Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Teh


__ADS_3

"Oohh BTS memelihara Jin? Daebaak" ujar Vanya bertepuk tangan.


"Pantas saja BTS begitu sukses. Ternyata mereka memelihara jin. Eh tapi dimana mereka mendapatkan jin tersebut. Apakah disini ada dukun juga?" imbuh Vanya tanpa dosa.


Byuurr


Tiba-tiba saja Sinta menyipratkan air sungai tersebut ke wajah Vanya. Dengan raut geramnya, Sinta lagi-lagi menyipratkan air tersebut. Padahal ia tahu kalau Vanya benci air. Mandi saja sehari hanya satu kali.


"Hey, kau ini apa-apaan sih?"


"Sudah berapa kali kamu menistakan Oppa ku hah? Dulu Jongkok, lalu Minyong, bulan lalu Pak Sujimin tukang ojek sebelah rumahmu dan Jimintul musuh kecilku. Dan sekaraang, kau anggap Oppa tertampanku itu makhluk tak kasat mata seperti itu?"


Sinta terus mengomel tanpa henti, sedangkan Vanya menatap Sinta bingung.


"Tadi kamu bilang jin" ujar Vanya membela diri.


"Iyaa, tapi namanya itu Kim Seokjin. Nama panggilannya Jin. Arghh kau ini selalu bikin aku emosi"


Vanya hanya membulatkan mulutnya tanda mengerti. Sinta menghela nafasnya panjang, mengontrol emosinya untuk menghadapi teman tanpa akhlak itu.


"Sudahlah, lebih baik kita pulang saja. Dari pada aku dorong kamu ke sungai" ujar Sinta masih menggerutu.


"Kau marah?"


"Tidak"


"Mianhae"


"Gwenchana"


Mereka akhirnya menepi dan turun dari perahu kecil tersebut. Mereka memutuskan duduk sebentar di pinggiran sungai tersebut. Matahari mulai merangkak turun, itu adalah hal favorit Vanya.


Setelah puas menikmati sunset, mereka akhirnya bergegas pulang. Tidak lupa membeli dua porsi topokki untuk makan malam.


****


Saat sedang menikmati topokki, tiba-tiba Sinta berteriak. Vanya yang terkejut pun tersedak. Dia langsung bergegas minum air yang ada di depannya, padahal itu milik Sinta.


"Yaak itu airku kenapa kamu minum"


Vanya hanya mengatur nafasnya sejenak.


Takk


Vanya menjitak kepala Sinta pelan. Sinta hanya mengaduh kesakitan tanpa berniat membalas.


"Ih, kenapa pula kau ini. Aduuh" ujar Sinta sambil mengelus kepalanya.


"Kalau teriak lihat situasi dulu Sin. Untung cuma ku jitak kepalamu" sahut Vanya kesal.


"Aku lagi seneng banget Nya"


"Wae?"


Sinta beringsut mendekat kepada Vanya. Dia mengutak-atik ponselnya lalu menunjukan sesuatu kepada Vanya.


"Lihat! Aku dapat undangan fansign"


Sinta memeluk ponselnya sambil tersenyum bahagia. Impiannya selama ini akhirnya terkabul. Hampir 2 tahun mereka di Korea, tapi baru ini Sinta akan bertemu dengan idol favoritnya.

__ADS_1


"Aku akan pergi bersama Lee dan Hyeon. Mereka juga mendapatkan tiket fansign" ujarnya lagi.


"Ooh" jawab Vanya acuh.


"Ooh? Cuma ooh?"


"Lalu?"


"Ih kau ini. Aku sedang berbahagia, harusnya kamu juga ikut senang. Atau kau ingin ikut? Nanti bisa bertemu lagi dengan Min Yoongi Oppa"


Vanya langsung menggeleng keras mendengar perkataan Sinta.


"Oh ngga, ngga usah. Terima kasih tawarannya" tolak Vanya halus.


"Lagian tiketmu hanya 1 bukan?" lanjutnya.


Sinta mengangguk lemah. Ia lupa bahwa tiket fansign miliknya hanya 1. Padahal ia ingin sekali mengajak Vanya ke sana.


"Mianhae Vanya, aku ngga bisa ngajak kamu"


"Sudahlah. Lagian aku tidak ingin ikut. Apa kamu ingin aku menistakan Oppa-mu lagi di depan mereka?" tanya Vanya sedikit meledek Sinta.


"Berani kau nistakan mereka lagi, aku kirim kamu pulang ke Indonesia"


"Hey bukan salahku. Nama mereka saja yang susah" ujar Vanya membela diri.


