Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Pertemuan


__ADS_3

"Sin, aku berangkat kerja dulu yak. Kamu hati-hati di rumah"


Vanya sedang bersiap untuk berangkat kerja part time. Setelah kemarin seharian libur, ia lebih semangat lagi untuk mencari pundi-pundi won. Lumayan buat jajan adek di rumah, pikirnya.


"Masih jam segini Nya, tumben udah mau berangkat" tanya Sinta heran.


"Hehe, iya mau sambil jalan-jalan. Lagian deket ini, mumpung nggak mager"


"Bilang aja tanggal tua Nya"


Vanya tertawa kecil mendengar jawaban Sinta. Pinter banget tuh bocah baca pikiran orang.


"Tahu aja, udah ya aku berangkat dulu" pamit Vanya.


"Iya, kamu juga hati-hati. Pulang jangan terlalu malam"


Sinta menyahut tanpa menoleh sedikit pun dari layar ponselnya. Ia tengah fokus menonton drama korea. Itung-itung nambah kosa kata bahasa Korea yang ia ketahui, alibinya.


Vanya hanya merias wajahnya natural, mengenakan pakaian casual adalah ciri khasnya. Ditambah ia hanya menguncir kuda rambut indahnya.


****


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, dan tepat 5 menit yang lalu Vanya baru sampai di cafe milik salah satu dosen tempatnya kuliah.


"Ehh Vanya, pas banget kamu udah dateng" sapa Kim, pemain musik di cafe tersebut.


"Eh iya kenapa?" tanya Vanya heran.


"Cafe udah mulai rame jam segini, dari tadi banyak yang request tapi belum jamnya kamu dateng"


Sejak Vanya masuk memang terlihat cafe sudah ramai, apa lagi sore-sore seperti ini. Jamnya anak muda keluar sekedar nongkrong di cafe.


Vanya terlihat mengambil posisi, perlahan musik mulai terdengar dan berpadu indah dengan suara merdu Vanya.


"Makin hari makin rame aja nih cafe semenjak ada Vanya" celoteh Kim kepada teman di sebelahnya.


Vanya dan teman-temannya sedikit kewalahan banyak yang request lagu. Hal itu membuat Vanya harus semakin rajin menghafalkan lagu-lagu Korea dan Inggris. Tapi sesekali juga dia membawakan lagu dari negara asalnya.


Hari semakin malam, dan biasanya cafe akan tutup jam 9 malam. Tetapi malam ini baru pukul 8 cafe mulai terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih betah menunggu sampai cafe tutup.


Seorang laki-laki menggunakan hodie berwarna hitam lengkap dengan maskernya menyelonong masuk, memilih duduk di tempat paling pojok. Satu cup ice coffee americano tersanding di mejanya.


Di sisi lain, Vanya sedang membawakan lagunya IU yang berjudul "Eight". Itu adalah lagu favorit Vanya semenjak ia di Korea.


Sepasang mata menatap Vanya kagum. Suaranya terdengar candu hingga membuatnya enggan memalingkan wajahnya. Vanya yang merasa diperhatikan justru membalas menatapnya tajam. Ia tidak suka diperhatikan terlalu lama.


****


Setelah selesai membawakan lagu terakhir, Vanya bersiap pulang. Namun tiba-tiba dia ingin ke kamar mandi. Selesai dengan hajatnya, ia keluar dan tanpa disengaja,


Bruukk


"Arghh"


Vanya menjerit kaget saat ia bertubrukan dengan seorang laki-laki.


"Maaf, maaf"


Laki-laki tersebut berkali-kali minta maaf, apa lagi baju Vanya terlihat basah karena tanpa sengaja ia menumpahkan minumannya.


"Kauu"


Vanya tidak melanjutkan kata-katanya dan menunjuk wajah laki-laki itu kesal. Laki-laki itu adalah orang yang memperhatikan Vanya di dalam cafe.


"Aku benar-benar minta maaf" ucapnya sambil sesekali menoleh ke arah lain.


Belum sempat Vanya menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan beberapa orang perempuan berlai ke arahnya.

__ADS_1


Oppa


Oppa


Vanya yang mengerti kondisi laki-laki tersebut langsung menarik tangannya dan mendorongnya ke bilik kamar mandi.


"Kunci dari dalam" perintah Vanya dingin.


Tak lama kemudian segerombol perempuan benar-benar muncul. Mereka seperti sedang mencari seseorang.


"Eonni, apakah kamu melihat Min Yoongi Oppa" tanya salah satu dari mereka.


"Ahh aku bahkan tidak tahu dia seperti apa. Bisakah kau sebutkan ciri-cirinya?" tanya Vanya jujur.


"Tadi dia berlari ke arah sini. Dia menggunakan hodie berwarna hitam, kulitnya putih pucat, dan tadi membawa satu cup ice coffee" jelas perempuan tersebut.


'Bukankah dia laki-laki itu. Oh jadi dia yang bernama Min Yoongi' ucap Vanya dalam hati.


"Eonni" panggil perempuan tadi membuat Vanya tersadar.


"Apakah kau melihatnya?" lanjutnya.


"Oh iya aku tadi melihatnya. Bahkan tadi dia sempat menumpahkan kopinya pada bajuku" jawab Vanya tanpa ragu.


