Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Gunakan Hati, Bawa Serta Otak


__ADS_3

"Yaudah kita balik dulu ya, kapan-kapan deh kita nginep" pamit Hyeon pada Sinta dan Vanya.


"Yah padahal pengen banget loh kita nonton drakor bareng, atau streaming Run BTS bareng" jawab Sinta sedikit merajuk.


"Malem minggu besok deh, janji" ujar Hyeon sambil mengangkat jari kelingkingnya.


Sedangkan Vanya hanya tersenyum manis kepada teman-temannya. Tak sengaja iris matanya bertemu dengan mata Lee. Vanya merasa Lee sedang memperhatikannya sedang tadi. Tatapannya berbeda dari biasanya.


Setelah Lee dan Hyeon pergi dari apartemen, Sinta menatap Vanya dalam.


"Kamu hutang penjelasan sama aku" ujar Sinta dingin.


Vanya hanya menuruti langkah Sinta menuju kamarnya.


"Sekarang kamu cerita ke aku, sebenarnya apa yang terjadi. Aku tahu kamu tadi bohong sama mereka" ujar Sinta pelan.


Vanya hanya mendongak menatap Sinta ragu. Sedangkan Sinta hanya mengangguk sambil tersenyum hangat kepada Vanya.


"Itu Sin, anu" ujar Vanya ragu.


"Anu apaan?" tanya Vanya mengernyitkan dahinya.


"Emm itu, anu" jawab Vanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nya, ngomong tuh yang jelas coba. Anu-anu apaan. Kata 'anu' itu mengandung banyak makna Nya. Ngga usah bikin aku mikir deh" ucap Sinta kesal.


Vanya hanya nyengir mendengar kekesalan Sinta. Ia akhirnya memutuskan untuk bercerita semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"So?" tanya Sinta tidak sabar.


"Tadi sore Yoongi kesini, aku juga ngga tau kalau jam tangan dia tertinggal disini" ujar Vanya pelan setengah berbisik.


"Tunggu-tunggu. Darimana dia tahu alamat ini?" tanya Sinta heran.


"Atau jangan-jangan beneran yang ngirim kotak itu si Yoongi Oppa?" lanjut Sinta.


Vanya hanya mengangguk tipis menjawab pertanyaan Sinta. Sedangkan Sinta menutup mulutnya kaget. Sinta serasa pengin tukeran nasib dengan sahabatnya itu.


"Oke, lanjut cerita yang tadi" ujar Sinta pada akhirnya.


"Yaa, dia cuma mampir aja. Katanya juga ketemu kamu tadi di acara. Terus nganterin aku berangkat ke cafe. Udah gitu doang" jawab Vanya datar.

__ADS_1


"Terus tuh sepatu? Aku ngga percaya kamu beli itu sendiri. Karena selama ini aku tahu, setiap kamu gajian pasti langsung dikirim ke Indonesia buat biaya sekolah adikmu. Kamu juga bukan tipe perempuan yang suka menghamburkan banyak uang hanya untuk membeli 1 jenis kebutuhan kan? Apa lagi sepatumu juga masih bagus-bagus"


Vanya benar-benar melongo dengan kepekaan sahabatnya tersebut. Jika Vanya menilai tingkat pengamatan dan kepekaan Sinta, maka ia nilai 9/10.


"Tadi aku berangkat buru-buru, ehh ternyata aku masih pakai sandal tidur" jawab Vanya masih dengan nada datar.


"Terus sekarang sandal tidurnya mana?" tanya Sinta makin bingung.


Vanya yang semula ingin rebahan, mendadak menegakkan badannya.


"Tadi aku pulang ngga bawa apa-apa ya?" tanya Vanya.


"Dih malah tanya balik" cibir Sinta.


Vanya menepuk dahinya ketika dia sudah mulai ingat. Ya, sandal kucing itu tertinggal di cafe. Vanya tidak mengingat untuk membawanya pulang kembali.


"Kamu ada hubungan apa sama Yoongi Oppa?" tanya Sinta penasaran.


"Hubungan apaan?" jawab Vanya sewot.


"Ya kalau nggak ada hubungan, nggak mungkin kan dia mau kesini, nganter kamu kerja. Awas aja ya kalau sampai aku dengar kamu dating sama Yoongi Oppa." jawab Sinta ketus.


