Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Mulai Curiga


__ADS_3

"Aduh bestie, omonganmu emang ya ngga bisa difilter dikit. Bikin kita makin sakit tahu nggak?" ucap Hyeon mendengar ucapan menohok dari Vanya.


"Loh kan aku benar. Mereka itu superstar, artis kelas atas. Ya meskipun aku belum pernah melihat mereka seperti apa. Dibandingkan kita yang aduuh" ucap Vanya menggantung sambil menjentikkan jarinya.


Sinta, Lee, dan Hyeon yang mendengar pembelaan dari Vanya malah semakin ingin menangis. Kata-kata Vanya menampar mereka bahwa ketujuh pangeran mereka memang tidak bisa mereka gapai.


Vanya yang melihat mereka bersedih secara berjamaah jadi merasa iba. Vanya tengah berpikir apakah kata-katanya menyakiti hati teman-temannya? Tapi bukankah itu memang faktanya?


"Yaak, sudahlah jangan bersedih seperti ini. Toh mereka belum klarifikasi kan. Kalian sebagai fans harus ikhlas jika memang berita itu benar. Tapi sebelum idol kalian klarifikasi, kalian jangan percaya dulu untuk kesehatan hati kalian" ujar Vanya pelan.


Sinta menghambur ke pelukan Vanya. Kemudian disusul oleh Hyeon, tapi tidak dengan Lee. Vanya tidak mempermasalahkan hal itu, karena justru ia sekarang merasa seperti tercekik karena pelukan Sinta begitu kencang.


"Tumben banget kamu bijak gini Nya. Makan apa si tadi pagi kamu" ucap Hyeon terharu.


"Yaak, kalian berniat membunuhku kah?" teriak Vanya mencoba melepaskan pelukan Sinta dan Hyeon.


Vanya menatap ke arah Lee. Entah kenapa sejak kemarin Lee masih memberikan tatapan penuh tanya kepada Vanya. Tentu saja hal itu membuat Vanya bertanya-tanya dengan sikap Lee yang berubah kepadanya.


"Sudah ih, risih tau" ujar Vanya ketika pelukan Sinta dan Hyeon terlepas.


"Dih sok gengsi. Mentang-mentang di sini ramai jadi nggak mau dipeluk lagi" cibir Sinta pelan.


Vanya hanya memutar bola matanya malas. Sedangkan Hyeon masih tertawa melihat pertikaian kecil antara Sinta dan Vanya.


"Yaak, sudah-sudah. Aigo kalian ini seperti tikus dengan kucing" ucap Hyeon menengahi.


"Tapi ada kabar lebih hot lagi loh" ucap Lee masih menatap Vanya datar.


"Kabar apa lagi Lee. Jangan bikin heart attack lagi deh" jawab Sinta seperti belum siap patah hati kembali.


"Beberapa waktu lalu, temanku mengikuti Yoongi Oppa. Katanya dia masuk ke sebuah outlet jam tangan wanita. Dan dia membeli sebuah jam tangan dengan warna coklat susu" beber Lee masih menatap lekat ke arah Vanya.


Vanya yang ditatap seperti itu oleh Lee mengernyitkan dahinya. Ia membalas tatapan tersebut tapi dengan tatapan bertanya.


"Tunggu-tunggu. Bisa jadi kan Yoongi Oppa membeli jam tangan tangan untuk Eommanya" balas Hyeon ragu.


"Jika untuk Eommanya, tidak mungkin dibungkus rapih bahkan ada kartu ucapannya. Sayangnya saat itu Yoongi Oppa meminta staff untuk mengirimkan jam tangan tersebut melalui kurir" elak Lee dengan percaya.


Vanya yang mendengar hal tersebut sebenarnya sedikit terkejut. Namun ia pandai menguasai wajahnya. Bahkan saat ini ia terlihat seperti biasa, datar.

__ADS_1


"Kenapa temanmu tidak mengikuti kurir tersebut?" tanya Sinta memancing.


"Temanku lebih dulu ketahuan oleh Yoongi Oppa" jawab Lee geram.


"Mwo? Lalu bagaimana?" tanya Sinta heran.


"Sepertinya Yoongi Oppa sedang jatuh cinta. Senyumnya tak pernah pudar saat memilih jam tangan tersebut. Dan beruntungnya temanku juga ia lepaskan asal tidak mengganggu privasinya lagi"


Vanya jadi teringat dengan paket yang ia terima beberapa hari yang lalu. Apakah paket itu yang dimaksud oleh Lee? Juga sedari kemarin Lee seperti curiga kepadanya.


