
"Oppa, I'm coming" teriak Sinta membuat Vanya yang sedang minum langsung tersedak.
"Makin gak waras" maki Vanya kesal.
Sementara Sinta tak henti-hentinya merekahkan senyuman. Sinta memainkan ponselnya sambil menunggu Lee dan Hyeon menjemputnya.
"Kok mereka lama banget ya?" gumam Sinta.
"Ya ini loh baru jam berapa. Apa lagi tempat acaranya kan ngga terlalu jauh. Kamu aja yang ngga sabaran" jawab Vanya masih terus melanjutkan acara ngemilnya.
Drrt
Drrt
Getaran tersebut berasal dari ponsel Vanya. Ia hanya melirik sekilas ponselnya guna melihat siapa yang mengirim pesan.
"Hari ini aku dan groupku ada acara. Apakah kamu juga datang?" isi pesan tersebut.
Dari bahasa tulisannya saja Vanya sudah mengetahui siapa yang mengirim pesan. Tentu saja si pangsit rebus, Min Yoongi.
"Tentu saja" balas Vanya singkat.
Pesan dari Vanya membuat Yoongi tersenyum manis. Bahkan gummy smile miliknya terlihat sangat indah.
Tak lama Vanya mengetik sesuatu kembali sebelum Yoongi kembali membalas pesannya.
"Tidak akan" lanjutnya.
Sedangkan Yoongi yang membaca pesan dari Vanya merasa lemas. Entah kenapa ia ingin sekali macan betinanya hadir di sana.
Tanpa sadar, Yoongi hanya memasang wajahnya datar dan dingin. Bahkan saat ini ada seseorang yang mengamatinya sejak tadi.
"Hyung" panggil Jimin mendekati Yoongi.
"Hyung ini kenapa? Beberapa menit yang hyung senyum-senyum sendiri. Sedangkan sekarang wajahnya begitu datar" lanjutnya penasaran.
"Gwenchana" jawab Yoongi lalu memejamkan matanya.
"Hyung, beberapa bulan yang lalu aku pernah bertemu wanita. Tapi sepertinya bukan orang Korea" ujar Jimin mengingat beberapa waktu lalu.
"Bertemu dimana?" tanya Yoongi menimpali ucapan Jimin.
"Sungai Han" jawab Jimin cepat.
"Apakah dia cantik?"
"Tidak terlalu, tapi dia begitu manis. Membuatku begitu betah memandangnya" jawab Jimin malu-malu.
"Jika aku menjadi Jesselyn, sudah ku pukul kepalamu" saut Yoongi.
"Ssstt hyung" sergah Jimin panik.
"Jangan keras-keras. Aku baru saja mendekatinya. Tidak akan lucu kalau berita ini justru tersebar" lanjut Jimin sambil melihat sekitar.
__ADS_1
"Sudah tahu lagi dekat dengan wanita, masih saja memikirkan wanita lain" jawab Yoongi asal.
Sedangkan Jimin hanya tersenyum tanpa dosa. Memang benar yang dikatakan Yoongi, seharusnya dia hanya fokus pada Jesselyn.
****
Lee, Hyeon, dan Sinta sudah sampai di tempat acara fansign tersebut. Disana sangat ramai dengan ARMY dari berbagai negara.
Acara masih setengah jam lagi, tapi sepertinya mereka tidak ingin ketinggalan satu momen pun.
Lee, Hyeon, dan Sinta saat ini sudah di dalam ruangan acara. Mereka memilih tempat duduk berdampingan dan tanpa lupa mengabadikan momen tersebut. Lumayan kenang-kenangan, kapan lagi ada kesempatan seperti ini.
Tiba-tiba ruangan tersebut berubah riuh ketika ke tujuh pangeran mereka mulai memasuki tempat acara.
"Aaaaah Jungkook Oppa" teriak Sinta tanpa sadar.
Mereka bertujuh melambaikan tangan menyapa ARMY dengan hangat. Ternyata mereka lebih tampan dari apa yang ditampilkan di media.
Mereka mulai menempatkan posisi duduk. Suara ARMY saling bersahutan meneriakan nama mereka.
"Seokjin Oppa, kamu tampan" teriak salah satu ARMY.
"Ya, aku tahu" jawab Seokjin percaya diri.
Suara tawa bahagia selalu terdengar dalam ruangan tersebut. Tanpa terkecuali Lee, Hyeon, dan Sinta.
"Jimin Oppa, folwer cup" teriak Hyeon.
Jimin pun menoleh ke arah sumber suara.
"Flower cup?" tanya Jimin memastikan.
