
"Maaf, siapa ya?" tanya Vanya heran.
Seseorang tersebut saat ini sedang memunggunginya. Tentu saja ia tidak bisa melihat wajahnya.
"Oh maaf nona, saya pengirim paket atas nama Vanya" ujar pengirim paket tersebut sambil tersenyum.
"Ehm, tapi saya ngga merasa pesan apa-apa. Mungkin bukan cuma Vanya nama saya ya ahjusi" ujar Vanya pelan.
Tentu saja Vanya merasa heran, pasalnya ia tidak pernah berbelanja online atau pun memesan barang. Bagaimana bisa tiba-tiba ada paket atas nama dia. Vanya jadi khawatir kalau ini modus penipuan.
"Tapi alamat yang tertera sama nona" jawab pengirim paket itu sambil menyodorkan bukti tanda terima paket tersebut.
Vanya membaca sekilas, alamatnya memang benar. Pupil matanya tiba-tiba melebar saat membaca 1 kalimat yang membuatnya jengkal.
Penerima : Vanya ( titisan macan betina )
"Hissh dasar, apakah pengirimnya ini si Pangsit Rebus?" tanya Vanya tanpa sadar.
Di dunia ini yang memanggil Vanya dengan sebutan "macan betina" itu hanya Yoongi. Vanya yakin bahwa pengirimnya pasti dia.
Pengirim paket tersebut hanya melongo mendengar omongan Vanya. Vanya pun yang tersadar spontan merutuki kebodohannya.
"Ah lupakan, sini aku tanda tangani" ujar Vanya meminta tanda terima paket tersebut.
Vanya segera membubuhkan tanda tangannya disana, lalu tersenyum manis dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pengirim paket tersebut.
Vanya menimang-nimang paket tersebut. Kira-kira apa ya isinya? Dia langsung memotret paket tersebut dan mengirimnya kepada si 'pangsit rebus'.
"Dari kamu?" tanya Vanya to the point.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Hingga 15 menit berlalu pesan itu belum terbalas. Tanpa sadar saat ini Vanya sedang menunggu dari orang yang paling menyebalkan, menurutnya.
"Ah sudahlah lupakan. Aku buka nanti kalau dia sudah konfirmasi" gumam Vanya.
"Woaah ternyata sudah sore, dan aku seharian hanya rebahan"
Vanya kemudian bergegas menuju ke kamar mandi. Dia harus bersiap untuk berangkat kerja sore hari ini.
Waktu 30 menit ia habiskan untuk membersihkan diri. Seperti biasa, Vanya hanya mandi 1 kali sehari. Sayang air katanya.
Saat sedang mengeringkan rambut dengan hair dryer, bunyi bel kembali terdengar.
"Kenapa ngga langsung masuk aja sih?" gerutu Vanya menebak bahwa orang yang memencet bel adalah Sinta.
Vanya membuka pintu apartemennya, namun bukan presensi Sinta yang ia lihat. Namun sosok seseorang yang begitu tertutup. Bahkan Vanya tidak mengenalinya.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak menyuruhku masuk?"
Detik selanjutnya Vanya mengernyit heran, ia pernah mendengar suara itu. Tapi entah dimana, ia lupa.
Tanpa menunggu lama, sosok itu menyelonong masuk membuat Vanya kembali tersadar dari lamunannya.
Saat sosok itu membuka maskernya, Vanya baru bisa mengetahui siapa sosok itu.
"Yaak, kenapa kau bisa sampai sini?" tanya Vanya tanpa basa-basi.
"Terserah aku dong" jawab Yoongi cuek.
Yoongi langsung mendudukan tubuhnya pada sofa yang ada di ruangan tersebut. Ia mengamati seluruh ruangan tersebut.
Sedangkan Vanya melangkah menuju dapur, membuatkan minuman untuk Yoongi. Meskipun ia merasa sebal, tetapi tetap tamu adalah raja.
"Kamu tinggal disini sendiri?" tanya Yoongi ketika melihat Vanya sudah kembali melangkah mendekat.
"Tidak" jawab Vanya cuek.
"Bareng teman?" tanya Yoongi lagi.
"Hmm" dehem Vanya sebagai bentuk jawaban 'iya' atas pertanyaan Yoongi.
"Aku tadi bertemu dengan temanmu"
Yoongi teringat saat Sinta berbincang dengan Jimin tadi pagi. Ia sempat berpikir, apakah wanita yang sempat diceritakan Jimin adalah Vanya?
"Aku mendengar dia menyebut namamu" jawab Yoongi.
"Oh bukankah kamu harus bekerja? Kenapa belum siap-siap?" tanya Yoongi membuat Vanya tersentak kaget.
