
Akhir pekan kini telah tiba. Semua orang tengah merehatkan dirinya dari aktivitas selama sepekan ini. Termasuk juga dengan Vanya, kalau Sinta tentunya sudah keluar sejak tadi bersama Kim.
"Ah ya ampun, mengapa kasur ini nyaman sekali?" gumam Vanya kecil sambil meregangkan ototnya.
Vanya terus rebahan sambil menonton drama korea kesukaannya. Apa lagi aktornya adalah Song Jong Ki, aktor favorit Vanya.
Tiba-tiba suara bel terdengar. Vanya sedikit mengernyit karena tidak mungkin Sinta sudah pulang secepat itu. Dengan malas Vanya mencepol rambutnya asal dan bergegas membuka pintu.
"Apakah kamu baru bangun tidur?" tanya Yoongi sambil menyelonong masuk.
"Heh pangsit rebus, ngapain kamu kesini?" tanya Vanya sinis.
Yoongi melangkah mendekat ke arah Vanya. Vanya pun reflek mundur menjauh dari Yoongi. Hingga jarak mereka hanya 2 langkah, Yoongi berhenti dan menatap Vanya penuh tanya.
"Kamu lupa atau pura-pura lupa?" tanya Yoongi pelan.
"Hah? Maksudnya?"
Yoongi menghela nafasnya panjang. Ia justru mengambil ponselnya dan menscroll chat antara dirinya dan Vanya beberapa hari yang lalu.
"Baca sendiri" ujar Yoongi sambil melangkah meninggalkan Vanya dan duduk di sofa.
Vanya pun menurut membaca riwayat pesan tersebut dan berakhir dengan membulatkan matanya.
"Oh ya ampun, maaf aku lupa"
Yoongi hanya menatap Vanya datar dan menyuruh Vanya untuk segera siap-siap. Vanya pun dengan malas melangkah ke kamar mandi.
Setengah jam waktu yang dihabiskan oleh Vanya untuk membersihkan diri. Kini ia tengah bercermin untuk menggunakan skincare dan mengeringkan rambutnya. Vanya membawa handuk kecil ke ruang tamu. Sambil mengeringkan rambutnya, ia ingin melihat saat ini Yoongi sedang melakukan apa.
"Huh, tadi aja nyuruh cepet-cepet. Sekarang malah tidur" gerutu Vanya kesal.
Ia lalu menyisir rambutnya dan membawa ponselnya ke depan. Meneruskan tontonan drama korea yang tadi terjeda karena kehadiran Yoongi.
Karena mencium harum fresh, Yoongi terbangun dari tidurnya dan melihat sosok Vanya berada di sebelahnya dengan rambut masih setengah basah.
"Eh, udah bangun?" tanya Vanya cuek masih sambil menatap ponselnya.
"Hmm" jawab Yoongi pelan terdengar masih mengantuk.
Yoongi menatap Vanya kagum. Pipi chubby, hidung yang sedikit pesek, mata yang bulat, bulu mata yang lentik dan sebuah dimple kecil terlihat ketika Vanya tersenyum.
Vanya yang merasa diperhatikan langsung menoleh ke arah Yoongi membuat Yoongi kelabakan karena ketahuan sedang memperhatikannya.
"Jadi keluar?" tanya Vanya memecah keheningan.
__ADS_1
"Ayok"
"Tunggu! Memang mau kemana?"
"Terserah kamu"
"Aku tidak yakin akan jalan-jalan bersama seorang idol. Pasti banyak penggemarmu dimana-mana"
"Ya aku memang sepopuler itu"
Vanya hanya memukul Yoongi dengan bantal. Menyesal sekali ia telah memuji laki-laki pucat tersebut.
"Lalu bagaimana?" tanya Yoongi juga bingung.
Memang Yoongi belum merencanakan akan pergi kemana. Apa lagi ia berkencan dengan seorang wanita ditengah-tengah karirnya yang kini melejit. Selain mengancam karirnya, ia juga tidak ingin membahayakan Vanya.
"Pulang saja sana" usir Vanya sedikit kesal.
"Enak saja. Aku sudah jauh-jauh kesini malahan disuruh pulang" gerutu Yoongi menanggapi Vanya.
Tanpa menjawab gerutuan Yoongi, Vanya melangkah ke arah dapur. Perutnya terasa lapar saat ini. Ia ingin memasak sesuatu untuk mengisi perutnya.
Tanpa Vanya sadari, ternyata Yoongi mengekor di belakangnya. Ia mengikuti Vanya ke dapur dan memperhatikan pergerakan Vanya.
