Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Kilas Balik Masa Lalu (2)


__ADS_3

Flashback On


"Aku akan pergi kuliah ke Korea" pamit Vanya kepada Soka.


Vanya memang memiliki kekasih sejak 1 tahun yang lalu. Mereka menjalaninya secara diam-diam. Bahkan hanya Sinta dan keluarga mereka yang tahu tentang hubungan Vanya dan Soka.


"Mengapa jauh sekali? Apakah tidak bisa kamu kuliah di sini saja? Aku akan bekerja agar bisa cepat menikah denganmu" jawab Soka terdengar keberatan dengan keputusan Vanya.


Vanya menggeleng sambil tersenyum manis kepada Soka.


"Tidak Soka, namaku sudah terdaftar di sana. Aku janji saat aku selesai kuliah nanti, kita akan melangkah ke jenjang yang lebih serius bersamamu" ucap Vanya meyakinkan Soka.


Soka hanya terdiam mendengar perkataan Vanya. Memang benar apa yang Vanya katakan, ia selesai kuliah dan Soka pastinya sudah bisa mengumpulkan uang untuk meminang Vanya nantinya. Tetapi 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar.


"Apakah kamu akan pulang setiap semester?" tanya Soka memastikan.


Vanya hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Soka. Memang Soka itu terlalu posesif dan tak pernah mau jauh dengan Vanya.


"Nanti kamu di sana malah suka sama orang-orang Korea gimana?"


Tawa Vanya semakin meledak mendengar pertanyaan Soka. Bagaimana bisa Vanya mencintai laki-laki lain sedangkan ia sudah memiliki Soka.


"Aku hanya menyukaimu" jawab Vanya menenangkan.


"Iya lah, aku gantengnya asli. Tidak seperti mereka, plastik" cibir Soka tidak suka.


"Apa maksudmu?" tanya Vanya sedikit tidak suka.


"Lihatlah seseorang dari kelebihannya, bukan kekurangannya. Toh jika mereka operasi plastik pun itu tidak merugikan kamu. Tidak usah body shaming" lanjut Vanya.


"Kenapa kamu ngomel seperti itu. Apakah kamu mulai menyukai mereka?" tanya Soka kesal.


"Apakah jika kamu dihina, kamu akan suka? Hatimu tidak terluka? Jangan menjadi orang yang merasa pintar, tapi jadilah orang yang pintar merasa. Lagian sesempurna apa sih diri kita sampai menghina orang lain seperti itu? Mereka saja tidak pernah mengusik kehidupan kita, lalu untuk apa kita sampai menghina-hina mereka?" jawab Vanya tegas.


Vanya memang tidak menyukai idol-idol Kpop. Tapi dia bukan hatters. Vanya hanya tidak suka jika ada orang yang menjelekkan orang lain di hadapannya.


"Ah sudahlah kenapa jadi membahas yang tidak penting" ujar Soka.


Vanya hanya mengangkat bahunya acuh. Ini yang Vanya tidak sukai dari Soka.


"Maukah kamu berjanji padaku Vanya?" tanya Soka tiba-tiba.


Vanya menoleh ke arah Soka dengan tatapan matanya bingung. Tatapan mata mereka bertemu, sampai Soka mengangkat jari kelingkingnya di depan Vanya.

__ADS_1


"Berjanjilah untuk setia kepadaku. Berjanjilah kembali ke sini untukku" ujar Soka.


"Kau meragukanku?" tanya Vanya spontan.


"Ah tidak. Aku hanya ingin kamu berjanji" jawab Soka sambil meraih tangan Vanya.


Vanya menautkan jari manis mereka, setidaknya ia sudah mendapatkan izin dari Soka untuk melanjutkan kuliahnya di Korea.


***


Waktu berlalu, hubungan mereka pun berjalan seperti biasa. Namun sering kali Soka menghilang beralasan sibuk bahkan lembur bekerja.


Vanya yang memang tidak pernah curiga hanya mempercayai apa yang Soka katakan.


Hingga berjalan 2 tahun Vanya di Korea, hubungan Vanya dengan Soka semakin tidak jelas. Bahkan beberapa kali Vanya ingin mengakhiri saja hubungan mereka, tetapi Soka tidak pernah mau.


"Nya bulan besok kan udah libur nih, kita pulang ke Indonesia kan?" tanya Sinta sambil memakan chiki.


