
Noh, kita periksa otak Vanya. Siapa tahu udah geser ke dengkul" jawab Lee sedikit kesal.
Vanya yang mendengarnya hanya memasang wajah polos tanpa dosa.
"Aku hanya penasaran dengan teh itu. Apakah aku salah?" ujar Vanya.
Lee, Hyeon, dan Sinta hanya membuang muka. Malas meladeni Vanya yang mode lemot ini.
"Kalian belum jawab aku. Teh yung itu sejenis apa? Apakah rasanya sama seperti teh Tong Kosong?" tanya Vanya lagi.
Hyeon hanya menghela nafasnya kasar.
"Kenapa kalian diam saja. Katakan aku salahnya dimana?"
"Ngga Nya, kamu ngga salah kok. Kita yang salah temenan sama kamu" jawab Hyeon frustasi.
"Apa hubungannya dengan pertemanan?" tanya Vanya masih dengan muka polosnya.
Sinta yang merasa jengah dengan otak lemotnya Vanya ketika membahas BTS hanya bisa menengahi.
"Vanya dengarkan aku! Itu bukan sejenis minuman teh. Apa lagi disamakan dengan teh Tong Kosong atau pun teh Sari Bening. Kita sedang membahas Kim Taehyung. Udah mending kamu diem aja deh. Dari pada aku beneran kirim kamu balik ke Indonesia"
Vanya yang mendengar hal itu hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Akhirnya ia lebih memilih memainkan ponselnya.
Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk, Vanya mengerutkan dahinya bingung.
'Sedang berada dimana?' bunyi pesan tersebut.
Vanya hanya membaca pesan tersebut tanpa ada niatan untuk membalasnya.
'Kenapa hanya dibaca?'
Sebuah pesan masuk lagi ke ponsel Vanya. Nomor ponsel ini sudah menghubungi Vanya beberapa kali. Namun selalu Vanya abaikan karena memang tidak tersimpan dalam ponselnya.
Karena merasa jengah, akhirnya Vanya membalas pesan tersebut.
'Kampus' balas Vanya singkat.
"Nya"
Sebuah tepukan di pundak Vanya mengalihkan fokusnya.
"Hmm" jawab Vanya singkat.
"Lusa aku, Lee, dan Hyeon berangkat untuk fansign. Kamu ngga apa-apa aku tinggal?" tanya Sinta pelan.
"Udah tenang aja, aku bukan anak kecil kok"
"Kamu tetep kerja Nya? Atau mau ikut kita aja?" tawar Hyeon tidak tega meninggalkan Vanya sendiri.
"Ah tidak perlu, aku lebih baik ke cafe aja ketimbang ikut ke sana. Ngga mudeng aku" tolak Vanya halus.
"Yaudah kita berangkat bertiga aja pakai mobil aku" ujar Lee.
Hyeon dan Sinta mengangguk setuju, sedangkan Vanya masih sibuk memainkan ponselnya.
'Aku tunggu nanti malam di cafe'
Vanya membaca pesan tersebut. Ia masih heran dengan si pengirim pesan.
__ADS_1
'Siapa sih?' batin Vanya.
Saat akan menanyakan hal tersebut, dosen memasuki ruang belajar mereka. Akhirnya Vanya menyimpan ponselnya tanpa membalas pesan tersebut.
***
Saat jam istirahat tiba, lagi-lagi mereka berempat berkumpul di kantin. Kemana saja mereka selalu bersama. Sudah mirip tokoh wayang Jawa yang bernama Punakawan bukan?
Vanya menyempatkan dirinya untuk mengabari neneknya di Indonesia. Biasanya ia akan menelepon neneknya satu minggu sekali.
"Hallo Nek" sapa Vanya girang.
"Apakah kamu belum pulang?"
"Belum Nek, masih ada jam lagi nanti"
"Hallo Nenek, annyeonghaseyo" ujar Sinta merebut ponsel dari Vanya.
Vanya sontak menoyor kepala Sinta pelan. Bagaimana bisa nenek-nenek dari desa disambut dengan bahasa Korea. Pastinya nenek Vanya sedang bingung sekarang.
Tapi bukan Sinta namanya kalau tidak dapat mencairkan suasana. Bahkan sekarang ponsel Vanya sudah dikuasai oleh Sinta.
"Udah Nenek tenang aja. Vanya aman sama Sinta. Kalau dia nakal bakal aku jewer Nek"
Entah apa yang dibicarakan mereka lewat ponsel. Vanya yang berada di sebelahnya pun hanya geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya.
"Wah ternyata nenekmu begitu dekat dengan Sinta" ujar Lee kagum.
