dia sudah seperti katak dalam tempurung. Keluar hanya sesekali, itu pun paling urusan sekolah.
Sementara Sinta sudah ngomel-ngomel di rumahnya karena pesannya hanya dibaca oleh Vanya tanpa ada jawaban.
"Bener-bener ya itu kentang rebus ngga ada akhlak banget. Cuma dibaca chatnya tanpa dijawab sama sekali. Heran aku"
Dan masih panjang lagi cerocos Sinta hanya karena pesannya tidak dibalas. Meskipun dia sudah hafal dengan karakter seorang Vanya, tapi tetap saja masih merasa kesal.
"Jemput, ini alamatnya"
Sebuah pesan balasan dari Vanya langsung membuat Sinta semangat setelah mendapat shareloc dari sahabatnya itu.
"Gaaas" teriaknya sambil berlari menuju parkiran rumahnya.
*****
Kini Vanya dan Sinta sudah tiba di pusat perbelanjaan. Sebelum muter-muter mereka mengisi tenaga dulu. Paham kan kalau perempuan berbelanja?
Setelah selesai dengan urusan perutnya, mereka mulai mencari targetnya. Satu per satu mereka pilih. Tentu saja yang paling ribet itu Sinta. Karena dia benar-benar niat banget belanja. Banyak banget list yang harus dia beli.
"Nya bagus warna merah maroon atau merah bata?"
Sinta sambil menunjukan 2 pilihan baju kepada Vanya.
"Perasaan sama aja kan. Sama-sama merah" jawab Vanya polos.
Ya, dia memang tidak terlalu tahu masalah fashion, warna ini harus pasangan dengan warna ini. Yang dia tahu hanya selagi dia nyaman ya itu yang dia pakai.
"Kalo jawaban kamu gitu mending tadi aku tanya sama manekin aja serius Nya"
Sinta langsung menggerutu kesal sembari kembali memilah bajunya sendiri. Karena merasa percuma jika bertanya pada Vanya. Bukannya ada solusi, yang ada dia tambah pusing.
Vanya hanya tertawa melihat sahabatnya itu kesal. Ya salah Sinta sendiri, udah tau Vanya ngga tahu masalah fashion. Ehh, masih aja ditanyain.
Suasana kembali seperti semula, mereka terlihat senang memilih barang belanjaan. Suara iringan musik pun membuat mereka sedikit bersenandung bersama.
Hingga tiba-tiba musiknya berganti dengan lagu-lagu dari Boyband idolanya Sinta. Sinta pun ikut bernyanyi dengan keras dan menggerakan tubuhnya seakan-akan menirukan dance ala Oppa-nya itu.
Vanya yang kaget melihat hal itu langsung menutup muka karna malu sembari berkata,
__ADS_1
"Maaf bukan teman saya"