
Vanya sudah kembali ke apartementnya. Kini ia dapat melihat 3 sahabatnya sedang berkumpul. Siapa lagi kalau bukan Sinta Maharani, Lee Soo-ra, dan Park Hyeon Na.
Suara tawa mereka memenuhi ruangan tersebut. Jika mereka tengah anteng seperti itu, sudah dipastikan sedang nonton kesayangan mereka.
Vanya lebih memilih memasang airpodsnya dan membaca novel yang ia punya.
"Nya, sekali-kali gabung sini" ajak Lee
"Kalian aja"
"Biar nggak perlu nanya-nanya lagi Min Yoongi Oppa itu seperti apa" celetuk Sinta polos.
"Beneran Nya kamu tanya tentang Yoongi Oppa? Wahh harusnya kamu tanya sama Lee, dia lebih paham karena fangirl garis keras dia" ucap Hyeon bersemangat.
"Sini aja Nya, cuma liatin aja"
Sinta menarik tangan Vanya untuk bergabung bersama mereka. Vanya pikir tidak ada salahnya jika mencoba ikut menonton satu kali.
Vanya ikut mengambil posisi tengkurap seperti yang lain.
"Waah lihat. Warna rambut Lee persis warna rambut Yoongi" ujar Hyeon.
"Ah iya, bagaimana bisa kamu tahu warna rambut Yoongi seperti itu. Bahkan baru hari ini mereka live" sahut Sinta kagum.
Vanya hanya memperhatikan sekilas, terlihat tidak tertarik dengan obrolan mereka.
"Kalian tahu? Aku mempunyai teman yang tahu segalanya"
"Maksudmu sasaeng?"
Lee hanya mengangguk polos sebagai jawaban.
"Bukankah sasaeng itu bahaya?"
"Menurutku tidak. Tapi mereka gila" jawab Lee
"Mereka rela mengeluarkan uang berapapun hanya untuk membuntuti idol mereka, mengetahui aktivitas idol mereka, membeli informasi apapun tentang idolnya. Sangat gila bukan?" lanjutnya.
"Apa idol kalian tahu, kalau mereka sering dibuntuti oleh sa- apa tadi?"
"Sasaeng"
"Nah itu"
Untuk pertama kalinya Vanya membuka suaranya sejak tadi. Ia hanya sedikit kepo tentang sasaeng. Selebihnya ia tidak peduli.
"Pastinya tahu. Bahkan dulu kabarnya ada yang sempat dilaporkan juga ke polisi karena sudah melebihi batas" jawab Lee.
Diantara mereka, Lee paling tahu menahu soal ini.
"Ah sudah kenapa malah bahas sasaeng, lihat kita terlewat banyak hal"
Akhirnya mereka kembali fokus menonton acara tersebut.
"Tadi diantara mereka siapa yang paling tampan?"
"Min Yoongi Oppa" jawab Lee antusias.
"Hey tentu saja Park Jimin" jawab Hyeon tak mau kalah.
"Sudah-sudah, tetap Jeon Jungkook yang paling cakep, ganteng, baby bunny" saut Sinta.
Vanya hanya melihat mereka malas.
'Padahal wajah mereka mirip semua, aku saja tidak bisa membedakannya' batin Vanya.
Vanya kembali bermain ponselnya. Ia membuka aplikasi kamera untuk bercermin. Namun tiba-tiba dahinya berkerut.
__ADS_1
"Astagaa"
Vanya terkejut setelah melihat galerinya. Terdapat sebuah foto selfie tapi bukan dirinya. Entah kapan foto itu diambil.
"Kenapa Nya?" tanya Hyeon heran.
"Ah tidak, tidak apa-apa" jawab Vanya gugup.
Vanya tidak habis pikir dengan kerandoman makhluk satu ini. Bisa-bisanya dia selfie pakai ponsel orang lain.
Vanya langsung menyimpan ponselnya, entah kenapa dia tidak berfikir untuk menghapusnya. Justru membiarkannya begitu saja.
****
Sore harinya, Vanya kembali bekerja. Kali ini Sinta ikut. Tentu saja untuk bertemu dengan kekasihnya, Kim.
"Sin, kamu gantiin aku nyanyi bentar ya. Aku mau ke toilet dulu"
Belum Sinta menjawab, Vanya sudah berlari ke belakang.
"Kamu bisa nyanyi?" tanya Kim lembut.
"Enggak" jawab Sinta malu-malu.
Jelas Sinta sangat minder jika urusan bernyanyi. Suara Vanya memang merdu, lembut, bikin nagih pokoknya. Suara Sinta juga lumayan nagih. Lumayan buat nagih hutang maksudnya.