"Iya, seperti dia yang cucunya kan?" kekeh Vanya.
Hyeon dan Lee terkekeh menanggapi celotehan Vanya.
Vanya menerima ponsel tersebut dan berbincang sebentar dengan neneknya. Setelah pamitan, ia kembali menyimpan ponselnya di tas.
****
Vanya bersenandung kecil sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Ia tengah bersiap-siap berangkat kerja.
Kali ini ia membiarkan rambutnya terurai bebas. Dengan ditambah aksesoris bando simpel, menambah kesan elegan pada diri Vanya.
Entah kenapa hari ini Vanya sangat ingin mencoba airpods barunya. Yap! Airpods warna hijau sage yang entah dari siapa.
"Wuihh airpods baru nih" ledek Sinta melihat Vanya menenteng airpods tersebut.
"Ketimbang bulukan ngga dipakai. Kan sayang" jawab Vanya asal.
"Sayang sama yang ngasih kali"
Sinta tak henti-hentinya meledek Vanya. Padahal Sinta tahu, pengirimnya saja tidak meninggalkan identitasnya.
"Bodoamat" balas Vanya singkat.
Vanya langsung bergegas menuju halte bus terdekat. Ia malas untuk berjalan saat ini.
Vanya memasang airpodsnya dan kini ia sudah sampai di cafe biasa ia bekerja.
"Wih Vanya, tumben nih kayak ada yang beda" sapa Kim sambil menyenggol bahu Vanya pelan.
"Beda apanya?" tanya Vanya heran.
__ADS_1
"Noh warna hijau di kepala. Baru yah?" ujarnya penasaran.
Vanya hanya mengangguk sebagai respon.
Ia langsung bergegas menuju tempatnya. Melepas airpodsnya, membiarkannya melingkar indah di leher Vanya.
Biga oneun naren nan hangsang nol geuriwohae
Onjengan nol dasi mannaneun geunareul gidarimyo
Bi naerin hanereun wae geuri nal seulpeuge hae
Heutojin nae nunmulro itkko sipeunde
Gago sipo nol bogo sipo kkok chatkko siposso
Hajiman noe moseubeun ajiktto geu jarie
...Vanya membawakan lagu Western Sky milik Lee Seung Chul dengan apik. Begitu menghayati lagu tersebut sampai Vanya meneteskan air matanya. Tanpa sadar ia memegang dadanya sesak. Beberapa potongan masa lalu hadir kembali dalam ingatannya....
Tanpa Vanya sadari, sedari tadi seseorang ikut terhanyut dalam lagu yang dibawakan oleh Vanya. Ia menatap Vanya sendu.
Vanya pergi ke kamar mandi untuk menenangkan moodnya yang tiba-tiba turun drastis. Ia membasuh wajahnya kemudian menghela nafasnya panjang.
"Kenapa kamu menangis?"
Sebuah suara bariton menganggetkan Vanya, membuat Vanya sedikit berjingkat kaget.
Vanya terperangah saat melihat siapa yang datang menyusulnya ke toilet.
"Kenapa kamu disini?" tanya Vanya heran.
"Bukankah kamu membaca pesanku?"
"Yee dasar pangsit rebus. Ditanya malah balik nanya"
Ya, seseorang yang mengirim pesan kepada Vanya adalah Yoongi. Ternyata dia masih menyimpan nomor ponsel Vanya saat menolongnya beberapa waktu lalu.
"Berani sekali kamu memanggilku pangsit rebus" ujar Yoongi dengan suara deep voicenya.
"Lalu apa? Kulitmu yang sangat putih dan glowing itu mirip dengan pangsit rebus bukan?" ujar Vanya.
"Dasar macan betina" jawab Yoongi tak mau kalah.
"Apa maksudmu?"
Vanya melayangkan tatapan kesal kepada Yoongi. Sedangkan Yoongi yang ditatap seperti itu hanya menaikan satu alisnya dan tersenyum smirk.
"Lain kali jangan abaikan pesan atau pun telepon dariku" ujar Yoongi tiba-tiba.
"Lah terserah aku dong" jawab Vanya ketus.
Yoongi hanya diam, tapi matanya mengamati penampilan Vanya. Ia tersenyum penuh arti.
"Airpods itu terlihat sangat cocok denganmu. Ternyata aku ngga salah pilih warna"
Vanya yang mendengar hal itu hanya memasang wajahnya cengo.
"I-ini dari kamu?"
__ADS_1
Yoongi hanya tersenyum sambil mengacak rambut Vanya pelan lalu meninggalkan Vanya begitu saja tanpa kata.