Vanya melihat jam di ponselnya sebentar. Ia yang tersadar langsung berlari ke kamar untuk berganti pakaian.
"Aduuh gara-gara pangsit rebus itu ke sini, aku bisa telat nanti" gerutu Vanya sambil memoleskan lipbalm pada bibirnya.
Vanya menyambar tasnya cepat, kemudian berjalan ke luar. Namun terkejutnya ia lupa masih ada Yoongi di sana.
"Aku mau berangkat kerja. Lebih baik kamu pulang" ujar Vanya hati-hati takut dikira mengusir.
"Aku akan mengantarmu" jawab Yoongi sambil berdiri dan memakai maskernya kembali.
"Ah tidak perlu" jawab Vanya cepat.
Vanya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ada yang mengenali Yoongi. Vanya masih ingin hidup dengan damai tentunya.
Tiba-tiba Yoongi menarik tangan Vanya dan keluar dari apartemen. Sepertinya dalam kamus Yoongi, tidak ada yang namanya penolakan.
Vanya memilih diam. Karena jika Vanya protes, ia takut akan keceplosan menyebutkan nama Yoongi. Saat ini mereka sudah sampai lobi, dan beruntungnya tidak ada yang mengenali Yoongi karena penampilannya begitu tertutup.
"Aku berangkat sendiri saja, lebih baik kamu pulang" ujar Vanya canggung.
__ADS_1
"Cerewet" jawab Yoongi sambil mendorong tubuh Vanya untuk masuk ke mobil.
"Bagaimana kalau ada yang mengenalimu, atau mengetahui mobilmu?" tanya Vanya tegang.
"Ini mobil staff, aku sudah memikirkannya baik-baik" jawab Yoongi sambil memakai sabuk pengamannya.
Vanya kembali diam dan tidak ingin mengganggu fokus Yoongi yang sedang menyetir.
Tanpa Vanya sadari, saat ini mobil yang ia tumpaki sudah berhenti. Ia melihat sekitar dan tersadar saat ini sudah berada di depan cafe.
"Sudah sampai. Selamat bekerja macan betina, jangan lupa paket dariku nanti harus dipakai" ujar Yoongi saat melihat Vanya sedang membuka sabuk pengamannya.
"Hmm" dehem Vanya pelan.
"Gomawo" ujar Vanya sambil menutup pintu mobil.
Vanya langsung bergegas masuk terburu-buru. Sedangkan Yoongi hanya tertawa kecil melihat ada yang aneh dari penampilan Vanya.
"Nya" panggil Kim.
"Eh iya, ada apa?" tanya Vanya sambil tersenyum.
"Kamu kesini buru-buru ya?"
Kim terlihat menahan tawa melihat penampilan Vanya yang sedikit aneh.
"Hehe iya, tadi ada problem dikit" jawab Vanya masih belum sadar.
Tentu saja problem yang Vanya maksud adalah kedatangan Yoongi secara tiba-tiba.
"Tuh lihat" tunjuk Kim pada kaki Vanya.
Vanya tersentak kaget saat melihat ke arah kakinya. Ia masih menggunakan sandal dengan karakter kucing, lengkap dengan bulu-bulu halusnya. Sandal itu biasa ia pakai ketika di dalam apartemen.
Vanya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa juga ia tidak menyadarinya dari tadi.
"Apakah Yoongi juga melihatnya? Tapi kenapa ia diam saja tidak mengingatkanku" ujar Vanya kesal dalam hati.
Kim hanya tertawa melihat sahabat kekasihnya tersebut kini tengah merengut. Tapi memang itu sangat lucu. Dimana Vanya berpenampilan casual, tapi justru alas kakinya sangat gemoy.
"Udah ngga apa-apa. Yok udah ramai tuh" ujar Kim masih dengan tawa kecilnya.
Vanya memilih ke kamar mandi terlebih dahulu. Ia masih merutuki kebodohannya. Saat ia kembali ke depan, justru ia kaget karena disebelah tasnya ada kotak ukuran sedang.
"Itu tadi ada yang nganterin kotak buat kamu. Ngga tau isinya apaan" ujar Kim melihat kebingungan Vanya.
Vanya membuka kotak tersebut, ternyata isinya sepatu dengan model simpel. Sesuai seleranya.
Tiba-tiba ponsel Vanya bergetar, sebuah notifikasi masuk menandakan ada pesan untuknya.
"Sandal kucingnya terlalu imut untuk penampilanmu saat ini" isi pesan tersebut lengkap dengan emoticon tertawa.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan" gerutu Vanya setelah membaca pesan dari Yoongi.