Satu Tanpa Dua

Satu Tanpa Dua
Pendek


__ADS_3

Setelah Yoongi berpamitan, Sinta memilih mendekat kepada Vanya. Hati Sinta berbunga-bunga bisa mengobrol dengan Yoongi. Lebih bahagia lagi ketika ia tahu bahwa Vanya dicintai oleh laki-laki idaman seperti Yoongi. Siapa sih yang tidak masuk ke dalam sekte Yoongi Marry Me? Bahkan Sinta saja meskipun biasnya adalah Jungkook, tapi ikut serta dalam sekte tersebut.


"Siapa orang tadi?" tanya Kim mengaggetkan Sinta.


"Hah?"


Sinta terlihat begitu kaget. Pertama karena tiba-tiba Kim sudah ada di dekatnya. Kedua karena takut Kim tahu bahwa yang mengobrol dengannya tadi adalah Yoongi.


"Siapa?"


"Oh tadi itu teman kuliah aku sama Vanya" jawab Sinta senatural mungkin.


"Teman kuliah?" tanya Kim memastikan.


Sinta hanya mengangguk sebagai responnya. Karena ia takut jika ia menjawab, malah salah berbicara.


"Kenapa penampilannya tertutup sekali. Seperti idol saja pakai pakaian seperti itu" ujar Kim kesal.


Sinta ingin sekali menjawab bahwa orang tersebut memanglah seorang idol. Bahkan Sinta saja tidak percaya bahwa ia bisa mengobrol dengannya tadi.


"Ah apakah kamu cemburu chagia?" tanya Sinta mengalihkan pembicaraan.


"Kau pikir saja sendiri" jawab Kim merajuk.


"Hey kalian ini sudah dewasa. Pacaran masih saja seperti anak kecil" gumam Vanya sedikit keras sambil melewati mereka.


Sinta dan Kim terperangah ketika menyadari ternyata dari tadi Vanya memperhatikan mereka. Bahkan sekarang Vanya tengah julid pada mereka.


"Jomblo diem deh" sahut Sinta sedikit meledek.


Vanya hanya menjulurkan lidahnya meledek balik kepada Sinta. Hati Vanya memang sudah terkunci ketika hubungan yang benar-benar ia harapkan harus berakhir begitu saja.


"Kamu mau pulang gak? Apa mau nginep kalian berdua di sini?" tanya Vanya sambil terkekeh.


"Nggak lah, ya kali tidur di sini ditemenin nyamuk dong" jawab Kim spontan.


"Ya bagus dong, dari pada aku jadi nyamuk mulu"


Kim dan Sinta justru tertawa mendengar jawaban Vanya. Ya memang benar, selama ini hubungan Kim dan Sinta banyak melibatkan Vanya.


"Aku ngajak Sinta main dulu ya. Kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan? Ah pasti aman si, mana ada yang mau nyulik macan galak kaya kamu" ujar Kim.


Vanya spontan melototkan matanya mendengar perkataan Kim. Bisa-bisanya wanita seimut itu dibilang galak.


"Seperti nggak biasanya saja kalian ini" jawab Vanya pada akhirnya.


Vanya memutuskan untuk mampir ke supermarket dekat cafe terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemen. Ia ingin membeli beberapa kebutuhan dan cemilan.


***


Vanya berusaha menggapai sebuah cemilan yang terletak begitu tinggi dari posisinya. Vanya sampai berjinjit tapi tetap saja tidak sampai.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah tangan terjulur mengambil cemilan yang Vanya inginkan.


"Kamu ingin mengambil ini kan?" tanya seseorang sambil menyodorkan snack tersebut.


"Ah terima kasih" balas Vanya sambil menerima snack tersebut.


"Ah beruntung sekali aku bisa bertemu dengan perempuan yang lebih pendek dariku" ujar seseorang tersebut yang ternyata seorang laki-laki.


"Apakah maksudmu aku begitu pendek?" tanya Vanya spontan sedikit kesal.


"Aniyo, aku sering berfikir aku lah orang yang paling pendek. Bahkan kebanyakan perempuan di sini juga lebih tinggi dariku"


Vanya melihat postur tubuh laki-laki tersebut. Padahal jika diukur, tinggi laki-laki tersebut sekitar 174 cm. Sedangkan  tinggi badan Vanya hanya 156 cm. Tentu saja jarak yang begitu terlihat ketika berdiri sejajar seperti ini.


"Lihat! Bahkan tanganku begitu mungil bukan?" tanya laki-laki tersebut menunjukan jari-jari tangannya.


"Itu menggemaskan" jawab Vanya sambil berlalu pergi dari hadapan laki-laki tersebut.