"Pintar sekali kamu mengelak" ketus Sinta.


Vanya hanya tertawa mendengar celotehan temannya itu. Ia memilih melanjutkan makan topokki dari pada membahas idol itu yang tidak ada habisnya.


***


Kriiing


Kriiing


10 menit kemudian, alarm tersebut belum juga berhenti berbhnyi. Lama-lama Vanya terbangun karena alarm mereka yang mengusik mimpinya. Ia bergegas membuka tirai jendela, menghirup udara pagi yang masih sangat segar.


"Ehh Juleha, bangun. Itu lihat ada Jeon Jungkook"


"Hah? Mana? Aduh mana masih ileran" jawab Sinta panik.


Vanya yang melihat hal itu justru tertawa terpingkal-pingkal.


"Noh dalam mimpimu"


Vanya langsung berlari ke kamar mandi setelah mengatakan itu. Dia sudah bisa pastikan temannya itu sedang menggerutu kesal karena ulahnya. Dan benar saja, Sinta saat ini sedang melayangkan tatapan kesal ke arah pintu kamar mandi. Seakan-akan Vanya dapat melihat tatapan tersebut.


Setelah 30 menit, Vanya akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia terlihat bingung saat mengedarkan pandangannya, tapi tak terlihat sahabatnya yang tadi baru bangun.


"Kemana tuh anak" gumam Vanya kecil.


Dia lantas mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Hari ini jadwal kuliahnya lumayan padat.


Tiba-tiba Sinta masuk membawa sebuah kotak lagi. Tapi kali ini dengan wajah bingung.


"Nya, ada kotak lagi"


Vanya hanya menoleh bingung. Sebenarnya siapa yang mengirim kotak tersebut.

__ADS_1


"Baca aja, siapa tahu buat kamu"


Sinta pun mengangguk dan mulai membuka kotak tersebut. Tak lama terdengar Sinta berteriak.


"Apaan sih teriak-teriak gitu" ujar Vanya.


Akhirnya Vanya melangkah mendekat. Penasaran dengan kotak tersebut. Ia pun mengambil surat yang tergeletak di atas kasur. Sedangkan Sinta sedang senyum-senyum sambil berguling di bawah selimut.


'Pantas saja bertingkah aneh. Ternyata dari Kim' batin Vanya.


Vanya meletakkan kembali surat tersebut lalu bergegas bersiap-siap pergi ke kampus.


"Kamu mau berangkat kuliah ngga?" tanya Vanya.


Sinta yang mendengar hal itu langsung tersadar dan kaget.


"Sekarang jam berapa?"


"Jam 7 kurang. Kita masuk jam 8 loh"


"Ya ampun kenapa kamu ngga ingetin aku"


Vanya hanya memutar bola matanya malas. Padahal sedari tadi dia hanya berguling-guling dan memeluk boneka pemberian kekasihnya, Kim.


***


Di kampus, di apartement, dimana pun kalau Sinta, Lee dan Hyeon sudah berkumpul, pembahasannya tetap satu. Yap! BTS.


"Hey lihat! Taehyung up instagram" pekik Lee menambah kegaduhan mereka.


"Ah ya ampun Taehyung manis sekali" ujar Sinta menimpali.


"Apakah semanis itu?" tanya Vanya tiba-tiba.


Lee, Hyeon, dan Sinta mengangguk kompak. Mereka sedikit tidak percaya bahwa teman satunya itu tertarik pembicaraan mereka.


"Bolehkah aku mencobanya?"


"Hah?"


Lagi-lagi Lee, Hyeon, dan Sinta menjawab kompak. Tapi kali ini lebih tepatnya mereka terkejut.


Mereka membuka lebar bibir mereka, menganga tak percaya dengan pertanyaan temannya itu.


"Apa maksudmu?"


Sinta sudah memicingkan matanya. Ia merasa curiga dengan otak sahabatnya satu itu.


"Tadi kalian bilang teh yung itu manis. Aku hanya ingin tahu rasanya. Selama ini kan aku hanya tahu teh celup dan teh tubruk" ujar Vanya polos.


"Apakah itu teh khas Korea?" lanjutnya.


Lee dan Hyeon masih terdiam tidak menyangka. Sedangkan Sinta sudah tahu pasti otak sahabatnya itu akan berbeda sendiri.


"Guys, ke rumah sakit yuk" ajak Lee.


"Hah? Ngapain?" tanya Hyeon heran.


"Noh, kita periksa otak Vanya. Siapa tahu udah geser ke dengkul" jawab Lee sedikit kesal.

__ADS_1


__ADS_2