
“Jadi indera penciuman mereka pasti tidak akan mengetahui keberadaan kita pak. Ayo kita usap lebih banyak lagi”
“Ampun pak Dimas, saya bisa pingsan!”
Mereka berjalan merangkak, mencari celah meraba jalan tanpa penerangan. Celana Wala tersangkut, dia meringis tidak berani melihat ke belakang. Pikirannya sudah kacau balau, suara menggenggam tangan Dimas. Mulut terkunci, dia pasrah menunggu monyet membunuhnya.
“Pak Liman, celana mu tersangkut!” bisik Dimas.
Dia mengelus dahi, menarik paksa celana merobek sampai ke paha. Monyet berpencar, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Menerobos semak belukar, para guru itu berhasil mengelabui monyet-monyet yang melewati gapura.
Semua guru berkumpul di halaman, hanya pak Dimas yang belum kembali.
“Loh, bukannya tadi dia besama saya. Pak, buk, ini buktinya kalau pak Geha membantu celana saya yang tersangkut batang pohon” ucap Wala kebingungan.
“Kita harus menyusulnya, pak Dimas kan lelaki tulen yang belum menikah. Bisa-bisa..” Lele menghentikan ucapannya.
“Jangan berkata seperti itu bu yang penting kita semua sehat wal’afiat tanpa ada kekurangan apapun!” jawab Teja.
Semuanya bersiap masuk bersama-sama ke sarang monyet, jalan tembusan potongan ke jalan tempat pesugihan. Dimas menyembulkan kepada di balik semak, gerakan cepat berlari masuk ke dalam mobil.
“Bu Nana, kalau tidak ada halangan kami besok akan menjenguk lagi. Semoga ibu cepat sembuh ya.”
Di dalam perjalanan kembali ke rumah masing-masing.
Kaca mobil di tutup rapat, sorot lampu jarak jauh dan suara klakson setiap melewati belokan maupun jalan sepi. Tidak ada yang berani angkat bicara, terutama Lilia yang sedari tadi sibuk di depan layar ponsel. Dia menunggu kabar Aryo menjemputnya. Insiden makan dan minuman buatan setan, penampakan monyet dan gangguan magis lainnya, menambah ketakutan kejadian apa selanjutnya yang terjadi di sekolah itu.
__ADS_1
“Bapak dari mana? Kami tadi berinisiatif menjadi sampai ke sarang monyet” ucap Geha.
“Saya juga tidak ingat pasti pak. Di pikiran saya Cuma satu, bisa terlepas dari pengejaran monyet.”
Masuk atau keluar wilayah itu, sepanjang pinggiran rumah yang berjarak sangat jarang memiliki keanehan yang berbeda-beda. Daerah itu termasuk kota besar, tapi banyak pepohonan dan gaya hidup masyarakat masih percaya dengan hal-hal mistis.
“Awas ayam pak Geha!” teriak Lele.
“Haduh kacau! Menabrak ayam sesajian pasti membuat kesialan. Engkau berhati-hati saja pak, jangan sampai kena apes karena menabrak mati hewan sebagai bahan sesajian piring-piring besar itu” ucap Wiro.
“Dasar si pak Wiro sableng. Bilang aja masuknya mau mengatakan aku kena sial jadi nya di masa depan sangat sulit mendapatkan jodoh!” gumamnya berjalan ikut keluar melihat ayam mati itu.
Tapi keanehan tidak melihat ada ayam mati yang mengenai mobil. Di alam lain, mereka menabrak bangsa halus yang meminjam tubuh anak manusia untuk menyantap sesajian.
“Tidak ada apapun, aym tadi tiba-tiba saja menghilang!
“Kita telah berpencar berkali-kali. Tapi memang tidak ada bangkai di sepanjang jalan depan, belakang, dan juga sisi kanan , kiri” Lele berjongkok. Dia mulai merasakan tubuhnya berat sebelah. Menekan bagian punggung dan pundak. Tidak tahan menahan tubuh, Lele duduk sambil memijat kakinya.
“Ayo bu Lele. Bapak ibu, sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan ini. Kita segera kedalam mobil” kata bu Bana.
Penyakit yang di derita Nana menunjukkan bukti nyata. Lambung mereka masih bergejolak. Angin perlahan menghadirkan sosok tinggi besar mengikuti di malam hari. Melihat dari kaca mobil, penampakan memperlihatkan mata semua yang ada di dalam mobil. Baru kali ini seumur hidup pak Geha melihat mengetahui bentuk makhluk halus berwujud maupun tidak.
