Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Melting


__ADS_3

Vanya menjalani hari-harinya seperti biasa, bahkan ia merasa sedikit jenuh dengan kehidupannya saat ini. Begitu pula dengan Sinta, ingin sekali dia mengubah alur hidupnya sebentar saja.


"Nya, besok refreshing yuk?" ajak Sinta sedikit berharap.


"Kemana? Sungai Han lagi? Bosen Sin" jawab Vanya mager.


Sinta mengerucutkan bibirnya, sebal. Tapi yang dikatakan oleh Vanya memang benar. Bahkan mungkin jika pohon di dekat Sungai Han bisa berbicara, mereka juga pasti akan mengatakan bosan melihat sikap absurd mereka di pinggiran sungai.


Ting!


Sebuah notifikasi berdenting pelan. Vanya dan Sinta menoleh bersamaan ke arah ponsel. Bukan ponsel Vanya, melainkan ponsel Sinta yang berbunyi saat ini.


"Wah ini Mas Ganteng update apa nih" gumam Sinta kecil.


Vanya yang tidak tahu menahu siapa itu 'Mas Ganteng' hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Sinta.


"Huaa"


Vanya terlonjak kaget mendengar teriakan Sinta yang begitu melengking. Bahkan baru saja tadi teriak kini Sinta tengah senyum-senyum sambil memegangi dadanya.


"Ya ampun Mas, ganteng banget si kamu. Itu rambut lucu banget lagi warna ungu gitu. Aduh kena heary attack kan aku"


Vanya mendekat untuk memastikan apakah temannya gila atau tidak. Namun dahi Vanya mengernyit heran ketika tangannya menyentuh dahi Sinta, dan suhu badan Sinta normal seperti biasanya.


"Ngga panas, tapi kok.." ucap Vanya menggantung.


"Apaan sih Nya, ganggu orang lagi halu aja. Lihat nih Seokjin Oppa. Ganteng banget kan?" tanya Sinta sambil memperlihatkan ponselnya.


Vanya melihat ke arah ponselnya, ia lupa berkedip untuk beberapa detik. Hatinya mengakui bahwa laki-laki itu memang begitu tampan. Tapi lagi-lagi Vanya menepisnya dan kembali memasang wajah datar.


"Gantengan juga jodoh aku Sin" jawab Vanya asal.


"Yaelah jomblo aja ngomongin jodoh. Jodoh kamu tuh belum keliatan tuh hilalnya" sahut Sinta julid.


Vanya justru tertawa mendengar jawaban dari Sinta. Bisa-bisanya ia memikirkan jodoh, bahkan pacar saja belum punya. Jangankan pacar, tertarik dengan laki-laki saja Vanya sudah sulit. Mati rasa kalau bahasa gaulnya.


"Kok bisa ganteng banget gini si Mas? Dulu orang tuamu nyidam apa sampai keluarnya modelan pangeran gini"


"Makin gak bisa digapai deh"


Vanya hanya memutar bola matanya ketika mendengar celotehan Sinta yang makin ke sini makin halu.


'Yang penting ngga sampai gila' ujar Vanya dalam hati.


Vanya melangkahkan kakinya pelan. Entah kenapa ia ingin keluar apartemen. Ketika Vanya membuka pintu, ia dikejutkan dengan sosok seseorang yang tengah mengangkat tangannya hendak memencet bel.


"Omo! Aigo, siapa kamu? Mengagetkan saja" ujar Vanya sedikit kaget.

__ADS_1


Sinta yang mendengar Vanya sedikit teriak pun langsung bergegas menghampiri Vanya.


"Omo! Yoongi Oppa! Ah, ayo masuk Oppa" ujar Sinta terkejut melihat sosok Yoongi tengah berdiri di depan pintu apartemennya.


Yoongi hanya mengangguk dan melangkah masuk melewati Vanya yang masih membatu di tempatnya.


"Apakah kedatanganku mengganggu?" tanya Yoongi sambil melepas masker dan topinya.


"Aniyo, justru aku seperti mimpi seorang idol bertamu ke apartemenku" jawab Sinta girang.


Vanya hanya melangkahkan kakinya gontai menuju dapur. Semenyebalkan apa pun Yoongi bagi Vanya, ia tetap menyuguhkan minuman untuknya. Vanya membuatkan membawa beberapa kaleng minuman soda dan juga beberapa cangkir teh lemon. Tidak lupa beberapa snack yang kemarin ia beli. Vanya tidak tahu apa yang menjadi kesukaan Yoongi.


"Ini silahkan diminum" ujar Vanya sambil meletakkan nampan yang ia bawa di meja.


"Gomawo, maaf merepotkan" jawab Yoongi dengan pandangan kagum kepada Vanya.


