
Kini mereka sudah satu tahun lamanya di Korea. Tentunya mereka sudah punya sahabat baru. Kemana-mana selalu bersama. Bahasa Korea mereka pun sudah lancar, tentunya berkat Lee dan Hyeon.
Hari ini Vanya sedang libur kuliah, kerja pun juga libur. Makanya sekarang Vanya hanya bermalas-malasan di kamar.
"Nya, ini Lee sama Hyeon ngajak keluar. Ikut yok sekalian jalan-jalan. Jenuh aku udah setahun di Korea tapi cuma tahu kampus, apartemen, sama cafe tempat kamu kerja doang"
Ya, Vanya pun sebenarnya jenuh. Tapi untuk keluar pun dia terlalu malas. Setiap diajak keluar selalu saja alasannya mager. Katanya kasihan kasur sama bantalnya nangis jika ditinggal. Semager itu seorang Vanya.
Vanya berpikir sejenak, tanpa menjawab Vanya langsung mengganti pakaian dan menyambar tas kecilnya. Sinta pun bersorak semangat melihat itu, seperti burung baru keluar dari sangkar.
****
"Hey"
Teriak Lee sambil melambaikan tangan saat melihat Vanya dan Sinta. Sementara Vanya dan Sinta langsung menghampiri Lee dan Hyeon.
"Mianhe, kita terlambat" ujar Sinta tidak enak kepada dua sahabatnya.
"Tidak apa-apa, kita juga baru sampai" Hyeon menjawab santai.
"Oh iya bagaimana kalau kita pesan minum dulu. Habis ini kita jalan-jalan ke sungai Han gimana?" imbuhnya.
"Ah iya ide bagus. Aku sudah lama ingin ke sana. Tapi ya kalian tahu, manusia mager ini selalu menolaknya" gerutu Sinta sambil menunjuk Vanya dengan dagunya.
"Yaak, kau ingin aku tambah hitam kah?" saut Vanya sambil tertawa.
Hyeon dan Lee yang mendengar itu pun ikut tertawa.
Memang benar, diantara mereka Vanya yang sangat terlihat berbeda. Dia memiliki warna kulit sawo matang khas Indonesia, mata bulat dengan bulu mata lentik alami ditambah rambut sedikit gelombang dengan ujung rambut yang sedikit keriting. Membuat dirinya sangat kentara bahwa ia bukan orang Korea.
Sedangkan Sinta memiliki kulit putih halus, tidak beda jauh dengan Lee dan Hyeon yang asli orang Korea.
"Jalan-jalan sebentar tidak akan merubah warna kulit Nya. Kamu sudah satu tahun di Korea pun malah tambah putih bukan?" sahut Lee masih sedikit tertawa.
"Bilang saja kau malas"
Vanya lagi-lagi tertawa dengan jawaban Sinta. Karena memang jawaban sebenarnya dia malas, dasar Vanya itu pintar membuat alasan.
"Sudah-sudah, ayok ke sungai Han sekarang. Ini hari Senin, jadi pasti sungai Han sekarang sepi"
Hyeon menengahi mereka, kembali ke niat awal untuk sekedar jalan-jalan ke sungai Han. Mereka pun mengangguk setuju dan segera bergegas ke sana.
****
"Wuaah, lihat Nya. Indah sekali bukan. Tidak seperti sungai Serayu yang biasa kita lihat"
Vanya mengangguk setuju dengan pernyataan Sinta. Tentu saja lebih indah, warga Korea tidak membuang sampah ke sungai. Berbeda dengan warga Indonesia, sudah dilarang saja masih dilakukan. Memang negara +62 tidak diragukan lagi.
Drrtt
Ponsel Hyeon berdering, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
"Aku angat telepon dulu" ujar Hyeon sambil berjalan menjauh.
__ADS_1
Mereka hanya mengangguk, dan kembali fokus menikmati view sungai Han.
"Sepertinya melihat sunset dari sini begitu indah"
"Kau menyukai sunset Nya?" tanya Lee penasaran.
Lee memang belum terlalu paham tentang Vanya, karena Vanya yang cenderung pendiam dan tidak terlalu terbuka.
"Yaa, aku sangat menyukainya. Sangat indah bukan?"
"Kau tahu Lee, bahkan 60% galeri Vanya isinya hanya sunset" sahut Sinta menceritakan kebiasaan Vanya yang suka memotret langit senja.