Vanya kembali mencari sesuatu yang ia butuhkan. Setelah merasa cukup, ia langsung bergegas menuju ke kasir.


"Maaf nona, belanjaan Anda sudah dibayar oleh laki-laki tersebut" ujar seorang kasir sambil menunjuk ke arah laki-laki yang sedang membuka pintu mobilnya.


Vanya mengucapkan terima kasih dan langsung berlari menyusul laki-laki tersebut.


"Hey tunggu"


Laki-laki tersebut menurunkan kaca mobilnya dan membuka kaca mata hitamnya.


"Aku akan mengganti uang belanjaanku tadi" jawab Vanya sambil mengeluarkan dompet.


"Ah tidak usah nona. Itu sebagai tanda terima kasih untuk nona pernah menyanyikan laguku dengan begitu manis"


"Lagu?"


Vanya begitu kebingungan dengan apa yang dikatakan laki-laki tersebut. Bahkan Vanya saja tidak mengenalnya sama sekali. Apakah dia seorang penyanyi? Atau mungkin artis? Atau bahkan seorang idol?


"Apakah kita pernah bertemu? Maaf jika aku lupa" tanya Vanya bingung.


"Ya, lebih tepatnya aku berada di sebelahmu tanpa kamu sadari beberapa waktu lalu"


Vanya semakin bingung dengan perkataan tersebut. Vanya memang pelupa jika tentang wajah orang yang belum ia kenali, mungkin apa yang laki-laki katakan itu benar.


"Oh iya, lebih tampan mana antara aku dan Jimintul si musuh masa kecil temanmu itu?"


Vanya membeku mendengar pertanyaan itu. Bagaimana bisa ia tahu tentang Jimintul? Bahkan satu negara Korea ini mungkin yang tahu hanya Vanya dan Sinta.


Tanpa menunggu jawaban Vanya, laki-laki tersebut langsung pamit dan perg meninggalkan Vanya. Bahkan Vanya masih membeku dan belum mengucapkan terima kasih kepadanya.


****


Vanya langsung menata belanjaannya, dan bergegas membersihkan wajahnya. Tak lama setelah Vanya pulang, ternyata Sinta juga sudah pulang.

__ADS_1


"Kamu belanja Nya?" tanya Sinta melihat beberapa snack tertata di meja.


"Hmm" jawab Vanya singkat.


Sinta tanpa basa-basi membuka sebuah snack dan langsung memakannya. Vanya yang melihat hal tersebut langsung memasang wajah julid.


"Dih main ambil"


"Bodo amat" jawab Sinta masih terus mengunyah makanannya.


Vanya mendekat dan berniat meminta sedikit snack yang sudah dibuka tersebut. Namun hal itu langsung ditepis oleh Sinta.


"Itu kan masih ada, tinggal buka lagi aja" ujar Sinta yang tidak mau snacknya diminta.


"Dih, aku yang beli kok malah kamu yang ngatur" jawab Vanya sambil membuka snack yang baru.


Sinta memilih tetap melahap makanannya tanpa menjawab perkataan Vanya. Jika dijawab yang ada malah debat terus sampai besok pagi.


"Oh iya Nya. Kalo semisal nih ada yang suka sama kamu, itu akan kamu terima nggak?" tanya Sinta membuka topik pembicaraan.


"Lagi nggak minat cinta-cintaan" jawab Vanya asal.


"Apa kamu masih mengingat Soka? Kamu belum bisa move on?"


Vanya yang mendengar hal itu spontan berhenti mengunyah dan menatap Sinta datar.


"Ngga usah sebut nama itu lagi" ketus Vanya.


"Okey. Tapi kalau yang suka sama kamu itu laki-laki idaman berjuta wanita di seluruh dunia, bagaimana?"


"Tunggu, aku mengkhayal dulu" jawab Vanya sambil terkekeh.


"Aku serius ih"


"Emang siapa si yang bakalan suka sama aku. Aku loh udah nggak cantik, nggak kaya, nggak pinter"


"Nggak tinggi" lanjut Vanya sedikit kesal mengingat kejadian tadi di supermarket.


"Kalau Yoongi Oppa suka sama kamu gimana?"


Vanya justru terkekeh mendengar perkataan Sinta. Omong kosong apa lagi ini.


"Impossible" jawab Vanya cuek.


"Kan tadi aku bilang semisal"


"Iya tapi kan itu tidak mungkin"


"Tapi Yoongi Oppa memang suka sama kamu Nya"


Vanya yang tengah menelan snacknya tiba-tiba tersedak. Tenggorokannya terasa begitu perih karena batuk terus-terusan.

__ADS_1


__ADS_2