“Cepat sedikit pak Dimas. Monyet-monyet aneh mulai menampakkan diri sebagai pengganggu atau membuat orang kesurupan” Geha tidak tenang menggeser posisi duduknya lebih menjauh ke jendela.
“Sempit banget pak! Duhh. Geser sedikit!” pak Wala terhimpit di bagian tengah kursi.
__ADS_1
Lele menggaruk tangannya yang membusuk di bungkus perban. Dia tidak tahan merasakan gejolak di perutnya yang sempat mereda. Memukul-mukul kursi mobil, dia meminta Dimas menepi. Sebelum pintu mobil terbuka, dia memuntahkan semua isi perutnya. Cahaya mobil yang di hidupkan di dalam menampakkan cacing menggeliat. Semua yang di dalam terkejut, berlari keluar ketakutan. Bu Bana di dorong pak Wala yang tidak sadar telah berdiri tepat di tengah jalan.
“Awas bu Bana!”
“Hueekkk__” Bana mengeluarkan isi perutnya. Penampakan hewan menggeliat yang sama dengan Lele.
“Arghh!” teriak Bana sebelum jatuh pingsan.
Pengobatan jalur ruqyah. Semua guru tiba di mushola tepat pukul 20:00 WIB. Dimas setengah gemetaran menyetir mobil di temani Wala yang wajahnya sangat pucat. Meminta bantuan pada ustadz Zaki. Mereka mengiringi jalan pak ustadz dari belakang. Meyakini mereka akan sembuh, ustadz Zaki terkejut merasakan makhluk halus ganas di dalam sekolah.
“Kenapa ustadz mematung di depan mushola? Dia memandang ke atas. Apa ustadz juga bisa kesurupan?” bisik pak Wala.
“Jangan berbicara gitu pak. Aku jadi ikut mau mual. Kemungkinan besar kita semua yang kesurupan” jawab Teja memegangi perutnya.
Ruqyah satu orang saja membutuhkan waktu satu sampai dua jam. Belum lagi menghadapi iblis nekad masih mau tinggal di dalam tubuh manusia. Makhluk jahanam itu tidak memperdulikan merasa kepanasan mendengar ayat-ayat suci Al qur’an. Iblis terbuat dari api, tapi iblis tidak sanggup melawan kebesaran Allah yang Maha esa.
Iblis, setan, jin kafir makhluk pembangkang yang tidak taat kepada Allah. Mereka menyesatkan manusia, membisikkan rayuan dan godaan sampai manusia terperosok di dalam lubang neraka. Penemuan salah satu tempat di dunia nyata mengenai pintu masuk gerbang neraka yang selebar lebih dua ratus tiga puluhan kaki dan ke dalaman hampir seratus meter berkobar membara menunggu para manusia masuk ke dalamnya.
Bu Lele kejang-kejang, pupil mata memutih mengeluarkan cacing panjang dari sudut mata. Dia menangis menarik cacing yang menggeliat. Beberapa menit kemudian, tubuhnya terjatuh di tangkap pak Diman. Semua guru melakukan ruqyah berjamaah. Ustadz Zaki memimpin do’a, keanehan terjadi terdengar suara tangisan bu Bana di susul guru lainnya.
Brukk_ Pintu mushola terbuka lebar. Tuja berdiri bertolak pinggang memamerkan kesombongan dan keangkuhannya. Dia memvonis perkumpulan kegiatan yang tidak sehat mengatasnamakan kerasukan. Cara kasar membubarkan guru-guru, ustadz dan rekannya mirip orang mengusir.
“Apa-apaan ini bapak ibu? Oh ada pak ustadz dan pak Diman. Kenapa tidak konfirmasi ke saya kalau ada pertemuan? Apa memang sengaja di atur sembunyi-sembunyi?” kata Tuja dengan mengangkat kepalanya.
“Maaf pak, saya di panggil bapak/ibu guru. Maaf jika bapak keberatan saya disini. Saya mohon pamit”jawab ustadz Zaki sambil tersenyum.
__ADS_1
“Apa dia sudah gila? Pak Tuja benar-benar orang yang tidak punya tata krama” gumam Wala.