"Iya lah pulang. Kan emang tiap liburan semester kita pulang kampung" jawab Vanya.


"Kamu dijemput Soka nggak?"


"Sepertinya iya"


Ting!


Sebuah gambar undangan pernikahan terpampang jelas di sana. Bahkan ada 1 nama yang sangat ia hafal, menjadi sampul dari undangan tersebut.


...ASOKA ARYA PRATAMA...


...&...


...SINDY ADITYA...


Vanya meremas ponselnya kasar, bahkan nafasnya seperti tercekat membaca sampul undangan tersebut. Sinta yang melihat Vanya seperti itu langsung bergegas menghampiri. Sinta merebut ponsel Vanya, membaca dengan seksama setiap kalimat yang tertera dalam pesan tersebut.


"Aku harap kamu datang ke acara pernikahanku dengan calon suamiku"


Sinta ikut emosi membaca pesan tersebut. Tanpa Sinta sadari, saat ini Vanya tengah tersenyum sambil menangis.


'Bukankah namaku yang akan bersanding dengannya? Lalu apa ini? Mengapa justru nama wanita lain yang tertulis di sini?' ujar Vanya dalam hati.


"Vanya, are you okay?" tanya Sinta khawatir.

__ADS_1


Vanya hanya terkekeh kecil, masih dengan air matanya yang terus mengalir.


"Katakan padaku Sin, aku kurang apa dengan Soka heh? Dia yang memintaku berjanji untuk setia, lalu apa ini? Bahkan pernikahan mereka akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Apa salahku Sin?" teriak Vanya hilang kendali.


Sinta langsung memeluk Vanya, berharap bisa meredakan emosi yang sedang berkobar dalam hati Vanya. Seorang Vanya yang tidak pernah bermain cinta, lalu ia percaya bahwa Soka adalah sosok laki-laki yang mampu menyayanginya dengan tulus. Dan sekarang justru Soka menyakiti hati Vanya seperti cinta pertama Vanya dalam hidupnya, yaitu Ayahnya.


"Sudah Nya, berarti Tuhan masih menyayangi kamu. Dia bukan laki-laki yang baik untukmu" ujar Sinta sambil mengelus pelan rambut Vanya.


Ting!


Pesan kembali masuk ke ponsel Vanya. Lagi-lagi sebuah gambar terkirim dari nomor ponsel yang sama. Kali ini foto tersebut adalah foto USG kehamilan Sindy bersama Soka.


Vanya kembali merasakan luka dalam hatinya, merasa kecewa untuk kedua kalinya kepada laki-laki. Bahkan kondisi mental Vanya sedikit terganggu hingga 1 bulan. Bahkan rencana pulang kampung pun mereka batalkan. Hingga akhirnya kondisinya berangsur membaik ketika Sinta selalu mengajak Vanya melihat sunset di tepi Sungai Han.


Flashback Off


"Brengsek" umpat Yoongi mendengar cerita Sinta.


Sinta terkekeh melihat reaksi Yoongi yang terlihat kesal. Sepertinya Yoongi benar-benar menyukai Vanya, pikirnya.


"Apakah Oppa menyukai Vanya?" tanya Sinta pelan.


"Menurutmu?" jawab Yoongi dengan satu alis terangkat.


"Jika Oppa benar menyukai Vanya, ku harap Oppa tidak main-main. Dia sudah trauma dengan laki-laki. Kelihatannya saja dia bisa bergaul, tapi dia juga mudah ilfeel" jelas Sinta sambil terkekeh.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk meluluhkan macan betina itu?" tanya Yoongi.


"Macan betina?"


Sinta yang baru mendengar nama panggilan tersebut tentu saja sangat bingung.


'Siapa yang dia maksud macan betina?' tanya Sinta dalam hati.


"Ya, itu panggilanku untuk temanmu itu" jawab Yoongi datar.


"Ah Vanya rupanya"


"Jika Oppa ingin meluluhkan hatinya, sebenarnya simpel saja. Oppa hanya cukup meyakinkan Vanya bahwa Oppa mampu melindungi dia, dan Oppa berbeda dari mantan Vanya yang brengsek itu"


Yoongi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ia mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan agar bisa mendapatkan hati Vanya.


Tak lama Yoongi pun berpamitan pada Sinta dan melangkah keluar dari cafe tersebut. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka tajam dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2