Kim hanya tersenyum melihat Sinta malu-malu seperti itu. Refleks tangannya mengacak rambut Sinta pelan.
"Yee, disuruh gantiin nyanyi malah mesra-mesraan"
"Ngagetin aja" jawab Sinta sambil mengelus dadanya.
"Emang mau ni pelanggan pada kabur kalo aku nyanyi" lanjutnya.
"Udah sana minggir" usir Vanya.
Vanya hanya menjulurkan lidahnya sebagai respon untuk meledek Sinta.
Tanpa Vanya sadari, sepasang mata memperhatikannya sedari tadi.
"Loh Nya, kok aku baru sadar rambutmu diurai gitu"
"Iya tadi iket rambutnya putus"
Vanya sesekali menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
Ponsel Vanya tiba-tiba bergetar, ada pesan masuk.
"Lebih cantik rambut terurai" bunyi pesan tersebut.
Vanya mengernyit heran, nomor tak dikenal. Vanya mengabaikan pesan tersebut lalu menyimpan ponselnya di tas.
Cafe semakin malam mulai sepi, mereka pun bersiap untuk pulang.
"Nya, Sinta aku aja keluar bentar ya. Kamu pulang sendiri ngga apa-apa kan?" tanya Kim pelan.
"Kalian mau ngedate?"
Kim dan Sinta hanya mengangguk malu-malu.
"Yaudah sana, pulangnya jangan kemalaman"
"Serius Nya ngga apa-apa?" tanya Sinta memastikan.
"Udah sana, sebelum aku berubah pikiran nih" jawab Vanya.
Kim dan Sinta pun langsung bergegas, sedangkan Vanya siap-siap untuk pulang.
__ADS_1
Vanya memasang airpodsnya dan memilih untuk berjalan kaki menuju apartemen. Mumpung jalan masih ramai, pikirnya.
Ia bersenandung kecil sambil menikmati udara malam ini.
Saat Vanya melewati jalan sepi, tiba-tiba ia merasa ada yang mengikutinya. Vanya menoleh ke belakang. Kosong.
"Ah mungkin cuma halusinasiku saja" gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Tapi lagi-lagi Vanya seperti melihat bayangan mengikutinya, hingga ia memutuskan untuk berjalan sedikit berlari tapi bayangan itu masih tetap ada.
Saat sampai di depan apartementnya, Vanya berhenti sejenak dan mengatur nafasnya.
Tiba-tiba,
"Aaaa"
Sebuah tepukan di pundak Vanya berhasil membuat Vanya menjerit kaget.
"Woy ngapain teriak si, kamu baru kok baru sampai?"
Vanya hanya mengelus dadanya pelan. Jantungnya masih berdebar kencang. Ia fikir, yang menepuk pundaknya adalah orang yang mengikutinya.
"Bikin kaget aja" ujar Vanya sambil memukul lengan Sinta.
"Ya lagian kamu aku panggil-panggil dari sana ngga kedengeran. Malahan kamu mirip orang panik gitu"
"Kamu jalan? Kok baru sampai?"
Vanya hanya mengangguk, ia langsung mengajak Sinta masuk untuk istirahat.
'Mungkin aku kelelahan jadi halusinasi. Buktinya ngga ada yang ngikutin kan? Dasar penakut aku ini' ujar Vanya dalam hati.
****
"Nyaaa, bangun Nya buruan"
Sinta menggoyang-goyangkan tubuh Vanya agar Vanya segera terbangung. Namun bukannya bangun, Vanya malah makin menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Ih Nya bangun dulu, coba liat aku nemu apaan"
"Bodo amat Sin aku masih ngantuk"
"Bangun dulu, liat ini dulu"
"Apasih"
Vanya akhirnya membuka selimutnya, menampakkan wajah kesalnya yang masih mengantuk.
"Tadi aku niatnya mau ke supermarket, ehh di depan pintu nemu kotak ini"
Vanya yang penasaran pun akhirnya bangun dan menatap kotak yang ada ditangan Sinta.
"Tinggal dibuka aja" ujar Vanya.
Sinta yang juga penasaran akhirnya membuka kotak tersebut. Terdapat setangkai mawar, parfum, airpods, dan surat kecil.
"Untuk Vanya"
Sinta membaca bagian depan dari surat tersebut. Vanya yang masih mengantuk langsung terkejut mendengar namanya disebut.
"Waahh keren, ini buat kamu Nya"
Sinta membolak-balikkan surat tersebut siapa tahu ada nama pengirimnya. Namun hasilnya nihil.
Vanya semakin dibuat bingung. Airpods dengan warna kesukaannya, merk parfum yang juga favoritnya.
'Dari siapa ini?'
__ADS_1