'Lebih baik aku menjauh dari pangsit rebus itu. Aku ingin hidupku tetap damai' ujar Vanya dalam hati.


"Kamu nggak nerima paket kan Nya akhir-akhir ini?" tanya Lee spontan kepada Vanya.


Vanya yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh. Ketika mendengar hal tersebut, Vanya justru malah tertawa pelan.


"Nerima paket apaan? Bahkan aku belum pernah bertemu dengan Oppa-Oppa kalian itu. Jangan ngelawak deh" jawab Vanya masih dengan kekehan kecil.


Sinta dan Hyeon saling pandang, sepertinya ada perang dingin di belakang mereka. Lee yang memang terobsesi dengan Yoongi, dan Vanya yang akhir-akhir ini sering berkomunikasi dengan Yoongi.


Ting!


Ya. Tentu saja si 'Pangsit Rebus'.


'Panjang umur sekali dia. Sedang dighibahin di sini malah sekarang mengirim pesan' gerutu Vanya dalam hati.


Vanya memilih mengabaikan pesan tersebut dan kembali menyimpan ponselnya. Ia tidak ingin tambah merusak suasana saat ini yang tengah panas.


Vanya melirik jam pada ponselnya. Sudah pukul 2 siang, lebih baik ia pulang sekarang. Setidaknya bisa istirahat sejenak sebelum nanti berangkat kerja ke cafe.


"Guys, pulang yuk!" ajak Vanya kepada teman-temannya.


Semua mengangguk setuju, karena memang hari ini begitu melelahkan. Ditambah sebuah kabar yang memporak porandakan hati mereka.


Vanya bergegas pulang bersama Sinta. Sedangkan Lee memang selalu bersama Hyeon. Mereka terpisah dengan sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.


****


Ketika sampai apartemen, Vanya bergegas mencari sebuah paket yang ia simpan kemarin. Vanya belum sempat membukanya, bahkan sampai lupa.

__ADS_1


Setelah menemukan paket tersebut, Vanya langsung membukanya secara terburu-buru. Dan benar saja, isinya sama persis dengan apa yang tadi Lee ceritakan.


"Aigoo, jadi yang dibicarakan Lee itu benar Nya. Ini sama persis kan?" tanya Sinta tidak percaya.


"Beruntung banget si kamu Nya. Boleh nggak si tukeran sebentar sama aku. Aku kan juga ingin diperhatikan oleh Yoongi Oppa" lanjut Sinta sambil terkekeh.


"Aku bahkan tidak menginginkan seperti ini Sin. Aku lebih menginginkan hidup dengan tenang" jawab Vanya datar.


Vanya menyimpan kembali jam tangan tersebut. Vanya tidak ingin memakainya. Bukan tidak menghargai pemberian Yoongi, bukan. Tapi Vanya tidak ingin membuat Lee semakin curiga dan berakhir menjauh darinya.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan Nya. Yang jelas kamu harus berterima kasih kepada Yoongi Oppa" ucap Sinta menasihati Vanya.


Tanpa menjawab perkataan Sinta, Vanya langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Yoongi.


Vanya langsung memanggil ke nomor telepon Yoongi, dan tanpa menunggu waktu lama panggilan tersebut dijawab oleh Yoongi.


Yoongi tersenyum melihat ada panggilan dengan nama 'Macan Betina'. Yoongi tanpa membuang waktu langsung menekan tombol hijau pada ponselnya.


"Hallo" ucap Vanya datar.


"Iya, ada apa? Kangen?" goda Yoongi pada Vanya.


"Aniyo" jawab Vanya spontan.


"Lalu?"


"Aku ingin berterima kasih atas semua yang telah kamu berikan. Dan aku minta 1 hal" ucap Vanya tegas.


"Iya kamu ingin apa? Katakanlah"


"Jauhi aku. Tolong jangan pernah memberikan apa pun lagi. Jangan pernah hubungi aku lagi mulai sekarang" ucap Vanya yakin.


"Wae?" Yoongi refleks terkejut mendengar perkataan Vanya.


"Aku ingin hidup dengan damai. Mengenalmu membuatku dicurigai beberapa orang. Aku rasa kamu paham maksudku"


"Tapi Nya.."


Tut..tut..tut..

__ADS_1


Vanya menutup panggilannya sepihak. Ia hanya tidak ingin membuat semuanya semakin rumit. Membayangkan ia dikejar-kejar sasaeng saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Apa lagi jika itu benar-benar terjadi kepadanya?


__ADS_2