"Kamu kenapa si Sin? Kamu takut aku ada hubungan sama Oppa kamu itu. Kenapa tiba-tiba jadi fanatik gini? Kamu kan tahu, aku suka sama mereka juga enggak. Apa lagi sampai punya hubungan spesial dengan salah satu membernya. Kalau pun aku ada hubungan spesial dengan Yoongi, harusnya kamu sebagai fans mendukung yang terbaik buat idol kamu. Mereka juga berhak bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Aku tuh nggak mau ya dicurigain gini. Tadi Lee, sekarang kamu


Vanya meluapkan emosinya. Ia sudah merasa capek sejak di cafe, ditambah sekarang dicurigai seperti ini oleh orang terdekatnya. Vanya lalu mengambil bantal dan selimutnya, memilih untuk tidur di sofa dan menutup pintu kamar dengan sedikit kasar. Setidaknya ia tidak ingin meluapkan emosinya lagi.


Sinta yang jarang melihat Vanya marah, hanya bisa menatap pintu kamarnya dengan tatapan kosong. Vanya yang ia kenal lebih banyak diam, dan menahan amarahnya. Tapi jika sudah mengeluarkan emosinya, berarti sudah melebihi batas kesabarannya. Kata-kata Vanya sedikit menampar egonya.


"Kamu benar Nya, harusnya aku ngga egois gini. Jika memang benar kamu ada hubungan sama Yoongi Oppa, aku akan jadi orang pertama yang akan mendukungmu" lirih Sinta merasa bersalah.


Sinta berniatan untuk membiarkan Vanya menenangkan dirinya terlebih dahulu. Saat ini ketenangan lebih dibutuhkan oleh Vanya.


***


Mimpi Vanya terusik ketika cahaya mentari pagi mulai menggelitik wajahnya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 6 pagi.


"Enghh" lenguh Vanya merenggangkan ototnya.


Vanya duduk sebentar mengumpulkan nyawanya. Ketika Vanya mengecek ponselnya, ternyata ia lupa mengchargernya semalam. Bahkan saat ini ponselnya mati total.


Vanya berjalan pelan menuju kamar dimana Sinta tertidur. Sinta masih setia bergelung di bawah selimut ditemani dengan boneka Cooky kesukaannya.

__ADS_1


"Mianhae" ujar Vanya pelan merasa semalam telah kelewatan kepada Sinta.


Vanya memilih berjalan menuju dapur, membuat sarapan untuknya dan Sinta. Vanya sudah memulai berkutat dengan peralatan masak. Ia memutuskan untuk membuat nasi goreng kimchi kesukaan Sinta.


"Vanya" panggil Sinta pelan.


"Hmm" jawab Vanya pelan masih fokus dengan masakannya.


"Kamu masih marah?" tanya Sinta takut-takut.


Vanya menghela nafas dan mematikan kompornya, lalu membalikkan badannya menghadap Sinta. Vanya melangkah pelan menuju Sinta lalu merentangkan tangannya.


"Hug me, please" ujar Vanya.


Sinta pun langsung menghambur ke pelukan Vanya. Memang selama ini jika berbaikan setelah bertengkar, pasti Vanya meminta Sinta untuk memeluknya.


"Mianhae Nya" lirih Sinta.


"Gwenchana, udah yuk sarapan. Nanti ke kampus bareng" jawab Vanya.


Mereka kini tengah menikmati sarapannya. Sinta sesekali memperhatikan wajah Vanya.


"Wae?" tanya Vanya merasa diperhatikan.


"Aniya" jawab Sinta sambil tersenyum.


"Mencurigakan" ujar Vanya pelan.


"Aku lihat-lihat, wajahmu mirip dengan wajah Yoongi Oppa. Sikap kalian juga sama, bahkan kamu juga memiliki gummy smile seperti Yoongi Oppa. Tapi tetap lebih manis Yoongi Oppa" oceh Sinta menahan senyum.


"Omong kosong apa itu Sin" jawab Vanya acuh.


"Tapi jika kalian berdua berjodoh, aku pasti jadi orang pertama yang akan mendukungnya"


"Heleh, semalam aja kamu seperti itu"


"Ah lupakan semalam. Kamu sudah menyadarkan aku Nya" jawab Sinta penuh senyuman.


"Baguslah. Tapi perlu kamu ingat, kalau perlu dicatat. Aku nggak akan pernah ada hubungan dengan Oppa mu itu. Dia terlalu menyebalkan untukku" ujar Vanya percaya diri.


"Bukankah banyak benci jadi cinta?" goda Sinta pada Vanya.

__ADS_1


"Tidak berlaku untukku" jawab Vanya.


Tapi entah mengapa jantung Vanya berdetak lebih cepat saat ini. Bahkan wajahnya sedikit memerah mengingat perlakuan Yoongi. Vanya menggeleng pelan menarik kembali kesadarannya.


__ADS_2