Lalu tak lama Jimin menuruti permintaan Hyeon. Hal itu membuat Hyeon begitu bahagia. Mungkin hal ini takkan ia lupakan seumur hidupnya karena sudah dinotice oleh ultimate biasnya.
****
Kini Sinta sudah berada di hadapan ketujuh anpanman-nya. Rasanya Sinta tak ingin berkedip, takutnya saat ia membuka mata kembali dia tak lagi melihat mereka.
"Seokjin Oppa, kenapa wajahmu begitu imut. Sama imutnya dengan RJ" ucap Sinta ketika di depan Seokjin.
"Oh tentu saja. Bukankah RJ itu anakku? Pasti sangat lucu itu menurun dariku" jawab Seokjin sambil membubuhkan tanda tangan pada album yang dibawa Sinta.
Sinta bergeser untuk bergantian dengan ARMY lainnya. Kini ia tengah berhadapan dengan Yoongi.
"Yoongi Oppa, bagaimana kabarmu?" tanya Sinta basa-basi.
"Baik, seperti yang kamu lihat" seperti biasa Yoongi menjawab sewajarnya.
Sinta pun terlihat bingung akan mengatakan apa. Sudah ia rencanakan dengan matang, tetapi entah kenapa lidahnya sekarang terasa kelu saat berhadapan langsung dengan para member.
Sinta, Lee, dan Hyeon bergeser secara berurutan. Mereka diberi waktu terbatas untuk sekedar mengobrol dengan 7 laki-laki kebanggaan mereka.
Lee terlihat sangat antusias saat berhadapan dengan Yoongi, bahkan tatapannya tak beralih dari Yoongi meskipun jarak mereka sudah jauh.
__ADS_1
"Annyeong, siapa namamu?" tanya Jimin pada Sinta.
"Annyeong, namaku Sinta. Aku berasal dari Indonesia" jawab Sinta grogi.
"Sepertinya kita pernah bertemu" ujar Jimin.
"Jinjja? Dimana?" tanya Sinta terkejut.
"Ah aku ingat. Di Sungai Han saat kamu dan temanmu menikmati sunset di sana. Bahkan kalian bercerita tentang Pak Sujimin tetanggamu" jawab Jimin sambil tersenyum mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Ah benarkah? Apakah Oppa mendengarnya?"
"Ya, aku bahkan di sebelah kalian"
Sinta membelalakan matanya saat mendengar jawaban dari Jimin.
"Apakah laki-laki itu Oppa?" tanya Sinta tak percaya.
Jimin pun hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi pertanyaan Sinta.
"Ah ya ampun. Pasti Oppa mendengar perkataan Vanya. Maafkan temanku ya Oppa" ujar Sinta merasa malu.
"Gwenchana, apa lagi dia menyanyikan laguku dengan begitu manis" jawab Jimin masih tersenyum, apa lagi Sinta juga sudah diminta untuk bergeser ke arah member selanjutnya.
Yoongi yang mendengar nama Vanya disebut pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Entah kenapa telinganya begitu sensitif mendengar nama itu, padahal jarak darinya sampai ke Jimin terhalang Jhope dan RM.
'Oh ternyata dia teman dari macan betina itu' ujar Yoongi dalam hati.
****
Vanya saat ini hanya rebahan di kamarnya. Hari ini jadwal kuliahnya kosong, hanya beberapa waktu lagi ia harus bersiap untuk berangkat kerja.
Vanya sangat menikmati waktu sendirinya, tak lupa ia menyempatkan menghafal lagu untuk ia bawakan nanti sore.
"Apakah acaranya begitu lama? Sinta bahkan nggak mengatakan pulang jam berapa" tanya Vanya pada diri sendiri.
Vanya yang mulai bosan sesekali melirik jam yang ada di atas meja belajarnya. Saat ini pukul 2 siang. Tapi belum ada tanda-tanda Sinta pulang.
Drrtt
Sebuah pesan masuk ke ponsel Vanya.
"Nya, aku pulangnya agak sorean ya. Mau keliling dulu sama Lee dan Hyeon" isi pesan tersebut.
Tentu saja yang mengirim pesan itu adalah Sinta. Vanya hanya membaca pesan tersebut tanpa ada niatan membalasnya.
"Panjang umur banget, baru aja dibilangin" ujar Vanya.
Tiba-tiba suara bel terdengar. Vanya mengernyit heran. Bukankah baru saja Sinta mengatakan akan pulang terlambat?
Vanya melangkah menuju pintu utama. Bisa saja Sinta hanya iseng mengerjainya, pikirnya.
"Katanya kamu pulang ter..." ucapan Vanya menggantung saat ia sudah membuka pintu, ia hanya menatap tak percaya sosok di depannya.
__ADS_1