Vanya mengambil beberapa bahan, dan sepertinya dapat Yoongi tebak kalau Vanya akan membuat pasta. Yoongi tergerak untuk membantu Vanya dan ikut menyiapkan bahannya.
"Kamu meremehkanku?" jawab Yoongi sambil tersenyum smirk.
Vanya hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Biasanya di dorm yang masak itu aku dan Jin Hyung. Dan aku tahu kamu akan membuat pasta kan?" jelas Yoongi.
Vanya sedikit menaikan alisnya seakan terheran jaman sekarang ada laki-laki yang bisa memasak. Apa lagi sekelas idol seperti Yoongi.
"Jika Jin Hyung yang memasak pasta ini, ia pasti akan melempar satu helai pasta ke tembok"
"Untuk apa?"
"Mengecek kematangan pasta"
"Bagaimana caranya?"
"Jika pasta ini menempel berarti sudah matang"
Vanya hanya membulatkan bibirnya. Ia baru tahu ada trik seperti itu. Karena selama ini ia hanya memasak dengan cara seadanya.
__ADS_1
"Sudah kamu buat minuman saja" perintah Yoongi pada Vanya.
"Kau mau minum apa?" tanya Vanya sambil melihat stok minuman di kulkas.
"Apakah ada soda?"
"Ada"
Akhirnya Vanya menyiapkan beberapa kaleng soda dan infus water yang telah ia buat.
Masakan mereka akhirnya matang dan mereka langsung menyajikannya untuk dimakan bersama. Vanya menata piring dan Yoongi sudah duduk manis di hadapan Vanya.
"Kita sudah seperti pasangan suami istri saja ya" celetuk Yoongi membuat Vanya mematung ketika mendengarnya.
Entah kenapa detak jantung Vanya bekerja begitu cepat. Ia berusaha bersikap biasa saja, tapi tanpa Vanya sadari jika wajahnya saat ini sudah memerah.
Yoongi yang melihat pipi Vanya tengah merona justru semakin meledeknya. Dan itu berhasil membuat Vanya jengkel sekaligus merasakan berdebar kembali.
***
Setelah selesai makan, mereka akhirnya menonton drama korea bersama. Sebenarnya Yoongi begitu malas untuk melakukan hal seperti ini. Tetapi dari pada ia disuruh pulang oleh Vanya, akhirnya ia mengalah dan berakhir duduk manis di sebelah Vanya.
Baru beberapa menit yang lalu, bahu Vanya terasa berat saat ini. Ia menoleh ke arah Yoongi dan terlihat wajah Yoongi yang tengah tertidur di bahunya. Sekilas Vanya menatap wajah tenang Yoongi ketika tidur.
'Jika diperhatikan dari dekat, ternyata wajahnya begitu menggemaskan' ujar Vanya dalam hati.
Vanya pun tetap meneruskan menonton drakor yang masih berlangsung dan membiarkan Yoongi tetap pada posisinya. Vanya tidak tega jika harus membangunkan Yoongi yang terlihat begitu kelelahan.
Tanpa sadar Vanya menjeda tontonannya itu dan menekan icon kamera. Ia mengarahkan kameranya ke wajah Yoongi yang tengah tertidur. Sesekali ia mengambol selca tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Omo!"
Sebuah teriakan mengagetkan Vanya, tapi tidak untuk Yoongi. Vanya menoleh ke arah sumber suara dan meletakkan jarinya ke depan bibirnya, menandakan untuk jangan berisik.
Sedangkan Sinta hanya mematung melihat Yoongi tengah tertidur bersandar di bahu sahabatnya tersebut. Untung saja Kim tadi tidak ikut masuk ke apartemen.
"Aigoo Oppa, nyaman sekali kamu tertidur. Bahuku juga kosong Oppa" ujar Sinta merasa iri.
"Sstt" jawab Vanya acuh dan kembali menonton drakor yang belum usai.
Sinta diam-diam memotret keduanya. Vanya yang diperlakukan seperti itu, tapi entah kenapa justru hati Sinta yang merasa penuh bunga.
Lama-lama Vanya merasa bahunya menjadi pegal. Dengan pelan ia menepuk pipi Yoongi agar terbangun. Hinga tepukan ke sepuluh, akhirnya Yoongi terbangun dan tersenyum menatap Vanya.
"Apakah aku masih mimpi?" racau Yoongi belum sadar sepenuhnya.
__ADS_1
"Aigo kenapa mimpi ini indah sekali. Bahkan aku bisa bersandar di bahu macan betinaku"