Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Bakso Harum Kuro


__ADS_3

Kabar kelumpuhan Tumiem melirik pandangan warga karena melihat bisnis usahanya yang semakin maju. Kali ini rumah makan bakso yang kabarnya memiliki cita rasa lezat itu membuka lowongan pekerjaan secara besar-besaran. Fasilitas kos-kosan yang gratis, uang gaji dua kali lipat dan transportasi gratis pulang pergi ke kampung halaman. Tawaran kerja yang menggiurkan Nampak menjanjikan, banyak para pelamar kerja antri panjang di depan lahan kosong dekat rumah Bangka.


Berkisar ada dua puluh pekerja baru. Pakaian segaram, arahan kebersihan jualan dan kewajiban hadir satu kali dua puluh empat jam. Rumah makan tidak pernah sepi pembeli, beberapa warga mengaitkan bakso harum kuro sama ramainya dengan restaurant Joko.


“Kamu yakin bekerja disana? Entah mengapa hati ibu tidak tenang” ucap Ani melepas kepergian anak laki-lakinya.


Dia tidak mau menceritakan mimpi buruknya karena berharap hal itu hanya lah mimpi belaka. Bakti mengisyaratkan kepergian selamanya pada ibunya yang berkali-kali mencium punggung tangan ibunya hingga meminta maaf.


“Sudah-sudah, kamu kan tahun depan pulang.”


Calon yang di nanti iblis pesugihan.


Salah satu karyawan muda yang barus aja menyelesaikan sekolah jenjang SMA. Dia berharap mengubah nasib, bekerja mengumpulkan uang mengirimi ibunya yang di kampung. Pagi yang mendung, rombongan bus berhenti menurunkan tambahan lima orang karyawan. Di depan rumah yang sangat besar mereka di sambut seorang wanita tua yang menunjukkan kamar masing-masing. Lantai bawah keseluruhan khusus untuk para pekerja. Terlihat wanita yang tampak seperti sedang menangis menunjuk Bakti. Wajahnya ketakutan , dia berteriak histeris menarik pandangan para pekerja lain.


Mbok Pahing merapikan selimut tebalnya yang terlepas menutupi kakinya. Dia mendorong kursi roda terakhir kali melepaskan senyuman ke para pekerja yang masih antri menunggu arahan selanjutnya. Mereka di beri jadwal piket membersihkan rumah, rumah makan dan halaman secara bergantian. Ada yang aneh di pandangan Bakti, setiap para karyawan di wajibkan meminum air yang di sediakan dia atas wadah mirip tampah bulat dari bambu.


“Ini untuk apa pak?” tanya Bakti.


Semua karyawan tidak ada yang berani menanyakannya. Dia ragu meminum minuman itu hingga pak Urat memaksa minum menghabiskannya. Satu juta rupiah yang di terima sebagai uang muka gaji pertama. Banyak para karyawan kesenangan menerima uang itu. Pancingan kecil dari Bangka agar karyawan merasa betah dan menunggu gaji yang lebih besar. Joko menjadikannya santapan makhluk jin pesugihannya memilih dengan bebas karyawan mana yang dia inginkan.


Air yangs udah di campur air liur setan. Sosok iblis monyet raksasa menghabiskan pisang satu tandan , dia mengeluarkan suara yang terkadang di dengar para karyawan Joko.


“Kamu dengar suara monyet nggak Man?”


“Nggak. Aku baru sadar kita kerja dua puluh empat jam non stop. Waktu istirahat hanya di hari sabtu, hari lain waktu tidur hanya empat jam sesuai piket yang di buat di papan pengumuman” kata Egi mengernyitkan dahi.


“Aku sayup-sayup dengar. Masalah tidur, kita dapat kebebasan cuti satu minggu dalam satu bulan. Aku rasa itu seimbang dengan jatah tidur yang tipis” kata Bakti yang mulai tidak tenang merasa sekujur bulu kuduknya merinding.

__ADS_1


Juru kuncen melarang keras Joko membuka warung di hari kesialan yang mereka yakini. Hari sabtu merupakan hari menakutkan, ganjil dan sangat jarang ilmu hitam bisa melayangkan mantra. Bakti memperhatikan mbok Pahing sibuk menabur bunga di wilayah rumah makan. Dia juga tampak keberatan membawa satu tandan pisang.


Berjalan di tengah malam, Bakti yang terbangun melihat keluar tanpa sengaja melihat semua keganjilan itu. Dia berlari mengikuti arah jalan wanita tua yang baru saja dia kenal tadi pagi. Tapi, ketika sampai di dekat patung besar berbentuk monyet. Wanita itu menghilang, pandangan Bakti mencari ke sekeliling.


“Kemana perginya mbok pahing?” gumamnya.


“Cari siapa?” suara datar wanita itu mengagetkannya.


Bakti terkejut, dia menekan jantungnya yang hampir terlepas. Darahnya sedetik menghilang, wanita tua dingin menyeramkan menakutinya.


“Maaf mbok, tadi saya pikir mbok__”


“Kamu tidak perlu mau tau semuanya! Haaahhh!” suara serentak ramai keluar dari rongga mulutnya.


Tepukan kecil menoleh melihat mbok pahing mengulang perkataan yang sama. Barka berlari sekencang-kencangnya. Dia masuk ke dalam kamarnya. Egi dan Maman kebingungan melihat apa yang dia lakukan.


