Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Kematian mbah Ireng dan Tanto


__ADS_3

Berpikir penyakit yang di derita Bu Tumiem adalah penyakit serangan ghaib. Indro memanggil sosok orang yang mereka pikir ahli dalam menangani pengobatan nonmedis. Di ruang tamu, Tumi berbaring merindih kesakitan. Sosok pria berpakaian hitam yang membawa pisau bengkok itu mengasapi dengan dupa. Mantra yang di ucapkan, semburan larva dan di sela tangisannya.


“Tahan tangannya!”


Tumi seperti orang kesurupan, bola matanya berputar. Kepala ikut berputar tiga ratus enam puluh derajar membuat beberapa tetangga yang melihat keadaannya berlari ketakutan. Ada yang sampai keluar melompati jendela.


“Ini bukan santet biasa. Dia bisa mati!”


“Apa maksud mu mbah ireng? Cepat sembuhkan istri ku!” ucap Bangka yang tidak tenang.


“Istri ku ini kenapa? Setelah pulang dari tempat pesugihan dan makan ayam hitam jadi berubah seperti itu. Apa karna pesugihan ini?” gumam Bangka.

__ADS_1


Tumi melakukan tingkah gerakan seperti hewan. Dia merayap di dinding, kakinya mengeluarkan suara patahan tulang. Sedetik dia tidak sadarkan diri lalu mengamuk mencekik mbah ireng hingga meninggal dunia. Berhasil membunuh penghalang para penyembahnya, sosok jin siluman kera keluar dari tubuh Tumi. Kematian dukun besar menggemparkan perkampungan.


Mbah Ireng hidup sebatang kara. Rumahnya yang selalu di hinggapi burung gagak dan hantu membuat para warga memutuskan memandikan jenazahnya hingga seluruh proses mengkain kafaninya. Siraman air dari keran masjid. Mayat itu bergerak sendiri, para pria yang memandikannya pergi meninggalkannya sendirian.


“Tolong!”


“Tolong pak ustadz, mayat mbah ireng hidup lagi!”


“Kenapa di tinggal sendirian. Bapak-bapak, kita harus memastikannya sekarang."


Pukul satu malam, kuburan yang baru selesai di gali mengeluarkan aroma anyir. Sorot lampu senter salah satu penggali kubur tidak melihat apapun di dalamnya. Banyak yang meyakini mbah Ireng memiliki banyak gaman atau ilmu pegangan.

__ADS_1


“Sudah aman belum?” bisik salah satu pria yang bersembunyi di balik kuburan besar bertingkat.


“Belum. Hush, jangan berisik. Nanti kita ketauan.”


Dua pria tidak sabar membongkar kuburan mbah Ireng untuk mengambil benda-benda yang tersimpan di tubuhnya. Melihat orang-orang mulai meninggalkan kuburannya. Jajah dan Tanto mulai melakukan ritual pengambilan benda ghaib dari bantuan mbah Kumis.


Bola mata kanan ada sebuah benda mustika berwarna merah. Jajah dan Tanto tertawa mendapatkan benda yang mereka cari. Sebuah keris yang terbang di atas kuburannya mereka tangkap. Namun, Ketika penutupnya di buka oleh Jajah. Keris itu mengarah ke Tanto menusuk perutnya.


“Aku tidak sengaja melakukannya. Keris ini terbang sendiri!”


Jajah ketakutan di jadikan tersangka. Dia meninggalkan Tanto begitu saja, pandangan mata melihat ke kanan dan kiri. Berlari ke rumah mbah Kumis, dia bersujud meminta bantuan setelah menceritakan kematian Tanto. Mbah kumis menutup pintu, penerangan ruangan sebatang lilin kecil dekat meja ritualnya. Dia memanggil keris milik mbah ireng. Benda ghaib itu terbang masuk mengikuti tangannya masuk ke penutupnya.

__ADS_1


“Tolong saya mbah!” ucap Jajah kembali sambil menyatukan kedua tangannya.


“Jangan khawatir, kau tidak membunuhnya. Keri situ memangsa mencari korban karena kehilangan tuannya. Tidak ada lagi yang mengendalikannya. Sekarang keris ini jadi milik mu. Ambilah.”


__ADS_2