Mereka berbinar mendengar jawaban Vanya, sedangkan Yoongi yang mendengar dari kamar mandi mengumpat kecil.


"Ah perempuan itu, awas saja kalau sampai mengatakan aku di sini. Dia tidak tahu saja kalau mereka itu sasaeng" keluhnya.


"Ah benarkah? Sekarang kemana dia?"


Mereka terlihat semangat menanyakannya pada Vanya. Vanya sebenarnya tidak tega membohongi mereka, tapi juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Dia tadi berlari ke arah belakang cafe" ujar Vanya berbohong.


Yoongi yang mendengar hal itu menghela nafas lega. Setidaknya dia aman sekarang.


Vanya mengetuk pintu kamar mandi dimana tadi Yoongi berada.


"Cepat telepon staffmu, agar kamu bisa cepat keluar dari sini dengan aman"


Yoongi segera mencari ponselnya. Namun dia lupa, ponselnya tertinggal di gedung agensinya.


Kepala Yoongi menyembul keluar dari pintu, kemudian tersenyum kepada Vanya.


"Aku lupa membawa ponsel, bolehkah aku pinjam ponselmu?" tanya Yoongi hati-hati.


Tanpa menjawab Vanya hanya merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya. Dia segera memberikannya kepada Yoongi.


Tanpa membuang waktu, Yoongi segera menerima ponsel tersebut dan memanggil nomor ponselnya sendiri.


Satu panggilan.


Dua panggilan.


Tiga panggilan.


Yoongi tidak berhenti terus mencoba menelepon nomornya. Berharap ada keajaiban seseorang tengah memegang ponselnya.


Di gedung Bighit, tiga maknae sedang bermain bersama. Tiba-tiba sebuah ponsel berdering.


"Apakah itu ponselmu" tanya Jungkook pada V.


"Ah bukan. Tapi, bukankah ini ponsel Yoongi hyung" jawab V sambil memegang ponsel Yoongi yang terus berdering.


"Ada panggilan masuk, tapi nomor tidak dikenal" ujar Jimin melihat layar ponsel tersebut.


"Tapi ini sudah ke tujuh kali berdering. Aku takut ini hal penting"

__ADS_1


V, Jungkook, dan Jimin saling pandang. Yoongi keluar sudah 1 jam yang lalu, tapi belum ada tanda-tanda pulang.


"Angkat aja siapa tahu penting" ujar V akhirnya menggeser tombol hijau pada ponsel tersebut.


"Hallo"


Yoongi menghela nafas lega ada yang menerima panggilannya.


"Hallo, ini aku Yoongi" ujarnya tanpa basa basi.


"Yak, hyung kau dimana. Dan kau telepon pakai ponsel siapa?" tanya V panik.


"Sudah nanti saja kau bertanya. Sekarang tolong suruh salah satu staff untuk menjemputku di cafe seberang agensi. Aku sekarang ada di toilet perempuan, karena tadi aku sempat dikejar sasaeng"


"Sudah buruan tidak usah banyak tanya" lanjutnya langsung mematikan telepon.


V yang sudah membuka mulutnya akan menjawab hyungnya malah kesal karena telepon dimatikan secara sepihak.


"Dasar hyung ngga ada akhlak" umpatnya.


Tanpa membuang waktu, V langsung meminta staff untuk menjemput Yoongi.


***


"Terima kasih sudah membantuku" ujar Yoongi tulus kepada Vanya.


"Sama-sama. Lain kali jangan ceroboh. Apa lagi tidak memakai masker"


Yoongi tersadar maskernya ketinggalan di meja cafe, pantas saja banyak yang mengenalinya.


Tidak lama kemudian seorang staf masuk menemui mereka. Yoongi langsung pamit kepada Vanya.


Saat Yoongi akan melangkah keluar,


"Tunggu"


Vanya mengeluarkan sebuah topi berwarna hijau sage dan sebuah masker yang masih baru.


"Pakailah ini, setidaknya sampai kau aman sampai agensimu. Jangan sampai ada yang mengejarmu lagi"


Yoongi tampak ragu menerimanya


"Ini baru aku beli tadi sore, memang harganya tidak mahal" ujar Vanya sedikit menarik tangannya kembali.


Yoongi langsung menerima dan memakainya.


"Terima kasih" ujarnya lalu pergi.


***


Sinta mondar-mandir tidak tenang. Ini sudah hampir jam sepuluh, tapi batang hidung Vanya belum kelihatan.


"Kemana sih dia, tumben jam segini belum pulang" gerutunya kesal.


Sinta beberapa kali menelepon Vanya, tetapi tidak ada respon.


Pintu apartemen terbuka, dan Vanya masuk terkejut melihat Sinta dengan wajah kesalnya.


"Heh, dari mana aja kamu? Seneng banget ya bikin orang khawatir"


"Aku baru pulang, tadi ada sedikit problem" jawab Vanya santai.


"Terus kenapa aku telepon ngga kamu respon? Emang kemana ponsel kamu sampai ngga ngabarin dulu?"


Sinta masih merasa kesal dan menyerocos mengeluarkan unek-uneknya. Dia terlalu khawatir kepada Vanya.


Vanya tiba-tiba tersadar dan menggeledah tasnya.

__ADS_1


"Astagaa" teriaknya mengingat sesuatu.


__ADS_2