“Kamu kenapa Bak?” tanya Egi terbangun dari tidurnya.


Mimpi Bakti berlanjut di dalam tidurnya. Dia membuka mata melihat tubuhnya di rantai sosok makhluk besar berwujud monyet. Tubuhnya luka-luka, organ tubuhnya bolong mengeluarkan darah berwarna hitam. Barka di dorong sosok monyet lain berjalan mengangkat batu besar. Bangunan batu setinggi-tingginya menjulang ke atas langit. Egi dan Maman mengguncangkan tubuhnya. Baru saja beberapa menit terlelap dia meracau dalam tidurnya.


......................


Dodo melarang keras, jika anak-anak dan keponakannya kembali ke rumah makan milik Joko. Begitu pulan dengan Mala yang tiba-tiba memarahi anaknya. Kematian Galang masih tergurai jelas di ingatan. Dia pernah meninggal di gudang rumah Joko. Dahulu usaha rumah makan itu tidak sejaya sekarang, kehidupan mereka meningkat mendengar cerita kusuma kalau Joko ke gapura Monyet beberapa bulan silam.


Cerita Galang yang pernah di coba di hidupkan kembali hampir menggemparkan warga kampung. Waktu semasa Galang berumur dua belas tahun. Kusuma menangis melihat anaknya terbujur kaku di dalam ruangan yang gelap. Untuk yang terakhir kali Galang dia peluk erat. Sepanjang malam Kusuma menangis memeluk jasad anaknya. Tidak ada yang boleh memisahkan dia dengan anaknya. Para kelurga terkejut ketika pagi hari Kusuma menghilang bersama mayat anaknya.


Tahun silam yang terlewati.

__ADS_1


Hubungan ibu dan yang tidak pernah akur setelah Kusuma menikah lagi. Galang lebih sering lama pulang sekolah. Pada jam istirahat terakhir, dia tidak sabar menunggu bel mengayuh sepeda sejauh perjalanan satu jam. Dia menyempatkan ke kuburan orang ayahnya. Galang sering bercerita hingga larut malam. Amarah Kusuma di anggap angin lalu.


“Pokoknya kalau kamu masih mau ibu anggap anak, jangan membantah!”


“Ibu kenapa nggak pernah ngerti perasaan Galang!” anak kecil itu berlari masuk ke dalam kamar.


Dia menulis surat kepergian dan menggantikan sebuah robot kesayangannya.


Teruntuk Ibu, aku pergi dari rumah biar nggak buat ibu susah dan marah-marah lagi. Galang janji akan jaga diri baik-baik. Robot kesayangan Galang akan menemani ibu setiap hari.


Galang.


Membawa dua lembar baju, botol air minum dan satu plastik coklat bulat berwarna-warni. Dia keluar dari jendela, perlahan pergi menaiki sepeda. Pagi ini sebelum melakukan petualangan dia di panggil Joko agar sarapan pagi bersama-sama di rumahnya.


“Tapi Galang buru-buru paman” ucapnya mengelak.


“Sedikit saja. Bibi kamu masak bubur ayam hari ini. Paman lihat kok kamu banyak bawa barang di dalam tas. Ada kegiatan apa di sekolah?”


“Iya paman, makanya Galang buru-buru. Oh ya paman tau alamat ini nggak?” tanya Galang menunjukkan sebuah foto usang yang tertulis alamat di baliknya.


“Oh, alamat ini dekat pemakaman ayah mu. Rumahnya gang yang beberapa jarak dari taman halilian. Kenapa kok kamu tanya alamat ini? Ini foto ayah kamu sama sahabatnya pak Doni”


“Galang hanya penasaran saja kok paman..”


Karena di paksa sarapan, Galang terpaksa masuk ke rumahnya. Dia melihat sosok besar berwarna hitam mendekat. Makan bersama di meja makan bersama bibi dan paman. Dia betah berlama-lama di rumah itu. Selesai makan dia berkeliling melihat kolam ikan mini yang ada di belakang rumah. Galang merasa ada yang memanggil, dia berjalan ke gudang. Kepalanya terbentur kursi sampai terjatuh dia atas lantai yang terbuat dari papan.


Galang terbangun, dia melihat sosok aneh di depan pintu. Makhluk itu menghalangi Galang keluar. Lemparan barang-barang yang ada di dalam gudang. Di belakang ada yang menyentuh telinganya. Dia menjerit ketakutan, jatuh terduduk bersembunyi di dalam satu lemari yang rusak.

__ADS_1


Mencari celah lolos dari kejaran makhluk yang mengejar. Galang memanggil paman dan bibinya. Rumah itu tiba-tiba kosong total. Galang kembali mengayuh sepeda, dia melirik ke belakang melihat rumah di penuhi puluhan makhluk menyeramkan.


Dia berhenti di tengah jalan, ada sosok makhluk kerdil tepat di depannya. Dia terjatuh tertimpa sepedanya. Langit mulai gelap, keanehan selanjutnya Galang tidak merasakan semilir angin sedikitpun berhembus. Dia duduk di depan terminal bus. Beberapa menit berlalu bus berhenti, Galang bergegas masuk mencari tempat duduk. Di dalam banyak orang-orang bertingkah aneh.


__ADS_2