"Ah gwenchana Oppa"


Bukan Vanya yang menjawab, melainkan Sinta.


"Ada apa malam-malam bertamu?" tanya Vanya ketus.


"Aaw" jerit Vanya yang langsung mendapatkan cubitan kecil di pahanya.


Yoongi yang menyaksikan hal tersebut hanya tersenyum manis. Sangat manis bahkan.


Beberapa detik Vanya terhipnotis dengan gummy smile milik Yoongi. Senyumnya menenangkan, dan membuat yang melihatnya ingin terus memandang.


"Apakah Oppa ingin mengobrol berdua dengan Vanya?" tanya Sinta sedikit berbisik setelah melihat Vanya pergi.


"Jika kamu tidak kebaratan" jawab Yoongi tak kalah pelannya.


Sinta hanya mengangguk dan menautkan jarinya membentuk simbol "Ok".


Vanya kembali bergabung ke ruang tamu. Mereka membicarakan banyak hal. Lwbih tepatnya Sinta yang mengoceh dan ditanggapi oleh Yoongi lalu disimak oleh Vanya.


"Ah ayang aku telepon. Sebentar ya Oppa" ujar Sinta sambil memberi kode kepada Yoongi.


Vanya merasa bingung dengan Sinta. Padahal ponselnya tidak berbunyi, bisa-bisanya dia bilang jika Kim tengah menelponnnya. Sejak kapan dia suka mode silent?


"Ehm, macan betina"


Vanya menoleh ke arah Yoongi dan menatap Yoongi sinis.


"Apa?" jawab Vanya ketus.


"Galak banget jadi perempuan"

__ADS_1


"Dih biarin. Pangsit rebus"


"Lah malah ngatain"


Mereka terus saling mengumpat satu sama lain. Entah kenapa setiap mereka bertemu, selalu saja ada pertengkaran kecil. Sinta yang mengintip di balik pintu pun merasa geram dengan pasangan tersebut. Eh ralat, calon pasangan.


"Bisa-bisanya lagi ketemu bukannya ngobrol romantis gitu malah saling mengumpat" gumam Sinta kecil.


Vanya dan Yoongi akhirnya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Minggu ada waktu kosong gak?" tanya Yoongi memecah keheningan.


"Banyak" jawab Vanya seperlunya.


"Temani aku" pinta Yoongi.


"Ah malas sekali. Lebih baik rebahan di kamar"


"Ya sudah temani aku rebahan"


"Eh"


Itu bukan suara Vanya. Ya, itu suara Sinta yang tengah menguping dan terkejut dengan ajakan Yoongi yang terdengar absurd. Sedangkan Vanya hanya melotot tajam ke arah Yoongi.


"Aku hanya becanda" gumam Yoongi sambil mengacak rambut Vanya pelan.


Entah kenapa Vanya tidak menolak perlakuan Yoongi. Bahkan jantungnya berdetak lebih kencang. Bukan itu saja, Sinta yang melihat kelembutan Yoongi kepada Vanya pun ikut meleleh di balik pintu.


"Ya ampun. Hoki banget si hidup kamu Nya. Pakai pelet apaan si? Boleh lah aku minta juga buat melet si bayi berotot itu" gumam Sinta sambil menggigit jari melihat tatapan tulus dari Yoongi kepada Vanya.


"Eh" gumam Vanya tersadar.


"Ah maaf" ujar Yoongi sambil menurunkan tangannya canggung.


Vanya hanya tersenyum menanggapi Yoongi, tanpa Vanya ketahui hal itu membuat Yoongi semakin tertarik dengannya.


"Jadi bagaimana? Bisa?" tanya Yoongi memastikan.


"Aku tidak berjanji, tapi aku usahakan" jawab Vanya canggung.


'Sadar Nya, sadar. Jangan sampai kamu salah tingkah hanya karena diperlakukan baik olehnya. Bisa jadi dia memang seperti itu kepada wanita lain' ujar Vanya dalam hati.


"Aduh aduh, udah dong jangan seperti ini terus. Aku yang ARMY malah Vanya yang dapet jodoh idol" ujar Sinta merasa sedikit iri.


Vanya menatap Sinta tajam, sedangkan Yoongi hanya terkekeh pelan. Ingin rasanya Yoongi membawa Vanya ke dalam pelukannya dan selalu melindungi apa pun keadaan Vanya.


"Aku pulang, ini hampir tengah malam" pamit Yoongi pada Vanya dan diangguki oleh Sinta.

__ADS_1


Setelah Yoongi keluar dari apartemen mereka, Sinta berteriak seperti orang gila. Dan Vanya sudah kembali ke setelan pabriknya.


"Pengen jadi Vanyaaa" teriak Sinta setengah gila.


__ADS_2