"Jinjja? Wah daebak"
"Dia sangat menenangkan bagiku" jawab Vanya tenang sambil tersenyum.
"Lihat!"
Tangan Vanya menunjuk langit arah barat. Perlahan semburat jingga terlihat, matahari seakan malu-malu di balik awan. Beberapa burung beterbangan menambah kesan elegan di atas sana.
"Mianhe, aku harus pulang sekarang"
Hyeon sudah kembali di belakang mereka setelah selesai menerima telepon.
"Wae?"
"Eomma datang ke apartemen dan memintaku untuk segera pulang"
Hyeon sedikit tidak enak kepada sahabatnya, pasalnya tadi dia yang mengajak tapi malahan dia harus pulang terlebih dahulu.
Vanya mengangguk menanggapi perkataan Sinta. Hyeon terlihat tersenyum karena sahabatnya selalu pengertian.
"Kalau begitu aku juga pulang. Hyeon kan tadi berangkat bareng aku" Lee juga ikut pamitan.
"Iya, kalian hati-hati di jalan ya. Kabari jika sudah sampai"
Vanya dan Sinta hanya tersenyum dan melambaikan tangan saat kedua sahabatnya mulai melangkah menjauh.
Mereka kini memilih tempat duduk untuk istirahat, tidak jauh dari mereka ada seorang laki-laki dengan pakaian rapat. Bahkan wajahnya saja tidak terlihat.
Sinta hanya membungkukan badan menyapa laki-laki tersebut, sedangkan Vanya hanya tersenyum dan melirik sekilas, kembali menikmati suasana sore hari ini.
Vanya teringat dia harus menghafalkan lagu untuk besok. Dia mulai mengetik lirik lagu tersebut di google.
"Hafalin lagu lagi Nya?" tanya Sinta memecah keheningan.
"Iyaa nih, ada yang request kemarin" jawab Vanya singkat.
"Apakah lagu Korea?"
"Iya tapi hanya 2 baris, sisanya pakai bahasa Inggris" jelas Vanya.
"Hey lihat, mataharinya mulai tenggelam"
__ADS_1
Vanya terlihat semangat sekali mengabadikan momen itu. Koleksi foto sunset di HP-nya bertambah.
Sesekali Vanya bersenandung merdu sembari menikmati sunset hari ini.
Tore my heart
Now I'm in the dark
Will we meet in our dreams
Breaking my heart
Here we are apart
I wanna stay near you
"Lagu siapa Nya?"
Sinta terlihat tertarik dengan lagu yang dinyanyikan Vanya.
"Jimin and Ha Sungwoon"
"Hah? Jimin Oppa?"
Vanya hanya mengedikkan bahu menanggapi pertanyaan Sinta. Ia kini sudah hafal dengan nama-nama itu. Siapa lagi yang membuatnya hafal kalau bukan Sinta. Ditambah Hyeon dan Lee juga penggemar boyband tersebut. Setiap hari Vanya harus mendengar mereka menyebutkan nama 7 namja itu.
Kim Namjoon
Kim Seokjin
Min Yoongi
Jung Hoseok
Park Jimin
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
BTS
"Memangnya di dunia ini yang namanya Jimin itu hanya Oppa-mu itu ya? Bahkan tukang ojek sebelah rumahku juga namanya Sujimin" sahut Vanya asal.
"Jangan lupa, musuh masa kecilmu juga dipanggil Jimintul. Kenapa kamu tidak kepikiran mereka yang menyanyi" imbuhnya.
"Beda dodol" jawab Sinta kesal sambil menoyor kepala Vanya.
"Oppa-ku itu namanya Park Jimin" imbuhnya kesal.
"Sama saja namanya Jimin kan?"
"Iya tapi ini tuh nama Korea, bukan Jimintul atau pun Pak Jimin tukang ojek sebelah rumahmu itu. Memangnya mereka bisa menyanyi dengan bahasa Korea? Enggak kan? Ngga usah ngaco deh" jawab Sinta tidak mau kalah.
__ADS_1
"Serah Sin, terserah bodo amat. Aku ngga mau tau" jawab Vanya sekenanya.
Mereka terus beradu argumen hingga tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Seulas senyuman manis juga terbentuk di balik masker hitamnya, membuat mata sipitnya semakin tidak terlihat.